Sajak-Sajak Zelfeni Wimra

Sajak-Sajak Zelfeni Wimra

373
0
Ilustrasi/absolutearts.com
Ilustrasi/absolutearts.com

Tarwih Akal

Sehabis menarwihkan mata
kau ajak aku mengimami akal yang lusuh
digerus pergesekan dada kiri dan dada kanan
rongga ini lebih hiruk dari segala macam peperangan
dan akal kita lebih sibuk dari mesin pesawat tempur, bisikmu

Setelah merapal sujud sahwi
kau ajak aku membenarkan letak setiap anggota tubuh yang berdetak
kita sering lupa akal di mana kita rumahkan
di dada atau kepala?
lupa juga, di mana kelak ia kita makamkan

2012

Antara Dua Sujud

Sujud pertamaku jatuh
di belantara huruf  berbaju rindu
dalam kalimat pembuka bukumu
aku menjelma jim, perantau yang terbuang
dari halaman rumah ibu
sebelum sempat mengada
badan tersungkur ke dimensi beku
ke cakrawala tanpa gera
tanpa bunyi

Apa alasanmu merentang jarak
seakan yang paling hakiki hanyalah perpisahan?

Kesepianku ditambah kesepianmu
kepedihanku ditimbun kepedihanmu
kerinduanku diimbuh kerinduanmu
sepanjang kurun dibubuhi asam-garam
hubungan kita telah menciptakan galaksinya sendiri
ruang hampa udara; hampa indera

Kau tetap saja merahasiakan diri
bersembunyi di relung gelembung
gelembung nafas yang karam di ujung arus jantung
aku hanya mampu menandai setiap detak rindu yang ragu
memuasakan sejinjing kehendak bersua

Sejak kapan kita punya hubungan?

Belum sempurna aku menafsir
aku diburu tabiat waktu
memintal satu persatu ingatan
kau justru memberi aku lupa
sehingga rindu kadang luluh menuju tiada
aku berpusingan mencari kemana ia menggaib
seperti penyair kehilangan puisi
mencari-cari diksi ke setiap simpang makna
merujuk setiap kesedihan
mengutip pedih luka
di seluruh pustaka, aku hanya menjumpai kalimat
kalimat putus asa
dari akal yang gagal bunuh diri
aku hanya mampu menginjak tapal la ilaha
tak kunjung sampai ke altar ila allah

Selepas sujud pertama ini mengurai
seperti sekumpulan sel yang mematikan dirinya
dan memberi kesempatan sel baru menumbuhi tubuh
tak satu jua yang kekal dalam akal
kecuali rajuk bercampur kutuk: ampuni aku, sayangi aku,
selimuti aibku, angkat martabatku,
anugerahi aku benda-benda penghalau sunyi,
buka pintu cinta untukku, maafkan aku
jika tidak begitu, aku akan merugi
jika tidak begitu, aku akan hidup dalam kematian
dan mati dalam kehidupan

Pada sujud ke dua, simpuhku sudah bertekuk
pada lilitan rindu di tulang punggung
beban mengembung di segumpal daging
yang entah sampai kapan menggantung di sini
tak kunjung terpahami,
siapa yang semena-mena berenang di alir airnya
air yang telah melautkan penantian

Hanyut ke manakah akhirnya diri yang aku sujudkan ini?
memijar kemanakah api yang membakarnya?

Pusaran ini memusingkan
aku tidak pandai lagi berdiri
kesendirian membekukan rindu
kerinduan membatukan diri

2014

Sepanjang Rintih Sepi Berjatuhan

Oi, pengirim rintih sepi
berjatuhan sepanjang hari
melunak lututku
runtuh meremang dalam tahajud
ngiang mengais munajat lengang membalut sujud

Aku hapal-hapal irama azan
aku merdu-merdukan suara
rindu padanya panas terkurung
dalam badan

Andai ia datang suatu kali nanti
tiada ragu aku bernyanyi
mungkin juga menari
melenggang riang
umpama daunan menyambut hujan
ujung kemarau
berlinangan
seperti ibrahim
seperti zakaria

Ataukah rintih sepi
dan irama azan paling merdu ini
aku benamkan saja
ke dalam diam
pipih segala jerih segala pedih
yang tiada teraih tiada terperi
simpan rapi menjadi gumam

Seperti sendu rintih ditelan aminah
saat melepas abdullah
seperti ngilu kehilangan hasan-husein
dirahasiakan ali dan fatimah dalam darah

Oi, peniup seruling kun fayakun
yang dulu menyalakan Isa di rahim maryam,
seperti itu pulakah aku nanti
setelah tiada letih menimang lengang
rubuh dalam ngiang tahajud
yang terasa semakin panjang

2015

BERBAGI
Artikel sebelumyaProfil PPMTI Sabilul Jannah
Artikel berikutnyaTradisi Mendarahi Rumah dan Doa Simbolik
(lahir di Nagari Sungai Naniang, Bukit Barisan, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, 26 Oktober1979) adalah seorang cerpenis, penyair, dan penggiat teater Indonesia. Namanya dikenal melalui karya-karyanya di sejumlah media lokal di Sumatera Barat dan beberapa media nasional. Aktif menulis sejak tahun 1990-an, beberapa puisi dan cerpennya masuk dalam sejumlah antologi bersama sejak tahun 2000. Menyutradarai sejumlah pertunjukan teater; dramatisasi dan musikalisasi puisi sejak masih menjadi mahasiswa di Teater Imambonjol. Pegiat Komunitas Kajian seperti Magistra Indonesia dan Mantagi Institute, sejak 2006. Pengantin Subuh adalah kumpulan cerpen pertamanya dan masuk 10 besar Khatulistiwa Literary Award (KLA) pada 2009. Penghargaan yang sama kembali ia terima lewat kumpulan cerpennya Yang Menunggu dengan Payung pada 2013. Ia menyelesaikan pendidikan S-2 di IAIN Imam Bonjol, Padang pada 2011. Sebelumnya, ia pernah mengenyam pendidikan di Madrasah Tarbiyah Islamiyah Tabek Gadang (tingkat tsanawiyah 1992-1996) dan Madrasah Tarbiyah Islamiyah Pasir IV Angkek Canduang (tingkat aliyah 1996-1999). Bukunya yang sudah terbit: Pengantin Subuh (Buku Kumpulan Cerpen, Jakarta: LPPH, 2009); Air Tulang Ibu (Buku Kumpulan Puisi, Yogyakarta: Pusakata, 2012); Yang Menunggu dengan Payung (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2013). Sekarang mengabdi di Fakultas Syari’ah IAIN Imam Bonjol Padang. Email: zelfeniwimra@gmail.com

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY