Selamat Kongres HmI 3 Miliar

Selamat Kongres HmI 3 Miliar

268
0
Ilustrasi/Dok.Istimewa

Insiden keributan di pelabuhan oleh ribuan kader HmI (Himpunan mahasiswa Islam) dari Sulawesi, seolah menambah kesan negatifnya HmI. Disusul pemblokiran jalan yang terjadi di Riau, ketika tak disamput oleh panitia kongres. Belum lagi ketika kita harus menyoal tapak tilas perjalanan HmI. Biasanya jika demo ricuh atau chaos, secara organisatoris HmI bakal dapat imbasnya. Yang sangat memilukan adalah terdengar kabar, HmI berkerja sama dengan Lion Air. Ngapain sih HmI dapat tiket gratis dari pesawat yang ada desahan di kokpitnya itu? Benar-benar “terlalu”.

Sungguh pun “terlalu”, tentunya tidak seekstrem dana 3 Miliar yang telah mereka kantongi dari pemerintah Riau untuk sebuah pagelaran. Duh, media memang pintar. Netizen mana yang tak akan terpancing ketika 3 Miliar harus dibandingkan dengan 1.4 Miliar. Itu dia, penanggulan asap yang ujung-ujungnya dibereskan oleh hujan. Mungkin akan lain cerita, ketika dibandingkan dengan harga Lamborgininya Syahrini, atau dibandingkan dengan total kekayaan PT Freeport, tapi ngapain juga ya? Pokoknya begitulah, terkadang agar berita lebih “wow”, harus ada unsur pancingan. Kapan perlu menghasut dan membangkitkan kemarahan.

Media benar-benar tidak menenggang perasaan kita. Jelas-jelas kita minus analisis, kita lebih memprioritaskan eksis. Gak atau ya, tuntutan kita sebagai netizen adalah berkomentar. Analisis itu soal belakangan, itu pekerjaan berat. Dari kata-katanya saja sudah bikin puyeng, apalagi harus ditambah dengan kata “kritis”, “analisis kritis”. Sudahlah, barangkali hanya netizen yang selevel filsuf yang dapat melakukannya. Maka, wajar ketika berita “3 Miliar” muncul, yang terjadi adalah umpatan, tudingan, dan hinaan. Hatespeech? Mmmm,.. Itu semacam makanan apa ya?

“Organisasi Sampah”, “Organisasi Miskin”, “Bubarkan HmI”. Provokasi media meniscayakan kita mengeluarkan kata-kata seperti itu. Ya apa susahnya? Tinggal klick kolom komentar, tulis kata-kata yang agak kampret. Mujur, seandainya dibalas dengan kata-kata yang adem, kalau asem? Yo wes, tinggal balas dengan ungkapan yang lebih kampret lagi. Mereka fikir kita mau kalah dengan debat calon walikota. Demikian, jika tidak ada yang mengalah maka ini akan menjadi lingkaran setan, yang akan menyamai level peperangan ISIS dan Prancis.

Meskipun demikian, tetap saja perbedaan itu kan rahmat. Perbedaan, dikotomi, paradoks, adalah sifatnya realitas. Sebenarnya kita telah lama sepakat untuk tidak sepakat. Jadi, adalah wajar jika komentar mengalir berdasarkan horizon kita masing-masing. Barangkali kewajaran ini yang melegitimasi kita untuk menuding HmI, karena diantara kita yang anti HmI terkadang melihat HmI tidak berguna. HmI tak ubahnya sekumpulan mahasiswa brutal yang kerjanya demo dan demo saja.

Saya sepakati itu. Sebenarnya organisasi yang diprakarsai oleh Lafran Pane ini bukanlah organisasi sempurna. HmI hanyalah organisasi yang terkadang juga berisikan oknum-oknum yang menjengkelkan. HmI juga berisikan individu-individu yang terkadang jemawa dengan eforia masa lalu, atau kader yang hanya membanggakan Jusuf Kalla, Mahfud MD dan Anas? Sementara mereka lupa menempa diri. Singkatnya, akan menjadi naif jika HmI dikatakan sebagai organisasi hebat seperti FPI (Front Pembela Islam). Bagi sebagian kader YAKUSA itu adalah YAKUZA, maksud saya Yakin Usaha Zampai.

Namun perlu dicatat juga, kongres HmI itu katanya prosesnya sangat pelik. Seluruh kader di Indonesia mesti menumpahkan energi mereka demi umat dan bangsa. Katanya sih itu “mission” bagi HmI. Pun dalam konteks politis di tubuh HmI itu sendiri, kader HmI mesti berproses untuk mengasah IdeoPol-StraTak (Ideologi Politik Strategi dan Taktik) mereka. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan sidang pleno per pleno sampai menelan waktu lebih satu Bulan. Jangan-jangan ini yang membuat dana kongres itu besar. Apalagi event-nya bertaraf nasional dan melibatkan ribuan mahasiswa dari seantero nusantara.

Belum lagi jika menyoal biaya makan, biaya penginapan, biaya tetek bengek lainnya. Bukankah di negeri ini kita dihantui oleh capital, sementara HmI itu adalah organisasi miskin. Tapi apapun itu satu hal yang pasti adalah HmI berhasil meyakinkan pemerintah dengan anggaran tersebut. Menurut saya, dana kongres tidak dapat diperoleh secara mudah, laiknya “papa minta pulsa” dan “papa minta saham”, perlu proposal dan presentasi yang meyakinkan. Intinya prosedur birokratis tidak dapat dihindarkan. Dari titik ini saya melihat sia-sia saja kita melakukan perang ujar.

Sama sia-sianya dengan mengalihkan dana tersebut untuk kesejahteraan masyarakat. Kita hidup di negara yang perlu prosedur vroh! katakanlah HmI berdosa untuk mendapatkan dana kongres yang belum jelas dampak dan hasilnya. Nah, yang ngocos gak jelas udah ngelakuin apa? Kalau memang peduli dengan masyarakat alangkah baiknya bikin proposal dan ajukan kepada pemerintah setempat. Perlu diketahui, APBD Riau tahun 2015 itu gak kurang dari 10 Triliun, meskipun katanya defisit tapi itu bukan urusan kita. 10 Triliun itu sama denga 1000 Miliar loh. Lah, kok meributkan 3 Miliar. Berapa persen coba? Ayo yang pintar matematika.

Dengan sok pahlawan kita mengamini bahwa HmI berhasil melukai hati rakyat. Kalau memang demikian cara berfikirnya, mending seluruh agenda pejabat di negeri ini difokuskan saja untuk membangun sekolah-sekolah di kampung. Pesawat presiden itu dijual saja untuk membangun koperasi di pelosok negeri. Yang tak kalah pentingnya adalah mobil anggota DPR (Dewan Perwakilan Rakyat). Itu kan mobil rakyat, alihkan saja untuk anggaran mesin bajak bagi petani-petani miskin. Andai segala sesuatu di negeri ini semudah omongannya Haji Lulung dan Fadli Zon.

Jadi, daripada sibuk menggagalkan anggaran dana tersebut, dengan bikin petisi di change.org, mending bikin proposal lagi kepada pemerintah setempat. Proposal program pembangungan masyarakat, begitu kira-kira. Daripada nasib kita sama dengan pendukung VR46 kemaren. Jika pemerintah tidak mau mengeluarkan, kudeta tuh pemerintah! Kapan perlu ajak HmI. Tapi laiknya proposal tentu harus jelas, terstruktur dan sistematis, dan yang paling penting meyakinkan. Atau jangan-jangan kita mau berharap juga kepada HmI untuk membuat proposalnya. Ya gak mungkinlah mas, dalam acara ini saja panitia sudah kelabakan. Atau kita tunggu saja acara kongres ini selesai berikut laporannya.

Jadi untuk sementara, sembari menunggu mari kita sampaikan “Selamat Kongres ke-29 HmI 3 Miliar”!. Jangan nakal ya di Riau, apalagi bakar-bakar ban. sebab masyarakat sudah terlalu letih menghadapi asap.[]

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY