Saran Ustad Masril untuk Pondok Pesantren dan Alumni Tarbiyah Islamiyah

Saran Ustad Masril untuk Pondok Pesantren dan Alumni Tarbiyah Islamiyah

1077
2
Ustad Masril Katik Bandaro

Inyiak Canduang telah wafat sejak 1970. Tarbiyah Islamiyah adalah karya abadi beliau. Bersama-sama dengan Inyiak Jaho, Inyiak Tabek Godang dan ulama-ulama Mazhab Syafi’iah lainnya di Sumatera Barat ia mendirikan Madrasah-madrasah Tarbiyah Islamiyah. Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) nya sendiri di Canduang telah banyak murid datang dan pergi. Mereka tersebar di berbagai penjuru negeri. Saya mewawancarai salah seorang murid langsung Syekh Sulaiman Arrasuli, Ustad Masril Katik Bandaro. Saat ini ia adalah salah seorang guru aktif di MTI Canduang. Sebelumnya, bersama-sama dengan Buya Amran, ia mendirikan Ponpes at-Taqwa. Wawancara saya lakukan lewat telepon (23/1). Obrolan kami berlangsung santai dan jenaka. Berikut petikan wawancaranya:

Bisa ceritakan pengalaman Anda belajar agama sebelum dipinta menjadi guru Madrasah Tarbiyah Islamiyah di MTI Canduang?

Pertama sekali belajar agama, saya sekolah di SMPI al-Manar di Batu Hampa. Di situ saya belajar al-Quran, di samping belajar umum dan fak agama. Dahulu namanya pakai “fak”, fak umum dan fak agama. Satu setengah tahun kemudian saya pindah ke MTI Canduang. Pertengahan tahun 64-65. Saya masuk di kelas tiga. Guru saya Angku Datuak Rajo Kayo. Di kelas tiga hanya belajar pelajaran kitab saja. Barulah di kelas empat ada pelajaran umum, pelajaran Bahasa Indonesia, Kewarganegaraan dan Bahasa Inggris. Pelajaran umum cuma sekali seminggu.

Kemudian naik ke kelas empat Walikelas saya Buya Haji Salim Umar. Wali kelas memegang sampai enam pelajaran kitab, seperti Fikih, Nahwu, Balaghah, Tasauf, dan Tafsir. Di kelas empat ada pelajaran Akhlak, waktu itu kitabnya Tazkiratul Qulub, karangan Syekh Muhamad Jamil Jaho, diambil dari kitab Ihya Ulumuddin. Kemudian kelas lima Walikelasnya Buya Amran. Kelas lima fikihnya I’anah tiga dan empat. Di kelas lima, saya belajar Faraid. Kini tak banyak anak (murid Tarbiyah) memahami persoalan faraid. Bagaimana cara membagi harta waris. Saya, insyaallah sekarang masih menguasai, tapi ya tentu dengan kitab. Di luar kepala tidak.

Kemudian Walikelas enam Angku Nawawi Abdul wahid, dan Walikelas tujuh Angku Raman. Dulu yang namanya Buya di Canduang ini, tak ada kecuali Syekh Sulaiman Arrasuli. Dulu istilahnya Ustad bagi guru yang muda, dan Angku untuk guru yang tua. “Kini lah Buya se kami sadonyo”. Bahkan sampai murid pun sudah ada yang dipanggil Buya. (sambil tertawa).

Tamat di MTI Canduang, belajar tafsir di Kayu Tanam tahun 71. Orang Kayu Tanam kan banyak yang ahli Tafsir. Kemudian Tahun 72-75 belajar di Malalo. Buya Malalo membuka Bustan al-Muhaqqiqin namanya untuk para guru. Yang dipelajari kitab-kitab kelas tujuh. Di sana kita belajar “mentahqiqkan” kitab namanya, belajar mempertanggungjawabkan bacaan kitab. Saya kalau tak belajar ke Malalo, seperti Buya Zamzami jika tidak ke Malalo, tak akan bisa seperti sekarang ini. Saya diajarkan oleh Buya Malalo “mantahqiqkani’barat kitab, agar tak melenceng surahan dari i’barat kitab.

Kapan belajar dengan Inyiak Canduang? bisa Anda ceritakan pengalaman belajar langsung dengan beliau? Apa pengalaman unik belajar langsung dengan Inyiak Canduang yang terus Anda ingat sampai saat ini?

Waktu saya belajar di MTI Canduang, Inyiak Canduang hanyalah mengajar kelas tujuh saja. Beliau tak memegang satu mata pelajaran khusus. Ia mengajar kapan ia bisa mengajar. Lebih sering ia mengajar Fikih. Dahulu, di lokal kelas tujuh, disamping meja dan kursi guru, disediakan sebuah kursi. Jika Inyiak Canduang tiba-tiba masuk di tengah guru yang sedang mengajar, guru yang mengajar tersebut langsung pindah duduk ke kursi disediakan itu. Dan Inyiak Canduang mengambil alih pelajaran.

Kadang-kadang Inyiak Canduang datang ke sekolah pukul sepuluh pagi, waktu matahari mulai tinggi. Ia berjalan dari “Gaduang” (tempat tinggal Inyiak Canduang di Simpang Kodim sekarang) ke sekolah, singgah sebentar di kantor majelis guru, dan kemudian masuk mengajar di kelas tujuh.

Inyiak Canduang sangatlah disiplin. Pernah suatu kali saya menoleh ke kawan yang duduk di sebelah ketika Inyiak Canduang mengajar. Inyiak Canduang menghardik, “ang ka baraja ka mari indak?”. Begitu saking disiplinnya Inyiak Canduang. Marahnya Inyiak Canduang jika kita tak memperhatikan kitab ketika beliau mengajar. Jadi ketika beliau membaca kitab, kita menundukkan kepala, semuanya menyimak bacaan kitab. Jika beliau menerangkan maksud dan syurahan kitab, kita memperhatikan beliau.

Juga semasa beliau hidup, sekali sebulan diadakan kuliah umum, dihadiri murid-murid dari kelas satu sampai kelas tujuh. Wajib dihadiri oleh seluruh guru beserta karyawan, begitu aturannya dulu.

Apa yang disampaikan Inyiak Canduang dalam kuliah-kuliah umumnya?

Banyak, berbagai macam. Dalam kuliah umumnya, misalnya diceritakan riwayat Imam Syafi’i, Imam Ghazali dan imam-imam yang lain. Di kuliah umum itu juga disampaikan alasan kenapa kita mesti bermazhab dengan mazhab yang empat, namun mesti berfatwa dengan mazhab Syafi’i, kenapa mesti beri’tiqat dengan i’tiqat Ahli Sunnah wal Jamaah. Dalam kuliah sekali sebulan itu juga disampaikan persoalan-persoalan khilafiah dan jawabannya.

Banyak sekali kaji-kaji yang “bapusakoi” namanya, yang disampaikan Inyiak Canduang. Persoalan-persoalan yang tidak kita temui ulasan jawabannya di kitab-kitab.

Inyiak Canduang mempuyai pesan Teroeskanlah membina Tarbijah Islamijah sesoeai dengan peladjaran jang koe berikan. Tertulis di Batu dekat makam Syekh Sulaiman Arrasuli. Apa yang Anda tangkap dan maknai dari pesan Inyiak Canduang ini?

Batu yang sekarang berdiri di makam Buya Canduang itu dahulunya tiga buah, namun sekarang hanya tinggal satu, yang duanya sudah roboh ketika pembangunan sekolah.

Ya, kalau soal pesan itu seingat saya disampaikan tahun tujuh puluh. Setelah Inyiak Canduang meninggal, diadakanlah sebuah pertemuan. Pertemuan itu dihadiri anak-anak beliau dan para alumni. Dalam pertemuan itu disepakati, pelajaran-pelajaran kitab jangan ditinggalkan, jangan sampai hilang.

Saat ini Anda adalah salah seorang guru penting di Madrasah Tarbiyah Islamiyah, bagimana perbedaan model belajar santri hari ini dan perbandingannya dengan model pembelajaran masa lalu?

Entah guru penting, entah guru apa lah. Kalau tempat bertanya iya sekali-sekali. Ini maaf saja, tapi tak apalah diceritakan. Saat ini, menurut saya, sudah banyak kaji-kaji itu tak dari “i’barat” syurahan kaji di jelaskan, tapi –kalau bahasa saya- dari saku celana. Maksudnya, karena kurang pas bacaan dan “mendudukkan” I’rab kalimat, syurahan menjadi tidak pas. I’rab kan menentukan terjemahan. Kalau soal itu (mengi’rab) tidak selesai (tak sempurna), maka syurahan bisa dibuat-buat jadinya. Itu yang terjadi dan saya lihat sekarang.

Belakangan, pernah saya disuruh menguji santri kelas tujuh ujian membaca kitab. Saya perhatikan itulah masalahnya. Guru-guru, terkadang, bila disampaikan merasa tersinggung pula. Kalau saya katakan persoalan ini, entahlah. Kalau disampaikan masalah ini “ndak rancak”, tapi kalau tidak disampaikan, “baa lah”. Cuma dalam pelajaran yang saya pegang, saya usahakan menerangkan jabatan kalimat (i’rab) itu ketika menyurahkan pelajaran.

Bagaimana Anda menanggapi bahwa sekolah-sekolah Tarbiyah Islamiyah hari ini sudah berpisah dengan masyarakat?

Batuah tu” (benar). Dulu, sebab masyarakat dekat dengan sekolah, karena Buya mengajari masyarakat. Makanya masyarakat membutuhkan sekolah.

Bagaimana Anda melihat komunikasi antar sekolah-sekolah Tarbiyah Islamiyah?

Kemarin saya ke Jaho, membawa anak-anak (murid-murid sekolah). Mereka ingin ziarah. Kami pergi sampai ke Painan. Tampak lah oleh anak-anak itu keadaan sekolah-sekolah di sana. Kemudian mereka sampaikanlah ke pihak sekolah. Namun jawaban (pihak) sekolah, kita belum tertandingi oleh sekolah-sekolah itu. Itu pula lah salahnya. “Santiang juo kito baru”.

Ustad Masril, santri MTI Canduang di MTI Jaho/Dokumen; Wiza. NR
Ustad Masril, santri MTI Canduang di MTI Jaho/Dokumen; Wiza. NR

Saya jawab, Iya “santiang juo sekolah,” tapi belum “keramat” kita yang “manyantiangan”. Masih keramat Inyiak Canduang dahulu yang “manyantiangan”.

Cobalah keramat kita yang “manyantiangan.” Kalau tak ada keramat Inyiak Canduang, “entah baa lah sekolah”. “Kan kini ndak ado lah bakaramat di sekolah kini. Masih Keramat Inyiak Canduang juo baruh.”

Pelajaran umum ibarat menjadi simalakama di Madrasah Tarbiyah Islamiyah, bagaimana Anda memandang ini?

Dulu ada ide mengintegrasikan pelajaran umum dengan (pelajaran) kitab. Namun tak diterima orang. Ada beberapa pelajaran (umum) yang bisa diintegrasikan. Dengan itu bisa bertambah (jam) pelajaran kitab. Tapi sayangnya tidak jadi terealisasikan.

Jadi apa saran Anda untuk sekolah-sekolah Tarbiyah Islamiyah di Sumatera Barat?

Kalau pesan saya, orang-orang yang pernah belajar lama dengan Inyiak Canduang, yang saya lihat seperti Pak Jalal, Buya Zamzami, Buya Amran, bagaimana kalau diadakan kesepakatan oleh seluruh sekolah-sekolah Tarbiyah Islamiyah untuk mengadakan Kulliyah Syar’iah. (Itu diadakan) untuk memperlihatkan bagaimana cara guru-guru lama belajar mengajar.

Terserah namanya, bisa Mahad Ali. Terserah pula dimana dipusatkan, bisa di Malalo, di Canduang, di Pasia, terserahlah. “Agak dua kali seminggu lah jadi”.

Bia dibaco (kitab kuniang) oleh buya-buya tu saruman guru-guru lamo mangaji”.

Itu juga bisa membagun komunikasi antar sekolah. Itu yang pertama. Selanjutnya, entah kenapa anak-anak sekarang benar-benar susah diatur. Dulu kenapa akhlak di utamakan (sangat penting), sekaligus karena guru tampak “maru’ahnya”. Kini tak tampak maru’ah guru. Kadang-kadang lah “larut” pula guru dan murid. Maka “dibawo rendong ce (guru) dek murid”.

(Soal yang pertama tadi) Buya Amran cukup lama belajar langsung dengan Inyiak Canduang, tapi tak terpakai oleh orang tarbiyah. “Heran ambo jo urang Tarbiyah”.

Jangan-jangan Buya Amran sendiri yang tak mau mengajar di MTI Canduang?

Iyo Baa lah yo”. Apa yang disampaikan Buya Amran kalau tak diterima oleh pihak sekolah tentu “maleh pulo nyo.” (sambil tertawa).

Sebagai seorang guru yang “dituokan” di Tarbiyah Islamiyah, apa pesan Anda untuk para alumni Tarbiyah Islamiyah?

Sudah cukup apa (pesan) yang disampaikan guru-guru semasa di sekolah. “Asa lai batamu juo jo guru-guru tuo, jo guru-guru di sekolah, lah cukup tu”.[]

2 KOMENTAR

  1. RALAT:
    Nara Sumber kami mencabut sebuah jawaban. Nara Sumber kami menyampaikan bahwa ide dan ajaran Inyiak Canduang tetap dipertahankan. Ustad Masril menekankan, Inyiak Canduang sangat menginginkan madrasah-madrasah Tarbiyah Islamiyah mempertahankan pelajaran kitab kuning sebagai kitab klasik.

    Terimaksih.

  2. Realisasinya kami tunggu, kapan kepala suku setiap sekolah pesantren duduk bersama lagi untuk membicarakan keberadaan kitab klasik tidak menjadi klasik bagi para pelajar masa depan. karena ancaman globalisasi semakin parah dan brutal. dan kita menangisi hal itu setelah bungkuk dimakan usia.
    sebagai saran mungkin tidak begitu penting, harapannya “adolah acara2 seperti seminar2, workshop, dsb tentang kitab klasik supaya tidak terpinggirkan. kitab klasik bukan hanya berbicara tentang keagamaan, tapi sama2 kita ketahui segala ilmu dunia akhirat masih bisa di cakup dalam kitab klasik.
    sekian, terima kasih

LEAVE A REPLY