Sajak-Sajak Zelfeni Wimra 2

Sajak-Sajak Zelfeni Wimra 2

414
0
Ilustrasi/Dok.Istimewa

Sajak Surau Patah Tiang

Kami jabat surau ini
pengisi musim yang berlepasan dari jantung kami
surau patah tiang
tumbang menjelang hari raya terang

Di remang mihrab, masih ada yang tegak
menggumam barzanji:
ke surau adik ke surau
ke surau membasuh kaji
risau bersambut rarau
alif kami tak lagi berdiri

2012

Kampung Tak Bernabi

Perkampungan kembali tenang
setelah ayat terakhir alfatihah diaminkan
lidah kami berhenti pada alif lam mim
tiga huruf berangkulan dalam rahasia
mereka tidak sempat jadi kalimah.
kata alif: aku tak sanggup berdiri di titik kesendirian
ucap lam: kau masih menjauh tak terjangkau tubuhku
mim pun berseru: rajah aku lam. aku kedinginan.

terdengar ada yang berdentang
teperti gemerincing lonceng
menjelang Jibril turun mengurai misteri kalam
tapi di kampung kami ini kini tiada lagi yang bisa kami panggil nabi

2012

Ode Liris Inyiak Guru

Jalan ini tak lagi sunyi, Nyiak
langkah kami kadang mirip derap kuda perang yang berlari kencang
tapi jiwa kami, entah mengapa, memendam rintihnya sendiri
meredam ringkiknya sendiri

Melengkapi hidup di sini adalah menyulam wajah iba guru tuo
menggenggam gigil di ujung jarinya
denyut yang canggung
kitab-kitab kuning telah memutih
gema suara debat mengabu di rusuk surau
tahlil dan kunut ditabukan
segalanya bertaburan jadi bid’ah
memenuhi udara bagi paru-paru kami yang sesak
dan dongeng tentang surau yang roboh menjadi dendang
menghiasi irama siul menjelang kami membuka pintu toko

Seperti eskalator yang kami tapaki setiap berkunjung ke pusat perbelanjaan
madrasahmu berputar-putar mengantar santri mengaji laba-rugi
gambar mihrab hangus terbakar menato kuduk kami
lalu namamu terukir di buah kalung yang kami pakai ketika bernyanyi
dari panggung ke panggung
dari televisi ke televisi
di dada dan punggung kaos oblong kami
dari situs ke situs
dari dinding ke dinding
dari halaman ke halaman akun sosial kami

Ya, jalan ini memang tidak lagi sunyi, nyiak
kami sudah pandai meramaikannya
dengan desiran rintih dan ringkik
pada artefak akal kami

2014

BERBAGI
Artikel sebelumyaOrang Minang dan Arabisasi Akun Facebook
Artikel berikutnyaCelana Cingkrang dan Tradisi Kenabian
(lahir di Nagari Sungai Naniang, Bukit Barisan, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, 26 Oktober1979) adalah seorang cerpenis, penyair, dan penggiat teater Indonesia. Namanya dikenal melalui karya-karyanya di sejumlah media lokal di Sumatera Barat dan beberapa media nasional. Aktif menulis sejak tahun 1990-an, beberapa puisi dan cerpennya masuk dalam sejumlah antologi bersama sejak tahun 2000. Menyutradarai sejumlah pertunjukan teater; dramatisasi dan musikalisasi puisi sejak masih menjadi mahasiswa di Teater Imambonjol. Pegiat Komunitas Kajian seperti Magistra Indonesia dan Mantagi Institute, sejak 2006. Pengantin Subuh adalah kumpulan cerpen pertamanya dan masuk 10 besar Khatulistiwa Literary Award (KLA) pada 2009. Penghargaan yang sama kembali ia terima lewat kumpulan cerpennya Yang Menunggu dengan Payung pada 2013. Ia menyelesaikan pendidikan S-2 di IAIN Imam Bonjol, Padang pada 2011. Sebelumnya, ia pernah mengenyam pendidikan di Madrasah Tarbiyah Islamiyah Tabek Gadang (tingkat tsanawiyah 1992-1996) dan Madrasah Tarbiyah Islamiyah Pasir IV Angkek Canduang (tingkat aliyah 1996-1999). Bukunya yang sudah terbit: Pengantin Subuh (Buku Kumpulan Cerpen, Jakarta: LPPH, 2009); Air Tulang Ibu (Buku Kumpulan Puisi, Yogyakarta: Pusakata, 2012); Yang Menunggu dengan Payung (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2013). Sekarang mengabdi di Fakultas Syari’ah IAIN Imam Bonjol Padang. Email: zelfeniwimra@gmail.com

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY