Surat Terbuka untuk Kongres PB IPTI dan PB Persatuan Tarbiyah Islamiyah

Surat Terbuka untuk Kongres PB IPTI dan PB Persatuan Tarbiyah Islamiyah

396
0
Islah PB Tarbiyah Islamiyah dan PERTI/sumber:minangkabaunews.

Bismillahirrahmanirahim,

Assalamualikum warahmatullah wa barakatuh,

Buya, dan Saudara-saudara saya,

Sebelum saya uraikan harapan dan perasaan, saya ucapkan selamat berkongres. Mungkin surat ini, tidaklah mewakili seluruh hati dan perasaan warga dan jamaah Tarbiyah Islamiyah di seantero Indonesia, bahkan dunia terhadap Pengurus Besar Tarbiyah Islamiyah dan Pengurus Besar Ikatan Pemuda Tarbiyah Islamiyah. Surat ini barangkali sangat subjektif, tapi tak apalah. Kendati tak akan mampu mempengaruhi konstelasi politik dan arah kongres, surat ini hanya ditujukan sebagai “pengingat” saja. Meskipun surat ini tidak akan dibaca, apalagi digubris. Namun, ‘unek-unek’ yang saya rasakan mestilah disampaikan. Jika tidak, tentu akan menjadi penyakit, asam lambung, ataupun jantung.

Mengawali keluh, saya ingin ingatkan kembali diktum sakti “teroeskan membina tarbijah islamijah, sesoei dengan pelajadran yang koe berikan.” Demikian Syekh Sulaiman Arrasuli mewasiatkan kepada seluruh penerus Tarbiyah Islamiyah. Wasiat ini, jika kita mau jujur dan mau mengali, tentu bukan hadir dari ruang hampa. Apalagi sekadar ‘igauan’ Inyiak Candung. Tapi sejatinya lahir sebagai resep yang diduga dapat menyelamatkan Tarbiyah Islamiyah dari sengkarut, dan sengketa yang tak kunjung reda dan bahkan terus meninggi. Tapi entah mengapa, wasiat Syaikhuna Sulaiman Arrasuli, hanya menerpa ruang hampa. Tak berpengaruh terhadap perilaku kita sebagai warga Tarbiyah Islamiyah. Seolah kita punya jalan, dan tafsir sendiri–kemana organisasi besar Tarbiyah Islamiyah ini akan dibawa menembus batas zaman, dan generasi.

logo_tarbiyahAkhirnya, dengan mengabaian khittah terus menerus, tibalah kita pada zaman penuh kegelapan dan anomali. Tarbiyah Islamiyah bagaikan ‘orang gaek’, lupa ingatan. Kehilangan daya respon terhadap zaman, dan perubahan dunia yang begitu cepat. Satu per satu, generasi terbaik Tarbiyah Islamiyah menyeberang ke berbagai organisasi lain, Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama. Mudah-mudahan, tidak ada yang bergabung menjadi anggota ISIS dan menganut mashab Wahabi. Siapa yang pantas kita salahkan? Jawaban tentu akan beragam, dan dalam rupa yang tidak teruraikan. Sementara dapur Tarbiyah Islamiyah, yakni Madrasah Tarbiyah Islamiyah, satu per satu tumbang dan bangkrut. Di berbagai daerah, terutama di Sumatera Barat, Madrasah Tarbiyah Islamiyah hanya tinggal papan nama yang digerogoti anai-anai. Kita lupa balas jasa. Sungguh kita telah menjadi ‘anak durhaka’ membiarkan Madrasah Tarbiyah Islamiyah mati sebelum waktunya.

Buya dan Saudara-saudara kami,

Saya tidak tahu imajinasi apa yang ada di benak Buya, dan Saudara-saudara di Pengurus Besar Tarbiyah Islamiyah dan PB IPTI hari ini. Entah apa pula maksud yang termaktub di dalam dada buya dan saudara-saudara terhadap perahu besar kita ini, Tarbiyah Islamiyah. Sungguh saya tak ingin menduga. Biarlah saya mengutarakan imajinasi yang ada dalam kepala saya, dan harapan yang masih tersisa di dalam dada.

Saya lelah mempersoalkan nir-perhatian PB Persatuan Tarbiyah Islamiyah dan PB IPTI terhadap madrasah. Melalui surat ini, biarlah saya menyampaikan beberapa igauan. Pertama, sudah saatnya Persatuan Tarbiyah Islamiyah dan Ikatan Pemuda Tarbiyah Islamiyah, mengambil peran strategis dalam membangun wacana keagamaan. Menyambung lidah masyarakat Tarbiyah Islamiyah, tatkala umat menghadapi persoalan yang sejatinya membutuhkan fatwa dari buya-buya. Tatkala umat membutuhkan advokasi nyata dari Ikatan Pemuda Tarbiyah Islamiyah.

Kedua, sudah menjadi kebenaran umum, dan kita semua tahu selama ini Persatuan Tarbiyah Islamiyah cenderung terlibat politik praktis. Dukung mendukung partai yang tak jelas warna, cita-citanya, apalagi ideologi. Bahkan terlibat mendukung partai, dimana koruptor bersarang di dalamnya. “Afala ta’qilun?” Mengapa seperti itu? Alasannya sudah dapat diduga. Dengan cara itu, organisasi dapat hidup dan bertahan. Salahkan? Entahlah.

Dalam soal politik praktis, pertanyaan saya adalah “mengapa tidak terngiang dan tertangkap oleh telingga saya, Persatuan Tarbiyah Islamiyah tidak akan terlibat dukung-mendukung, tapi berusaha berijtihad menetapkan kriteria kepemimpinan bangsa yang sesuai dengan konteks dan kebutuhan umat dan rakyat.” Apakah hal itu terlalu berat? Atau terlalu berbahaya. Karena dengan demikian, Persatuan Tarbiyah Islamiyah tidak mendapatkan “kue”. Tentu hal terakhir ini, hanya ketakutan saja. Mudah-mudahan Persatuan Tarbiyah Islamiyah tidak sepengecut itu, dan senaif itu.

Ketiga, dalam bidang pendidikan. Adakah Persatuan Tarbiyah Islamiyah berpikir tentang Universitas Tarbiyah Islamiyah? Mungkin belum. Tapi pikiran itu sudah harus ada. Bagaimana mungkin, tradisi keilmuan Tarbiyah Islamiyah yang berbasis pada I’tikad Ahlusunnah wal-jamaah dan berfikih pada mashab Syafi’i, hanya disemaikan sebatas madrasah saja. Meskipun bisa, dan layak, tapi pertarungan keilmuan sesungguhnya terjadi pada level universitas, dan perguruan tinggi. Di universitas inilah tradisi keilmuan Tarbiyah Islamiyah akan bersintesis, bergulat dengan ilmu lain. Saling mewarnai, dan akan melahirkan pemikiran keislaman yang khas dan unik.

Keempat, dalam bidang ekonomi. Kapankah Persatuan Tarbiyah Islamiyah keluar dari lingkaran transaksional untuk menghidupi organisasi yang cukup besar ini. Mempunyai usaha sendiri —rumah sakit; badan usaha halal lainnya, yang tidak hanya menghidupi organisasi tapi juga mampu membantu negara dalam mengurangi pengangguran di negeri ini.

Empat imajinasi ini penuh dengan tanda tanya. Jawabannya, bukan pada saya; kami; dan inyiak-inyiak kami yang ada di Madrasah Tarbiyah Islamiyah. Tapi jawabannya ada pada tindakan nyata Pengurus Besar Tarbiyah Islamiyah dan Pengurus Besar Ikatan Pemuda Tarbiyah Islamiyah.

Terakhir, masalah “islah” antara Perti dan Persatuan Tarbiyah Islamiyah, tadinya saya tak ingin berkomentar. Tapi entah setan apa yang hinggap di kepala saya, akhirnya terpancing juga untuk mengomentari. Saya yakin, dalam pikiran saya, mungkin juga dalam nalar warga Tarbiyah Islamiyah lainnya, persoalan ini sejatinya telah selesai tatkala Syaikhuna Sulaiman Arrasuli mengeluarkan dekrit kembali ke khittah puluhan tahun lalu. Tapi entah mengapa, seolah-olah kita mengubur dekrit itu. Jadilah dua organisasi ini (PERTI dan PTI) seolah musuh bebuyutan. Saling sikut-menyikut. Bagaikan kucing dan anjing. Tak pernah mau islah. Tersandera egosentris-politik dan pragmatisme. Sudahlah, selesaikan saja secara adat dan nilai-nilai ukhwah islamiyah. Salaman dan berangkulan. Itu saja.

Demikian surat ini saya hantarkan, menyambut Kongres Nasional bersama antara Persatuan Tarbiyah Islamiyah dan Ikatan Pemuda Tarbiyah Islamiyah. Harapan [jika masih tersisa] melalui momentum ini, mudah-mudahan buya-buya dan saudara sekalian di pusat mampu berpikir radikal, dan merumuskan langkah nyata untuk perbaikan, dan kepedulian yang lebih besar. Dengan mengesampingkan kepentingan sesaat. Dengan cara itu, kepercayaan warga Tarbiyah Islamiyah dapat diraih perlahan. Semoga.[]

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY