Surat Terbuka untuk Pimpinan Ponpes MTI Canduang

Surat Terbuka untuk Pimpinan Ponpes MTI Canduang

1030
0
Ilustrasi/Dok.Istimewa

Beberapa waktu lalu, lewat media sosial, saya mendapatkan informasi pimpinan MTI Canduang berganti. Pergantian ini menghenyakkan saya. Tak ada informasi yang cukup saya dapatkan terkait proses pergantian pimpinan ini. Dan memang tidak perlu saya dapatkan. Pimpinan memang perlu diganti ketika memang perlu diganti. Tak perlu kasak-kusuk sebelumnya, karena ini bukanlah pergantian menteri ala kabinet presiden. Maka saya sebagai alumni, tentu saya menerima kabar pergantian ini dengan suka cita.

Apalagi ketika informasi tersebut lengkap mengatakan bahwa pimpinan sekolah (baca: Rais ‘am) dijabat oleh Buya Badra Syahruddin Arrasuli dan wakilnya, Ustad Masril Katik Bandaro . Keduanya tak asing bagi saya. Nama pertama hadir dalam ingatan saya sebagai pengalaman di kelas dua MTI Canduang, 2004 silam. Waktu itu, Buya Badra sudah dilantik menjadi Rais ‘Am, yang entah kenapa waktu itu hanya menjabat lebih kurang dua tahun, dan kemudian digantikan oleh saudaranya, Buya Amhar Zein Arrasuli. Kabar yang saya dengar karena kesibukan Buya yang belum dapat ditinggalkan.

Yang menarik adalah kesan pertama Buya Badra di hadapan kami, para santri. Ketika itu beliau menjadi pembina upacara, memperkenalkan dirinya, dan mengajak bersama-basama membangun pesantren rintisan Syekh Sulaiman Arrasuli ini. Sehabis upacara, tak ada yang menyangka, beliau bergerilya langsung ke kelas-kelas. Ia menyalami kami satu persatu. Maka berebutan lah kami meraih jabatan tangan sang Buya. Ia tenang berjalan di kelas, menghampiri kami sampai ke bangku belakang. Buya hadir di hadapan kami sebagai sosok yang terbuka, tak sungkan “turun ke bawah”, dan memperlihatkan diri sebagai sosok yang komunikatif. Kata yang terakhir ini saya buktikan ketika di kemudian hari, seperti sekarang ini, saya memiliki sosial media, facebook, dan kebetulan “berteman” dengan Buya. Saya tak ingat, apakah saya yang meminta pertemanan, ataukah Buya sendiri yang ingin berteman dengan saya. Tapi seingat saya, Buya lah pertama kali melepaskan “enter” dalam chatting kami. Dan memang terbukti demikian ketika saya lihat kembali ketika akan menulis surat ini.

Chatting dengan Buya, pemimpin salah satu pondok Pesantren Tarbiyah Islamiyah di Sumatera Barat. Saya tak tahu apakah ini masih disebut unik atau tidak. Tentu kita tidak bisa membayangkan komunikasi seperti ini terjadi di masa lalu. Kita tentu tidak bisa bilang “Mantap Buya” sambil acungkan jempol di hadapan hidung Syekh Sulaiman Arrasuli.

Saya tak tahu apakah komunikasi seperti ini sebuah kekonyolan, ataupun kegilaan zaman ini. Entahlah, yang jelas Buya Badra tetap saja bersedia bertukar chat dengan saya. Buya berkomunikasi apa adanya, sesuai zamannya. Kata yang saya sukai adalah “ananda” untuk memanggil saya. Buya menghadirkan dirinya sebagai sesosok orang tua yang berhadapan sabar dengan anaknya yang bengal.

Nama yang kedua juga tak asing. Saya tak pernah bertemu ustad semasa sekolah. Komunikasi saya dengan ustad Masril berawal dari kunjungan ustad ke Yogyakarta. Ustad pun sempat beberapa kali berdiskusi dengan kami di Jogja. Teranglah dari diskusi tersebut, ustad seorang guru yang terbuka dengan pandangan-pandangan baru, bersedia menerima “kenyelenehan” kami yang muda-muda, dan sedia bertanya pada hal yang tidak dimengerti. Hal yang sama terjadi ketika saya mewawancari ustad untuk kepentingan media Tarbijah Islamijah.

Ketika saya mendapatkan kabar, Buya Badra dan Ustad Masril diamanahkan memegang tampuk pimpinan MTI Canduang, saya berniat menulis surat ini, sebagai bentuk sembah hormat dan harapan. Buya Badra dan Ustad Masril adalah pasangan yang benar-benar pas untuk melanjutkan tampuk pimpinan. Dan tentu saja saya mesti ucapkan salam terima kasih kepada Buya Amhar Zein Arrasuli, yang telah mengawal pengembangan pesantren.

***

Komunikasi yang baik dan berpikiran terbuka adalah kata kunci. Ini alasan saya sebutkan Buya Badra Syahruddin Arrasuli dan Ustad Masril Katik Bandaro adalah pasangan yang benar-benar pas untuk melanjutkan kepemimpinan sekolah. Ini pula kiranya dapat menjadi jawaban atas beberapa persoalan kita belakangan ini. Tantangan melanjutkan kepemimpinan pesantren Tarbiyah Islamiyah tidak hanya terletak pada persoalan masa depan saja. Tapi juga pada persoalan masa lalu yang tidak diselesaikan, didiamkan.

Jika direntangkan semua persoalan, tentu tak cukup satu-dua surat dihadapkan. Pada kesempatan ini, beberapa poin surat ini saya susun dari “persoalan masa lalu” yang belum diselesaikan itu. Beberapa mungkin sudah Buya sadari dan maklumi. Mungkin tidak ada hal baru yang saya tulis di bawah ini. Penulisan surat ini justru dibangun berdasarkan kemasa-laluan masalahnya tersebut. Ia dianggap remeh, dan tak perlu dipersoalkan lebih jauh. Dan yang kedua karena keremehan masalah ini, tak jarang ia bisa menjadi “kerikil dalam sepatu”, benar-benar mengganjal.

Asumsi ini saya bangun berdasarkan pesantren sebagai ruang para ulama; ilmu sebagai amalan; dan masyarakat sebagai satu sub komunitas yang tidak bisa dipisahkan ketika berbicara pesantren. Dan pada akhirnya, tulisan ini tentu dikemas atas nama pengalaman. Untuk kata yang terakhir ini, tentu saja kita maklum, bahwa pengalaman saya tak seberapa, umur pun terbilang kecil.

Dan jika ada permintaan, kandak dan kata yang tak sepatutnya. Tentulah Buya beserta pimpinan lain sadar, ini hanya permintaan dan kegelisahan anak kecil. Maka inilah poin-poin yang “direngekan” si anak kecil.

Ciptakan suasana kondusif dalam civitas akademika MTI Canduang

Sudah menjadi rahasia umum bahwa kritikan hal lumrah di pesantren kita ini. Tak ada orang yang tak lepas dari kritikan, dan jarang sekali orang yang tidak mengkritisi. Maka hendaklah kita mehadapi semua ini dengan arif, tenang, dan tidak reaksioner. Kritikan akan pimpinan dapatkan dari sana-sini. Seolah-olah semua kerja kita tidak ada benarnya saja. Selalu kurang untuk memenuhi ekspetasi para kritikus. Maju kena, mundur pun kena. Atau dalam bahasa lain, “diimpik dari ateh maupun bawah”. Saya kira, setiap kritikan mesti ditanggapi dengan skala yang berbeda-beda. Pimpinan tentu menyadari ini; manusia tidak bisa benar-benar memenuhi keinginan manusia.

Menanggapi kritikan dengan skala yang berbeda-beda maksudnya, tidak setiap kritikan mesti dilaksanakan. Kritikan tidak berarti objek yang dikritisi salah, dan pengkritik menghadirkan kebenaran. Kesalahan dan kebenaran tidak hadir di sini. Kritikan hanya berarti memberikan ruang pada pihak lain untuk menyatakan pandangannya atas sebuah persoalan; menyatakan bahwa yang lain juga punya hak didengar; menyatakan bahwa kita bukanlah pimpinan yang selalu mewakili Yang Paling Benar. Pimpinan tentu punya prioritas. Saya rasa prioritas inilah yang dapat menjadi tolak ukur untuk meghadapi kritikan tersebut. Kritikan hendaknya dijadikan pertimbangan.

Prioritas inilah yang hendaknya dimaklumi dan diresapi oleh civitas akademika MTI Canduang. Kita tentu tak bisa katakan bahwa semuanya akan maklum-maklum saja, seiya saja. Maka hendaklah pimpinan mawas diri dengan kondisi ini. Pimpinan hendaknya mampu mengkomunikasikan prioritas ini dengan seluruh elemen MTI Canduang. Mengkomunikasikan, saya rasa lebih tepat daripada bertindak reaksioner; langsung cut; langsung bikin peraturan dan beri hukuman; atau bahkan menciptakan jarak dengan para kritikus.

Berbeda menghadapi kritikus, berbeda pula dengan orang yang sinis. Kritikus banyak, dan sinis tidaklah sedikit. Saya melihat justru yang belakangan inilah yang lebih banyak menggerogoti kita. Bedanya terletak pada kepercayaan. Berbeda dengan kritik, sinis tak menaruh kepercayaan pada yang lain. Saya merasa ini menyesakkan ruang bicara kita. Semasa saya sekolah, bahkan ketika saya pulang tahun lalu, tak banyak yang berubah. Pimpinan sinis dengan para guru, guru pun sinis dengan kata-kata pimpinan, dan santri? Mereka terjebak dalam ruang kesinisan ini; menjadi ikut sinis pula; atau malah menganggap persetan dengan ini semua.

Lihatlah ruang berkumpul kita. Bagaimana komunikasi terjalin disini. Tak heran lagi; para guru berpacu komentar jelek pada pimpinan ataupun tetek bengek keburukan santri; Pimpinan mengatakan guru lebih susah diatur daripada santri; dan santri gerundel tak karuan merespon polah guru dan pimpinan pesantrennya.

Saya tak tahu darimana ini berpangkal, atau jangan-jangan memang tak berpangkal? Hadir begitu saja dan dianggap biasa, atau malah diakui sebagai penyedap obrolan? Saya rasa mesti ada langkah baru. Pimpinan mesti membangun rasa saling percaya dengan segala lini. Pimpinan jangan lagi cepat berburuk sangka dan melemparkan kesalahan pada pihak lain. Begitu pun para guru –saya melihat guru mengambil peran ulama di sini, menjadi panutan- tak semata mengutuk sana-sini, bahkan sampai menjadikan santri bual-bualan kesumpekan.

Saya mengerti para santri yang baik dan penurut bisa dihitung dengan jari. Siapa yang tidak “lena” dengan perangai gadis-bujang-remaja tanggung ini? Saya bahkan merasai sendiri susahnya menghadapi para santri, ketika bertandang ke pesantren tahun lalu. Gadis-gadisnya banyak berpolah genit dan melunjak, dan para bujangnya nakal seperti anak setan. Saya sendiri pun nakal, badboy, tapi agaknya kenakalan saya “tidak lagi kekinian” jika berhadapan dengan adik kelas saya. Tapi lagi-lagi tak sepantasnya kenakalan menjadi alasan guru dan pimpinan untuk memojokkan, bersikap sinis dengan mereka. Bukankah ada pepatah lama; Guru kencing berdiri, murid kencing berlari?

Pimpinan hendaknya tampil mengomandoi langkah membangun rasa saling percaya ini. Saya rasa pimpinan mesti siap mengalah dan berani “turun ke bawah”. Pimpinan dan guru mesti menyadari benar posisinya sebagai subyek yang dicontoh, digugu. Bukankah para guru adalah arsitektur mental manusia?

Ciptakan ruang belajar untuk mengaji ahlussunah wal jamaah, ketarbiyah-islamiyahan.

Sudah menjadi keniscayaan madrasah berlabel Tarbiyah Islamiyah, didirikan pula oleh ulama yang juga mendirikan organisasi keagamaan Tarbiyah Islamiyah, meresapi nilai etika ketarbiyahan. I’tikad Ahlussunnah Wal Jamaah sebagai pondasi keagamaan juga mesti kuat. Apa yang digariskan Syekh Sulaiman Arrasuli sudah cukup menjadi patok-patok pendidikan pesantren. Kita dituntut meneruskan membangun patok pendidikan tersebut dengan tidak melupakan kondisi sosial zaman ini.

MTI Canduang hendaknya mampu menyediakan dan memfasilitasi pembelajaran ketarbiyah-Islamiyahan ini. Logikanya tidak hanya mempersiapkan peserta didik saja, tapi membangun etika ketarbiyahan dalam hidup sosial masyarakat. Persoalan sosial-keagamaan zaman ini mesti dibahas dan dicarikan jalan keluarnya lewat studi ketarbiyahan. Untuk itu, merumuskan kembali ketarbiyah-Islamiyahan sebagai nilai-etika pendidikan mesti digalakkan kembali. Buatlah kelas atau mata pelajaran, dimana kita bisa bertanya-jawab dan belajar Tarbiyah Islamiyah, mengenal doktrin-doktrin institusi pendidikan ini, dan lantas mendapatkan keterangan dari ulamanya atas pesoalan-persoalan sosial masyarakat yang sedang terjadi.

Perumusan nilai ketarbiyahan bisa dimulai lewat studi literasi ulama Tarbiyah Islamiyah. Kenapa kita mesti bertarbiyah? Apa yang ingin dicapai oleh pesantren Tarbiyah Islamiyah? Adalah pertanyaan-pertanyaan yang mesti terus dijawab. Setiap pimpinan pondok pesantren Tarbiyah Islamiyah akan “dikutuk” dengan pertanyaan-pertanyaan serupa ini. Saya rasa bangunan jawaban yang diberikan mesti jelas, dan dirumuskan dari dalam diri institusi sendiri; kita tidak bisa lepas dari patok yang telah ditanamkan jauh pada waktu pendirian, yakni mengambil tanggung jawab “keulamaan”, menjadikan studi Islam klasik sebagai pondasi, dan turut serta berlalu-lintas dalam lika-liku hidup bermasyarakat.

Saya rasa demikianlah spesifikasi pendidikan kita. Kita mesti arif bahwa corak pendidikan kita tidak sama dengan model pendidikan lain, seperti sekolah bikinan pemerintah misalnya. Kita tidak dipersiapkan untuk “takluk” dengan ritme pemerintah. Kita punya spesifikasi dan orientasi yang lebih “berharga”, tak mesti hanyut dalam titah politik pendidikan mainsteam dewasa ini.

Saya tak ingin menutup mata, ada upaya mengambil jalan lain dari patok yang digariskan founding father MTI ini. Mungkin ada kehendak untuk lebih menyesuaikan diri dengan laju zaman, atau mungkin karena keinganan kuat untuk mengejar target pemerintah. Entahlah. Tapi masalah baru justru bermunculan karena itu, ketika orientasi diarahkan pada kehendak zaman, tentu si zaman lebih banyak berbicara, mendikte. Ketika target pemerintah jadi panglima, tentu indikator berhasil tidaknya pendidikan dititahkan dari si punya kuasa. Maka tak heran lah, pendidikan menjadi mahal, guru berburu gaji, santri gila prestasi, dan pimpinan jadi frustasi.

Kenapa belajar agama menjadi mahal? Kenapa ulama tamak harta? Dan kenapa mengelola pendidikan Islam jadi tak menggairahkan? Bukankah ini kesalahan. Mari kita mengaji ulang ketarbiyahan itu kembali.

Modernitas tidak mesti diikuti dengan kegilaannya.

Saya bukannya orang yang tidak menyukai zaman. Bukan pula orang yang tak bangga dengan apa yang telah dicapai saat ini. Bukan! Saya hanya ingat salah satu poin dalam tulisan Inyiak Canduang, banyak paham-paham aneh yang bermunculan, kita hendaknya mengaji kembali ke pangkal sumber. Poin ini dituahkan Inyiak Canduang dalam term perbedaan pandangan dalam syariat. Saya pikir begitu pula hendaknya dalam melihat zaman ini –dan modernitas sebagai pahamnya. Dan pangkal kajinya di sini sebagai sumber adalah sejarah kita sendiri.

Dan sejarah kita, jika boleh saya katakan, adalah sejarah pendidikan Islam yang mendedikasikan dirinya pada pembangunan paham keagamaan yang “layak” untuk masyarakat, yang tidak melupakan nilai-nilai luhur dalam kehidupan masyarakat itu sendiri.

Pondok pesantren Tarbiyah Islamiyah adalah sejarah dedikasi. Saya katakan demikian, karena ada nuansa kerelaan dalam mengajarkan ilmu, mungkin bisa disebut ikhlas atau mengharapkan keberkahan. Begitu pula ketika saya katakan, membangun paham keagaman yang “layak”, ada nilai etis disana bukan efesiensi. Dan sejarah pendidikan yang tidak melupakan nilai luhur dalam kehidupan masyarakat, ada rasa idealis, bukan pragmatis.

Bagaimana modernitas yang diagungkan dalam sistem pendidikan hari ini akan benar-benar kita adopsi, jika benar sejarah kita demikian?

Saya rasa pimpinan mesti berani bersikap; mengkritisi zaman ini dengan mengaji sejarah kita kembali untuk menawar kuatnya pesan modernitas dalam dunia pendidikan. Buya akan dihadapkan dengan kuatnya istilah; pendidikan efektif, metode pembelajaran kitab yang efesien, guru yang teruji lewat kompetisi dasar, santri yang mesti melek sains, dan beragam tuntutan pendidikan modern ini. Saya sendiri, menyebut tuntutan yang belakangan ini sebagai kegilaan modernitas.

Buya dan para pimpinan MTI Canduang sekarang, dengan sejarah pendidikan ponpesnya, akan dihadapkan pada “kegilaan” macam ini.

Modernitas ini memang kuat, juga seksi. Mungkin karena itu lah beberapa waktu silam saya dengar dari salah seorang pimpinan pesantren, “kita sedang berada dalam persaingan dunia pendidikan.” Ya. Baiklah, coba kita uji pesantren kita ini lewat logika modernitas pula, lewat penelitian kecil-kecilan.

Mungkin sekolah dapat lakukan penelitian pada orang tua santri Tarbiyah Islamiyah Canduang tentang harapan mereka pada anaknya ketika pertama kali didaftarkan ke pesantren kita ini. Apa yang mereka bayangkan ketika anaknya masuk pesantren Tarbiyah Islamiyah?

Mungkin lewat penelitian kecil-kecilan itu kita ketahui; benarkah pendidikan modernitas –dengan “kegilaannya” tersebut- dapat menjawab harapan orang tua santri?

Jika benar, marilah kita berdiri terhormat bernegoisasi dengan “kegilaan” modernitas itu dengan tidak menipu sejarah kita. Jika tidak, tentu pimpinan tak ingin dikatakan sebagai ulama yang melencengkan amanah orang tua santri.

Terus membangun hubungan kongkrit dengan masyarakat.

Buya hendaknya berani mengambil langkah konkret untuk mengharmoniskan hubungan internal sekolah dengan masyarakat sekitar Canduang. Ambillah langkah-langkah strategis untuk saling menghormati pada kedua belah pihak. Dalam hal ini, saya punya beberapa permintaan yang mungkin dapat dipikirkan pimpinan lebih jauh,

  • Berikan pendidikan gratis hingga tamat untuk santriwan/santriwati yang berasal dari kanagarian Canduang.
  • Berikan kelas malam, diperuntukkan bagi para pelajar SMP, SMA atau kuliah yang ingin mendapatkan pelajaran agama.
  • Doronglah para guru untuk berinteraksi dengan masyarakat lewat kegiatan-kegiatan sosial.

Apakah langkah-langkah ini dapat menjamin terciptanya keharmonisan? Tentu tidak, tak ada yang menjamin. Tapi setidaknya, kita terus membuka diri, memutus jarak. Kita tidak menafikan bahwa masyarakat pun adalah komunitas yang rumit. Ini tantangan para ulama.

Tak ada ulama, sebagai pewaris para nabi, yang tidak dihadapkan pada kerumitan ini, sebagai tanggung jawab moril dan sosial mereka. Lagi-lagi saya berpikir, langkah baik bisa dimulai lewat komunikasi baik, materil maupun simbolis. Kita dapat “berbicara” bersama mereka, menjawab “kebutuhan” mereka, dan hidup bersama dalam “permasalahan” mereka.

Bangun hubungan kultural intensif dengan pesantren Tarbiyah Islamiyah lainnya

Senada dengan menjalin hubungan dengan masyarakat, begitu pula ketika kita berhubungan dengan pesantren lain. Buya beserta pimpinan lain dapat mengambil langkah besar dengan membuka ruang bersama dengan institusi pendidikan lain di Sumatera Barat. Buya dapat memulai inisiasi silaturrahmi. Buya dapat menjemput bola ke seantero negeri. Tak perlu berumit-rumit dengan mengupayakan organisasi. Ya, setidaknya itu tidak terlalu kita butuhkan sekarang ini.

Mungkin tradisi kunjung-mengunjungi ini, dahulu kala dimediasi lewat tradisi tukar pendapat lewat diskusi para ulama. Yang pimpinan lakukan tak perlu serumit itu. Buya hanya perlu membuka kran komunikasi intens dengan pimpinan pesantren, lewat silaturrahmi. Itu saja sudah cukup keren. Silaturrahmi inilah nantinya yang akan memudahkan jajaran di bawah Buya untuk ikut bersilaturrahmi. Bukankah silaturrahmi itu sunnah nabi?

Setidaknya silaturrahmi ini dapat menjadi penawar ruang konflik dan persaingan yang terjadi antar pesantren. Jadi pertemuan pesantren selama ini tak melulu soal perlombaan atau ruang politik. Adakanlah ruang-ruang menyenangkan, ruang jamu-menjamu makanan misalnya. Bukankah kita di sini semuanya suka makan? Pimpinan dapat bersilaturrahmi ke pesantren tarbiyah di Malalo, untuk mencoba ikan bilih Singkarak misalnya, dan di lain hari bisa ke Tarbiyah Maninjau untuk “manggiloirinuak. Banyak Nagari yang menyediakan kuliner menggairahkan.

Lantas, dengan saling bersilaturrahmi, kita bisa menawar kegelisahan satu sama lain, membangun asa bersama-sama, belajar dari pesantren lain dan mengeja pesantren kita. Kita bisa mawas diri. Mungkin lewat komunikasi antar pesantren –sebagai warisan moyang kita, sebagai sunnah rasul kita- akan kita rasakan nikmat dan karunia Nya.[]

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY