Sajak-sajak Shohifur Ridho Ilahi

Sajak-sajak Shohifur Ridho Ilahi

438
0
Ilustrasi/Sumber: lapetitegaleriefrancaise.se

penyaru
:W

katanya kamu akan menyaru sebagai angin
bertukar ingin dengan dingin
agar kamu bisa menyampaikan pesan
pada gadis di bangku kafe seberang taman
bahwa kopi yang baik
seharusnya mengingat butiran gula
dan melupakan sari vodka

“lebih baik pesan teh atau jus alpukat
supaya lebih memikat
dan kamu bisa terhindar dari sesuatu yang pucat”

eh, katanya kamu sudah siap
dan segera melepas tatap
tapi mengapa gadis itu tetap saja memesan kopi
meski hidup tak sepenuhnya mimpi
meski kursi di hadapannya selalu sepi

2014

 

pewaris

apa yang belum kita persiapkan untuk negeri yang bersiap tumbuh
di penghujung subuh?

jika kamu sejenis sisa luka dari penaklukan masa silam
maka saya ingin mencintaimu sebagaimana sejarah
selalu meminta darah

kelak akan kamu pinjam kitab-kitab saya
:bekas perang yang belum lama usai itu

ceritakan pada saya bagaimana mungkin masa lalu
meneriakkan dirinya dengan suara paling merdu
sementara senjata selalu kamu sebut rindu
dan perang kamu anggap sore yang datang bagai doa ibu

apapun yang kamu bayangkan tentang sebuah penaklukan
saya tetap ingin menyebut namamu seperti para sufi membaca kitab-kitab suci
dan akhirnya kamu masih sebuah negeri yang kelak tumbuh sebagai bahasa puisi
dan saya masih reruntuhan kata-kata yang mencari makna dan isi

2013-2014

 

penakwil

di muara segalanya menjadi lebih tiba-tiba
angin meniupkan bahasa para filsuf tua
yang merenungi hakikat gua garba

pada jiwamu yang kelabu
adakah sajakmu termaktub di situ?

bicara tentang kalam
dan bagaimana dingin sesungguhnya menikam
atau membaca serat daun saat kita bersentuhan
saat kita memulai sebuah penaklukan
sesungguhnya perang batin yang dibunyikan alam

hingga subuh turun dari gunung
dan matahari terbit dari ubun-ubun
apa yang kita sebut ingatan
adalah bahasa para filsuf tua yang dibekukan

2013-2014

 

penyair

ia bisa menyiapkan segalanya
pisau bagi luka dan puisi bagi yang terluka

ia yang sakti dan ia yang diberkati
menulis puisi yang kelak disebut janji

ia ingin menjadi lebih bijaksana
seperti semesta yang ditiupkan bahasa

ia merenungi segala bentuk dan inti
tuan, bahasa apakah yang paling rendah hati

kata-kata, begitulah ia akan mewarta
untuk ia yang selalu menyebut dirinya siapa

bila sepi sebuah rumah suci
dan mimpi adalah hakikat birahi
maka puisi sesungguhnya ia sendiri

2014

 

pendaki

mulanya sebuah bukit
kami menyebutnya daging ajaib
serupa padang paling gaib

suatu kali kami pergi dan mendaki
sejenak istirahat dari sepi
dari sesuatu bernama barangkali

seperti penyair kami berzikir
meminta hangat selain susu dan air
yang biasa hadir paling akhir

2014

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY