Syekh Amran dan Alasan Mendirikan Ponpes at-Taqwa

Syekh Amran dan Alasan Mendirikan Ponpes at-Taqwa

1001
1

         Syekh H. Amran A. Shamad adalah seorang ulama Canduang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Ia adalah murid Syekh Sulaiman Arrasuli dan ikut serta menjadi pengajar di MTI Canduang, sekolah yang didirikan gurunya itu, hingga 2003. Pasca itu, Ia bersama sahabat-sahabatnya mendirikan pesantren at-Taqwa di Tigo Kampuang,  Canduang. Lokasi yang tak jauh dari sekolah gurunya itu. Keinginannya mendirikan Pondok Pesantren at-Taqwa tak lepas dari kegelisahan dan kritiknya atas kondisi sosial masyarakat dan sistem pendidikan Islam. Dari berbagai sumber, kami merangkum alasan dan pertimbangan Syekh Amran A. Shamad mendirikan Pesantren at-Takwa, yaitu:

  1. Kondisi bangsa yang terjebak pada krisis multi-dimensional.

Perilaku sosial yang di tunjukkan masyarakat nyaris tidak mencerminkan nilai ideal yang ada. Nilai lama sebenarnya sudah mapan dan berakar kuat, namun arus budaya global yang tak henti-hentinya menggerogoti nilai-nilai ideal itu tersendiri, menyebabkan bangsa ini mengalami kegoncangan kultural yang tak terkendali. Kondisi seperti ini, akan sangat memerlukan upaya-upaya pencerahan dalam bidang budaya, terutama pencerahan dengan paradigma agama.

  1. Peran strategis yang diemban sistem pendidikan masa lalu, disadari masih memiliki kekuatan kultural.

Ini dirasa penting untuk mengisi ruang kosong proses pencerahan di tengah bangsa yang hanyut dalam berbagai kemelut sosial, kultural yang membingungkan. Bangsa ini memerlukan lahirnya sosok ulama ideal yang kharismatik, dimana masalah sosial mendapat solusinya. Bangsa ini memerlukan pegangan “illahiyah” untuk membentengi intervensi budaya global yang tanpa arah.

  1. Karakter ulama yang dapat dijadikan panutan umat sudah semakin langka.

Kelangkaan ini disebabkan oleh sistem pendidikan agama yang tidak diorientasikan ke arah pengkaderan ulama yang dipercaya umat tersebut. Pendidikan para ulama kebanyakan lebih pada proses tranformasi ilmu pengetahuan secara kognitif. Minangkabau pada masa lalu telah menunjukkan keunggulan dalam menciptakan ulama yang berkualitas. Kehadiran mereka telah dirasakan manfaatnya oleh bangsa ini. Kaderisasi ulama di masa itu berjalan lewat sistem pendidikan tradisional, di Surau. Namun ketika sistem pendidikan modern (baca: barat) mulai menyentuh serta menjalari sistem pendidikan, maka terjadilah perubahan-perubahan yang sangat mendasar, terutama dalam kualitas hasil didik. Kita tidak lagi menyaksikan lahirnya ulama-ulama sebagaimana yang dulu ada.

  1. Canduang merupakan salah satu sentra pendidikan tradisional Minangkabau masa lalu.

Daerah ini telah berhasil melahirkan banyak ulama kharismatik dan sangat berpengaruh, tidak saja didaerah ini, akan tetapi juga meluas ke mancanegara. Kaderisasi ulama, disini berlanjut setidaknya sampai pertengahan abad ke 20, namun perubahan-perubahan sistem pendidikan selama paruh kedua abad itu, telah mempersempit ruang bagi lahirnya kader ulama baru. Bahkan saat ini tidak satu pun lembaga pendidikan agama yang secara khusus  dan konsisten menempatkan diri pada jalur kaderisasi ulama tersebut.

  1. Beberapa orang yang masih sempat mencicipi ujung sistem kaderisasi ulama di daerah Canduang, mulai mengkhawatirkan keadaan belakangan ini.

Berangkat dari semangat keulamaan yang diwarisi, mereka bertekad untuk mewujudkan sebuah lembaga pendidikan dengan citra tradisional. Citra tradisional yang dimaksudkan adalah sebuah lembaga pendidikan yang konsisten pada materi-materi kitab-kitab klasik/kitab kuning, sebagaimana digunakan oleh ulama-ulama minangkabau masa lalu. Sistem pendidikan ini akan dikelola dengan management dan pendekatan modren yang disesuaikan dengan perkembangan masa kini.

  1. Dukungan kuat dari masyarakat Canduang.

Ini terbukti dari kesediaan masyarakat mewakafkan tanah untuk lahan bangunan sekolah seluas I.k.2000 M2 dan I.k1000 M2 dengan kemungkinan perluasan menjadi I.k.10.000.

 

Syekh Amran mendirikan Pondok Pesantren Tarbiyah Islamiyah At-Taqwa Canduang tidak sendirian. Ia mendirikan at-Taqwa  bersama Muhammad Syukur, dan murid-muridnya seperti Masril Khatib Bandaro, Amilizar Amir Khatib Sampono, Busra Khatib Bagindo, Endri Rais Khatib Nan Tungga, Metrizal Sinaro Malin, dan pemuka masyarakat Canduang. Ponpes at-Taqwa telah didirikan pada Kamis, 1 April 2004. Pondok Pesantren Tarbiyah Islamiyah ini memulai proses belajar-mengajar pada Rabu, 14 Juli 2004, dan terus berkembang hingga sekarang.[]

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY