Strategi Kaum Tuo dan Gejolak Kaum Mudo

Strategi Kaum Tuo dan Gejolak Kaum Mudo

1432
0

Kaum mudo telah pulang dari tanah Arab. Mereka gencarkan semangat pembaharuan. Apa strategi kaum tuo agar tak terjadi kebingungan dan perpecahan di masyarakat?

Sejarah kembali dicatat. Nelmawarni membungkusnya dalam sebuah tesis. Ia akan menyelesaikan studi di Pascasarjana Universitas Gajah Mada. Dan kita beruntung, tesis itu,  sekarang ini telah dipoles menjadi sebuah buku yang berjudul Persatuan Tarbiyah Islamiyah Dari Organisasi Sosial Keagamaan ke Partai Politik, diterbitkan oleh Imam Bonjol Press tahun 2013 yang terdiri dari 176 halaman. Nelmawarni membatasi penelitian sejarahnya dari tahun 1928-1971 dengan mengambil sample di Bukittinggi, Payakumbuh, Padang Panjang, dan untuk luar Sumatera adalah Jakarta.

Buku ini menarik untuk kita baca karena dilengkapi dengan banyak data, selain itu Nelmawarni dalam mengawali buku ini berangkat dari pertentangan antara kaum muda dan kaum tua dan berujung kepada pembaharuan di Minangkabau. Kemudian kaum tua mengembangkan gagasan dalam bentuk organisasi sosial keagamaan yaitu PERTI (Persatuan Tarbiyah Islamiyah) sampai kepada partai politik dengan nama PI PERTI (Partai Islam Persatuan Tarbiyah Islamiyah).

Dalam gerakan pembaharu di Minangkabau kita tidak bisa melepaskan diri dari peran agama Islam yang dianut oleh masyarakat karena melalui agama tersebut masyarakat Minangkabau membenahi diri dan melakukan pembaharuan. Selain dengan cara berdakwah pusat pembaharuan itu pertama kali berasal dari pendidikan yang dilakukan oleh para ulama di Surau dan akhirnya berubah kepada bentuk sekolah.

Sebelum abad ke-20 ulama-ulama Minangkabau menganut agama Islam mazhab Syafi’I dan I’tikad Ahlusunnah Waljamaah. Permulaan abad ke-20 muncul paham-paham baru di Minangkabau yang dibawa oleh kaum muda. Paham ini banyak bertentangan dengan mazhab Safi’i dan I’tikad Ahlu Sunnah Waljamaah -yang seketika itu mayoritas masyarakat minangkabau meyakini kebenarannya. Karena timbulnya paham baru tersebut ulama Minangkabau terbagi kepada dua golongan yaitu kaum tua dan kaum muda karena terjadi pertentangan paham keagamaan.

Kaum Tuo dan Kaum Mudo diidentifikasi lewat dua perspektif: Hamka yang mengatakan, dinamakan kaum muda karena usia mereka masih muda dan dinamakan kaum tua karena mereka telah lanjut usia. Dan perspektif pertentangan antara keduanya, bahwa yang memunculkan fatwa-fatwa baru atau paham-paham baru tentang keagamaan tergolong kepada kaum muda dan yang menentangnya adalah kaum tua (lihat halaman5).

Kaum muda terinspirasi dari pemahaman keagaamaan Jamaludin Al-Afgani, Muhammad Abduh, dan muridnya Rasyid Ridha. Kaum muda ini dipelopori oleh Muhammad Jamil Jambek, Haji Abdul Karim Abdullah, Haji Abdullah Ahmad, Haji Ibrahim Musa Parabek, dan lain-lain. Setelah pulang dari Arab mereka menebarkan paham tersebut kepada masyarakat Minangkabau. Mereka berguru kepada Syekh Muhammad Khatib (juga guru kaum tua). Kaum muda juga dinamakan kaum modernis dan pembaharu kedua setelah Paderi.

Kaum tua berpegang kepada mazhab Syafi’i dan I’tilussunnah Waljamaah dengan alasan, Pertama Islam pertama kali masuk ke Indonesia dibawa berdasarkan paham Sunny (Ahlusunnah Waljamaah dan mazhab Syafi’I), Kedua, penggantian mazhab Syafi’I yang telah mendarah daging dengan yang lain dapat menimbulkan perpecahan di tengah-tengah masyarakat, khususnya masyarakat awam, Ketiga mazhab Syafi’I adalah benar, diakui kebenarannnya oleh dunia Islam, Keempa,t tetap dalam mazhan Syafi’I berarti memelihara dan mempertahankan keutuhan persatuan dan kesatuan bangsa serta ketentuan ukhuwah islamiyah. Sedangkan alasan memakai Ahlussunnah Waljamaah adalah karena istilah tersebut resmi dari Rasulullah.

Perbedaan antara kaum muda dan kaum tua terdapat dalam praktik keagamaan yang berlangsung di tengah-tengah masyarakat. Kaum muda mengharuskan bahwa Islam harus sesuai dengan kemajuan zaman, harus melakukan ijtihat, memberantas bid’ah, syirik, kufarat, tahayul, penyembahan terhadap orang suci, perbaikan terhadap sufi, termasuk kepada praktik tarekat, terutama tarekat Naqsabandiyah yang telah banyak pengikutnya setelah tahun 1850, karena menurut mereka dengan praktik seperti itu membuat islam mandek, menghambat dinamika, sedangkan kaum tua tidak sepakat dengan seruan kaum muda tersebut.

Kemudian terjadi perdebatan antara kaum muda dan kaum tua, diantaranya pada tahun 1903 di Mesjid Sianok (Agam) tentang tarekat dan dilanjutkan di Padang tahun 1906 dengan tema yang sama. Kaum muda terus melakukan pembaharuan dan menebarkan paham-paham mereka, selain melalui dakwah, bergerak dibidang tulis-menulis sampai menerbitkan majalah, dan bergerak juga dalam dibidang pendidikan. Pendidikan yang semula di Surau dengan sistem halaqah (guru duduk dan murid mengelilingi guru, dan cara pengajarannya memakai sistem hafalan) kepada bentuk sekolah yang dilengkapi dengan papan tulis, bangku, meja, dan lain-lain, dan juga diajarkan pelajaran umum.

Diantara usaha pembaharuan tersebut kaum muda menerbitkan majalah dan mendirikan sekolah atau merubah surau kepada sekolah diantaranya;

Kaum muda menerbitkan majalah al-Munir (Pelita) tahun 1911 dengan memakai bahasa Melayu, al-Akhbar (Berita) di Padang, al-Itqan (Kecermatan) di Maninjau, al-Bayan (Penjelasan) di Parabek kabupaten Agam, al-Basyir (Kabar Genbira) di Sungayang Tanah Datar, al-Imam di Padang Panjang, dan al-Munirulmanar (Tempat Cahaya Bersinar) di Padang Panajang. Diantara sekolah dan surau yang berdiri, Adabiyah School yang didirikan Syek Abdul Ahmad  di padang tahun 1909, Madrasah School di Sungayang, Madrasah School oleh Syekh Muhamad Khatib di Sungayang, Batu Sangkar tahun 1910, Diniah School oleh Zainudin Labay al-Yunusi di Padang Panjang tahun 1915. Surau Jembatan Besi yang didirikan oleh Syekh Abdullah Ahmad dirubah menjadi Sumatra Thawalib tahun 1918, surau Syekh Muhammad Djamil Djambek juga menjadi Sumatera Thawalib tahun 1919, surau Parabek juga menjadi Sumatera Parabek tahun 1921, dan surau-surau lainnya di Padang Panjang, Batusangkar, dan Maninjau. Tak hanya sekadar itu kaum muda juga membuat Persatuan Gugru-guru Islam (PGAI) (lihat halaman 70-71).

Menanggapi apa yang dilakukan oleh kaum muda yang terus berkembang, kaum tua tidak tinggal diam. Kaum tua melakukan perlawanan dengan cara seperti yang dilakukan oleh kaum muda yaitu berdakwah, menerbitkan majalah dan mendirikan sekolah guna untuk mempertahankan pemahaman keagamaan mereka yaitu mazhab Syafi’I dan Itikad Ahlu Sunnah Waljamaah.

Majalah yang diterbikan oleh kaum tua diantaranya adalah Al-mizan (Timbangan) di Maninjau, ar-Radd wa al-Mardud (Penolakan) di Bukittinggi dan Soearti di Bukittingi. Untuk pendidikan, Syekh Abbas mendirikan sekolah dan diberi nama Arabian School di Ladang Lawas, Bukittinggi, beliau adalah pencetus pertama dari kaum tua yang mendirikan sekolah. Kemudian Syekh Muhammad Abbas mengirimkan surat kepada Syekh Sulaiman Arrasuly di Surau Baru di Candung yang berisi ajakan untuk mengubah sistem surau kepada bentuk sekolah karena mengingat di mana-mana surau telah berubah menjadi sekolah, di Padang Panjang, Parabek, dan Padang Jepang telah menjadi Thawalib School. Kaum tua juga membuat organisasi Ittihadul Ulama Minangkabau tahun 1921.

Dengan penuh keterbukaan, surat tersebut disambut baik oleh Syekh Sulaiman Arrasuli. Timbul inisiatif dari Syekh Sulaiman Arrasuly untuk mengumpulkan para ulama kaum tua yang sealiran dengan beliau yaitu mazhab Syafi’I dan Itikad Ahlu Sunnah Waljamaah dan terlaksana pada tanggal 5 Mei 1928 di Surau Syekh Sulaiman Arrasuly yang dihadiri oleh;

  1. Syekh Sulaiman Arrasuly, Candung, Bukittinggi.
  2. Syekh Muhammad Djamil Jaho, Padang Panjang.
  3. Syekh Abdul Wahid as-Shalihy, Tabek Gadang, Payakumbuh.
  4. Syekh Abbas, Alang Lawas, Bukittinggi.
  5. Syekh Arifin, Batu Hampar, Payakumbuh.
  6. Syekh Muhammad Salim, Bayur Maninjau, Bukittinggi.
  7. Syekh Khatib Ali, Parak Gadang, Padang
  8. Syekh Muhammad Said, Bonjol Padang.
  9. Syekh Mahudum, Tanjung Bingkuang, Solok.
  10. Syekh Muhammad Yunus, Sasak, Pasaman.
  11. Syekh Adam, Palembayan, Bukittinggi.
  12. Syekh Hasan Basri, Maninjau, Bukittinggi.
  13. Syekh Abdul Majid, Koto Nan Gadang, Payakumbuh.
  14. Syekh Muhammad Zain, Simabur, Batu Sangkar.
  15. Syekh Jalaludin, Sicincin.
  16. Syekh Alwi, Koto Nan Empat, Payakumbuh.

Pertemuan tersebut menghasilkan lahirnya Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI). Pada awal pembentukan nama tersebut diusulkan Tarbiyatut Thullab (Pendidikan para Siswa) tapi karena seakan menyindir Sumatera Thawalib, akhirnya disepakati Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) yang kemudian dikenal dengan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI).

Bagaimana dengan PERTI yang lahir dari kaum tua, apakah termasuk kepada pembaharuan di Minangkabau atau tidak? Nelmawarni menjawab dalam buku ini dengan mengambil sampel salah satu pelopor PERTI itu sendiri yaitu Syekh Sulaiman Arrasuly karena berkat inisiatif beliau ulama kaum tua berkumpul. Nelmawarni mengatakan, Syekh Sulaiman Arrasuli juga merupakan tokoh pembaharu di Minangkabau karena beliau mempunyai sifat keterbukaan dalam menerima ide-ide baru semisal tentang pendidikan dan menerima gagasan-gagasan yang tidak menyimpang dari keyakinan yang ia yakini, yakni mazhab Syafi’i dan Itikat Ahlusunnah Waljamaah. Dalam artian PERTI sebagai organisasi yang dicetuskan oleh Syekh Sulaiman Arrasuly juga termasuk gerakan pembaharu di Minangkabau (lihat halaman 86).

Kenapa tidak, PERTI berperan penting dalam gerakan pembaharu di Minangkabau semisal dalam pendidikan dan organisasi sosial seperti Wanita PERTI, Pemuda PERTI, Kesatuan Mahasiswa Islam (KMI), Gerakan Tani Indonesia (GERTAMI), Kepanduan Al-Anshar, Persatuan Murid Tarbiyah Islamiyah (PMTI), Gerakan Buruh Muslim Indonesia (GERBUMI), dan Lembaga Kebudayaan dan Seni Islam (LEKSI). Dalam perjuangan membela kemerdekaan. PERTI mempunyai suatu barisan Lasykar Rakyat yang terbagi kepada dua yaitu gerakan Lasykar Muslimin Indonesia (LASYMI) untuk pemuda dan Lasykar Muslimat untuk perempuan.[]

Mahasiswa Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

 

Identitas buku:

Penulis             : Nelmawarni

Judul Buku      : Persatuan Tarbiyah Islamiyah Dari Organisasi Keagamaan Ke Partai Politik

Penerbit           : Imam Bonjol Press

ISBN               : 978-979-1389-26-6

Halaman          : 176+xii

 

BERBAGI
Artikel sebelumyaSekularisme Sebagai Masa Depan Islam Politik
Artikel berikutnyaRuang Tunggu
Penulis adalah alumni MTI Canduang. Saat ini kuliah di Jurusan Siyasah Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Selain itu ia juga aktif berdiskusi di Surau Tuo Institute.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY