Tarbiyah Islamiyah Sarang Seniman, Menerjemahkan Zakar dengan “Cinonot”

Tarbiyah Islamiyah Sarang Seniman, Menerjemahkan Zakar dengan “Cinonot”

564
0
Ilustrasi/sumber: tempo.co

 Esai Kopi Pahi kali ini akan terbelah menjadi dua: belahan pertama semacam pengantar umum bagi rubrik yang telah berjalan beberapa episode ini. Belahan kedua, pembahasan yang lebih fokus terkait soal terjemahan.

Rubrik Kopi Pahit didedikasikan untuk esai-esai yang berkaitan dengan ketarbiyah-islamiyahan dalam arti yang paling umum dan sederhana. Umum di sini berarti mencakup segala hal-ihwal seperti orang, lembaga, masyarakat, materi pelajaran, persoalan-persoalan teoretik maupun praktik dan lain sebagainya, yang mengitari madrasah-madrasah Tarbiyah Islamiyah sejak berdirinya.  Sederhana berarti tema-tema yang diangkat adalah hal-hal yang bersentuhan dan dialami dalam keseharian mereka -yang mengidentifikasi diri sebagai orang Tarbiyah Islamiyah- baik sebagai individu maupun kolektif. Meski demikian, tetap saja ada batasan yang dipakai untuk mengendalikan arah pembicaraan dalam rubrik ini supaya kelak bisa membuahkan hasil yang berfaedah.

Batasan itu adalah apa yang disebut dengan linguistikalitas. Dengan demikian, masalah-masalah umum dan sederhana seputar ketarbiyah-islamiyahan tadi dibicarakan dalam konteks dan dalam hubungannya dengan seluk beluk bahasa.

Dari rubrik ini, diyakini, pembaca pembaca dapat memetik faedah setidaknya karena dua alasan. Pertama, alasan teoretik. Di dalam kajian hermeneutika dikenal teori yang menyatakan bahwa pengalaman manusia, baik yang sedang dijalani maupun yang sudah dibekukan dan dibukukan di dalam teks yang dikenal dengan istilah tradisi, selalu bersifat kebahasaan. Sifat kebahasaan dari pengalaman ini diistilahkan dengan linguistikalitas pengalaman.

Pengalaman tentang rasa cinta yang membuncah baru bisa diidentifikasi oleh diri sendiri dan orang lain jika telah dibahasakan, minimal lewat bahasa tatapan mata. Pengalaman sederhana ini saja memerlukan bahasa, apalagi pengalaman suatu organisasi semisal Tarbiyah Islamiyah dalam membangun suatu tradisi –atau kebiasaan—belajar yang khas. Maka sudah pasti dalam pengalaman Tarbiyah Islamiyah yang membangun tradisi pendidikan tersebut terdapat unsur kebahasaan.

Kedua, alasan pragmatis-strategis. Di antara keluh-kesah yang diarahkan pada madrasah-madrasah Tarbiyah Islamiyah sekarang ini, dan sekolah-sekolah agama tradisional pada umumnya, terdapat satu keluhan yang langsung terkait dengan bahasa. Keluhan tersebut adalah betapa di zaman sekarang kemampuan para pelajar aktif maupun lulusan madrasah dalam membaca kitab kuning sudah tidak semumpuni dahulu.

Bermacam-macam jawaban sudah diberikan, mulai dari meratapi kenyataan bahwa guru-guru tua satu per satu sudah dipanggil ke hadirat-Nya sampai caci-maki terhadap beban pelajaran umum yang menginvasi jam pelajaran agama. Beragam pula upaya untuk mengatasi persoalan ini dengan tujuan mengembalikan masa kejayaan masa lalu, pada masa dimana para santri dan alumni membaca kitab yang –Allhu rabbi- lancarnya: ada perlombaan membaca kitab kuning, ada penambahan jam pelajaran, ada pula merekrut guru-guru senior yang masih tersisa dan lain sebagainya.

Berhasil atau tidak upaya ini, demikian di luar jangkauan rubrik ini untuk menentukannya. Yang ingin dilakukan rubrik ini hanyalah melihat aspek linguistikalitas dari tradisi membaca kitab kuning yang, boleh dikata, sudah jadi -dalam arti Barthesian- mitos bagi Madrasah Tarbiyah Islamiyah khususnya, dan sekolah-sekolah agama tradisional pada umumnya.

Tidak hanya itu saja, rubrik ini ingin memeriksa aspek-aspek linguistikalitas dari segala hal-ihwal yang terkait dengan ketarbiyah-islamiyahan. Untuk menyebut contoh yang ekstrem, linguistikalitas yang akan diangkat rubrik ini tidak hanya kebahasaan yang bagus-bagus saja, misalnya gaya retorika dan logika dalam kebiasaan perlombaan muhadharah para santri, namun juga aspek linguistikalitas bahasa-bahasa yang dipakai para santri saat menawar lado (cabai) di pasar-pasar tradisional dekat madrasah, bahasa yang dipakai guru saat memergoki pelajar putra yang kedapatan “menyimpan” pelajar putri di indekosnya, bahasa rayuan cinta yang dibuat oleh para pelajar, atau bahkan bahasa caruik-caruik (jawa: Misuh) pelajar “nakal” di warung-warung dekat sekolah saat keluar main.

Ini semua akan ditempuh. Karena dengan memeriksa linguistikalitas secara demikian, maka akan diperoleh lukisan pengalaman.

Rubrik ini meyakini, deskripsi detail dari pengalaman ketarbiyah-islamiyahan -yang berhasil disaripatikan dari aspek linguistikalitas beragam pengalaman orang dan lembaga Tarbiyah Islamiyah- akan lebih menggugah ketika diceritakan dan dibaca kembali ketimbang menenerjemahkan rumusan-rumusan mati yang telah dimitoskan, semisal “teroeskan perjuangan koe dan bla-bla”. Karena, bagaimana mungkin pembaca dan pendengar akan tergugah jika “perjuangan” yang dimaksud -dalam ungkapan yang telah jadi mitos itu- tidak pernah dinarasikan kembali berdasarkan pengalaman orang-orang yang memang menjalani dan menghayatinya?

Akan berbeda rasanya jika, misalnya suatu saat, berhasil diceritakan ulang betapa lihai -atau betapa lemahnya-  bahasa gaya berdebat yang dipakai Buya Sirajuddin Abbas dalam buku 40 Masalah Agama. Di situ akan diketahui seperti apa perjuangan beliau, akan dirasakan beratnya beban pikiran beliau saat menguras otak, dan selanjutnya akan dikagumi kelebihan beliau.

***

Metode belajar agama Islam di Madrasah Tarbiyah Islamiyah, dan sekolah-sekolah agama tradisional pada umumnya, adalah metode membaca. Di sini istilah “membaca” tidak benar-benar tepat, karena kenyataan yang ada –setidaknya yang pernah penulis alami—metode yang dipakai adalah menerjemah.

Kekhasan ini juga ditemui di sekolah-sekolah agama tradisional Indonesia pada umumnya. Pelajar tidak langsung membaca atau membahas pokok soal suatu pelajaran, melainkan harus menempuh tahap penerjemahan. Untuk bisa menempuh tahap ini syarat yang diperlukan adalah penguasaan ilmu ‘alat (nahwu-sharaf), supaya bisa membaca matan (reciting).

Yang akan disoroti dalam soal terjemah-menerjemah saat ini adalah implikasi-implikasinya saja. Dengan demikian, sorotan yang bersifat evaluatif -apalagi kritik- belum akan dikemukakan, karena dikhawatirkan hanya akan membeo pada metode-metode pembelajaran kontemporer yang diberlakukan di sekolah-sekolah milik pemerintah yang –notabene- berkaca pada kebudayaan lain (non-lokal), bukan berangkat dari tradisi sendiri yang sudah berjalan.

Implikasi pertama, dan yang langsung terkait dengan keseharian, adalah pelajaran agama di Madrasah Tarbiyah Islamiyah dan sekolah agama tradisional pada dasarnya telah membekali para pelajar dengan pelajaran seni, yakni seni menerjemah.

Di sini seni tidak diartikan lagu-lagu, lukis-melukis atau dansa-dansi, dan jangan pula dibayangkan seni bersuara dan berlagak sebagaimana yang dipraktikkan oleh Ariel dan Luna. Di sini seni diartikan dengan pengertian paling dasar dan paling kuno, yakni kepandaian yang terampil karena terus  diulang-ulang, terus dilatih.

Guru dan pelajar madrasah sebagai seorang seniman penerjemah adalah seseorang yang dengan terampil. Dengan mengandalkan intuisi dan bersifat instingtif, mereka mampu membahasakan kembali teks yang berasal dari bahasa lain dengan bahasanya sendiri.

Pada awalnya memang seorang penerjemah memerlukan usaha yang disengaja –dalam arti tidak instingtif—untuk mengingat arti/terjemahan kata bahasa Arab yang terdiri dari huruf qaf-alif-lam (qaala). Namun berkat latihan terus menerus, secara instingtif dia tidak perlu lagi berusaha mengingat terjemahan/arti kata ini. Dengan reflek dia bisa menyesuaikan apakah kata bahasa Arab ini akan diartikan “berkata”, “berfirman”, “bersabda,” “berujar” dan lain sebagainya.

Implikasi kedua, fakta bahwa bahasa yang dipakai dalam proses belajar di Madrasah Tarbiyah Islamiyah, yang lebih dari satu bahasa itu, tidak serta-merta membuat proses belajar menjadi dialog antar dua bahasa, apalagi dialog antar dua budaya. Yang terjadi justru sebaliknya, yang terjadi hanyalah monolog.  Hanya saja di sini terjadi dua monolog yang berjalan paralel.

Dalam proses belajar-mengajar, yang jadi subjek monolog dari segi bahasa adalah bahasa Arab sebagai bahasa asal. Yang jadi audiens dari bahasa asal ini adalah bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Di titik ini, yang aktif jadi pengendali adalah bahasa Arab, dan bahasa Indonesia sebagai bahasa sasaran, hanya “mengikuti.” Bahasa sasaran tinggal mengikuti karena bahasa asal yang sedang bermonolog sudah fixed di dalam teks kitab yang tengah dipelajari.

Kesan tidak imbang dilihat dari segi bahasa an sich seperti di atas, jadi hilang kalau dilihat monolog lain yang terjadi pada saat proses belajar-mengajar, yakni saat sang guru atau si murid sedang membacakan arti (menerjemahkan) teks bahasa Arab dari kitab yang tengah dipelajari. Di sini yang terjadi adalah monolog kultural, dimana yang aktif adalah budaya sang guru atau si murid. Dengan kata lain, dari segi kebudayaan, pihak yang bermonolog adalah guru atau murid sebagai pelaku kebudayaannya sendiri. Dan pihak yang pasif adalah bahasa Arab sebagai bahasa asal dari kitab yang dipelajari. Bahasa Arab yang ada di kitab tidak akan bisa berbuat apa-apa, apalagi protes, saat seorang guru atau murid menerjemahkan dan menjelaskan zarrah sebagai biji bayam – Anda bisa bayangkan betapa sulit menemukan tanaman sayur bayam di padang pasir timur tengah ratusan tahun yang lalu—atau menjelaskan siwak dengan Pepsodent. Karena pasif secara kultural, kitab dan bahasa Arab tidak akan bisa protes dan berupaya menjelaskan bahwa siwak itu berbeda dari odol pasta gigi.

Implikasi ketiga, yang merupakan turunan langsung dari implikasi kedua, adalah titik krusial dari dua monolog dengan skor 1:1 dalam proses belajar-mengajar kitab kuning di Madrasah Tarbiyah Islamiyah tadi adalah si seniman itu sendiri, si penerjemah itu sendiri, sang guru atau si murid. Krusial dan menentukan karena dia bertindak sebagai agen distributor sekaligus produsen. Dia menjadi distributor muatan-muatan pelajaran yang terkandung mapan di dalam kitab. Kemampuan mendistribusikan ini berbanding lurus dengan perbendaharaan pengetahuan dan pengalaman yang dia tuntut selama ini.

Guru tuo (senior) adalah orang yang memiliki stok pengetahuan berbahasa lebih dari cukup, sehingga ia tidak kesulitan mendistribusikan kandungan kitab yang sedang diajarkan. Namun dia juga sekaligus jadi produsen, karena pada saat dia melakukan penerjemahan, dia secara kreatif mengutak-atik makna dari bahasa Arab yang diterjemahkan dengan perangkat kebahasaan yang berasal dari latar budayanya sendiri.

Kreatifitas mengutak-atik inilah yang membuat pelajaran kitab kuning menjadi tidak jumud, menjadi menarik dan tidak melahirkan murid dan alumni yang ngotot memakai siwak ketimbang odol, lantaran di dalam kitab fikih yang disebut hanya siwak, bukan odol.

Implikasi terakhir, posisi guru atau murid sebagai penerjemah kitab kuning dalam proses belajar-mengajar di Madrasah Tarbiyah Islamiyah adalah menjadi negosiator kebudayaan! Dalam rangkaian proses penerjemahan sebagaimana disinggung di atas, meski penerjemah hanya pasif menerima monolog dari bahasa asal, namun ketika dia membahasakan bahasa asal dengan bahasanya sendiri dia membawa serta latar kulturalnya. Di sini posisinya menjadi penafsir yang “menegosasikan” keotoriteran kitab kuning dengan bahasa Arabnya.

Penerjemah –guru atau murid—dengan latar budaya dan bahasa Minangkabau wilayah sekitar Bukittinggi, misalnya, akan “menegosasikan” pengertian kata zakar dalam bab Nikah di kitab fikih dengan mengartikannya -dengan menawarkan maknanya- dengan istilah cinonot sebagai terjemahannya. Upaya negosiasi ini memang tidak akan terlihat istimewa jika dia menerjemahkan kata Arab itu dengan “penis” atau “alat kelamin pria”, karena yang diacu sama-sama alat reproduksi laki-laki secara anatomis.

Namun negosiasi ini terbukti berfungsi, dan karena itu ampuh secara kultural, saat para pendengar yang mendengar kata “cinonot” itu tertawa riuh sekelas jika kelasnya berisi pelajar laki-laki.

Oleh karena itu, proses negosiasi yang berlangsung dalam monolog ganda saat pelajaran agama di Madrasah Tarbiyah Islamiyah -atau sekolah-sekolah agama tradisional pada umumnya- adalah proses yang memanjakan sekaligus memupuk imajinasi subjek.[]

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY