Tanah Bagonjong di Tanah Rantau

Tanah Bagonjong di Tanah Rantau

758
0

Benni Andika, seorang mahasiswa pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta mengadakan pentas seni pada 15 Juni 2015 lalu. Acara diadakan di halaman pascasarjana ISI, jalan Suryodiningratan, Yogyakarta. Pementasan diadakan dengan mengambil tema Babaliak Banaagari “Kaba Tanah Bangonjong, sengketa tanah pusaka ranah minang.” Pentas ini ditujukan sebagai ujian akhir pascasarjannya.

Tema ini menceritakan tentang konflik tanah pusaka di daerah Minangkabau, Sumatera Barat. Pementasan menarik perhatian masyarakat, tebukti dengan dipenuhinya halaman kampus pasca ISI. pementasan yang di mulai pukul delapan malam hari hingga pada sepuluh malam. Acara dibuka dengan silek pasambahan dan juga tari pasambahan. Acara yang berlasung selama dua jam tersebut ditutup dengan tari piring.

Beni Andika sebagai pelaksana sekaligus sutradara pementasan mengatakan, acara  pentas budaya kaba tanah bangonjong terinspirasi dari permasalahan dalam salah satu suku di tanah Minang. Permasalahan itu adalah konflik memperebutkan harta pusaka antara mamak dan kemenakan. “Mamak telah menjual harta pusaka. Pemasalahan harta pusaka inisudah terjadi dimana-mana. Cerita ini diangkat dari kisah nyata yang terjadi pada tahun 1983 di lereng Gunung Marapi, tepatnya di Labuang Nagari Canduang Sumatra Barat.”

Dalam budaya Minangkabau, status tanah pusaka adalah tanah milik bersama dalam sebuah suku adat. Tanah ini tidak boleh diperjual-belikan. Mamak sebagai pemimpin dalam sebuah suku adat bertanggung jawab untuk menjaga dan mempertahankan tanah pusaka tersebut. Dalam cerita randai ini, Beni mempertontonkan dua figur mamak, mamak yang arif dan seorang mamak yang licik.

Pentas dipersiapkan sejak September 2014. Benimemulai garapan pentas denganmewawancarainarasumber, pembuatan naskah, pencarian actor, dan latihan. Ia meniatkan pentas ini  untuk memperkenalkan kebudayaan Minangkabau di tanah rantau. Bagi perantau Minang yang jauh dari kampung halaman, acara ini  bisa memuaskan dahaga kerinduan terhadap budayanya. “Randai cukup bisa mengobati rindu pada kampung,” ucarDevi Andrianti seorang perantau Minang asal Kamang.[]

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY