Tarbiyah Islamiyah sebagai Sebuah Kesadaran

Tarbiyah Islamiyah sebagai Sebuah Kesadaran

442
0

Apa yang Anda bayangkan jika kita berbicara tentang Tarbiyah Islamiyah? Mungkin sebagian besar kita akan bercerita seputar awal abad kedua puluh, tentang pergulatan kaum tuo dan kaum mudo, cerita seputar surau, tentang pesantren-pesantren yang menjamur di nagari-nagari seantero Sumatera Barat, dan tak lupa pula kisah buya-buya kharismatik. Sisanya, mungkin soal gerakan politik Tarbiyah itu sendiri, dengan cerita Perti atau PTI. Tanpa maksud mengeneralisir, obrolan tentang Tarbiyah Islamiyah, lebih banyak, adalah obrolan tentang masa lalu. Masa lalu yang baik, tentu saja.

Tak bermaksud mengeneralisir maksudnya tidak dapat dipungkiri, obrolan tentang Tarbiyah Islamiyah juga obrolan tentang masa sekarang. Namun jawaban bernuansa “masa sekarang” ini biasanya tak serta merta sebagai jawaban masa sekarang saja, tapi “masa sekarang” sebagai lanjutan dari masa lalu. Tarbiyah Islamiyah sangat lekat dengan sesuatu yang bernama “masa lalu”. Ini bukan berarti orang Tarbiyah Islamiyah adalah orang-orang yang terjebak di masa lalu. Orang-orang Tarbiyah hanyalah orang-orang yang menghargai masa lalu.

Penghargaan atas masa lalu ini demikian kuatnya. Ini mungkin bentuk dari kesadaran ber-Tarbiyah Islamiyah. Atau mungkin juga bentuk mawas diri bahwa Tarbiyah Islamiyah adalah pemberian masa lalu yang kita terima hari ini, sedemikian adanya. Kesadaran ber-Tarbiyah Islamiyah ataupun sikap mawas diri itu demikian penting, dan mungkin malah semakin penting, karena diperolehnya kesadaran lain: Bahwa kita berada di masa sekarang dan akan menghadapi masa akan datang.

Kesadaran atas kedua masa itu berdampak pada obrolan tentang Tarbiyah Islamiyah itu sendiri. Masa lalu sebagai sebuah soal, dan masa sekarang dan akan datang sebagai sebuah soal. Keduanya berkelindan dalam obrolan. Soal satu mempengaruhi soal dua, pengetahuan atas masa lalu mempengaruhi pengetahuan sekarang, begitu juga sebaliknya. Maka tak heran, orang-orang Tarbiyah adalah orang-orang dua dimensi. Ia seperti pernah hidup di masa lalu, dan sekaligus sedang “bergigihan” di masa sekarang. Atau seperti orang masa sekarang yang seolah-olah hidup menuju dan memimpikan masa lalu. Adanya kesadaran, menuntutnya untuk hidup “menguasai” dua zaman itu, dua pengetahuan itu.

Hidup berdimensikan dua zaman itu mesti diakui tak selalu mudah. Musuh dan tantangan terbesarnya adalah Lupa. Lupa satu soal saja dari dua soal diatas, kita dikatakan sedang tersesat. Apalagi melupakan keduanya, tentulah itu berarti kita sedang berupaya membunuh hidup, atau setidaknya tidak lagi hidup.

Berat? Memang, tapi demikianlah hidup ber-Tarbiyah Islamiyah.

Setidaknya dengan kesadaran tadi, kita tak jadi pengeluh. Orang-orang Tarbiyah mungkin saja orang-orang pelupa, tapi tentu tidak orang-orang pengeluh. Kesadaran bahwa Tarbiyah Islamiyah adalah warisan masa lalu, yang mesti diteruskan (Teroeskan? Sebagai pesan Inyiak Canduang, pendiri Tarbiyah), untuk masa yang akan datang tak memberi tempat untuk mengeluh.

Tuntutan untuk mengetahui dua soal, dua pengetahuan, atau dua dimensi tersebut sebenarnya sudah lumrah bagi anak-anak pesantren Tarbiyah Islamiyah. Metode belajar kitab kuning di pesanten, menuntut santrinya mengetahui dua hal: Kaji yang berlalu dan kaji yang akan datang (akan dilangsungkan). Seorang santri tak boleh lupa kaji yang berlalu. Seorang santri juga tak boleh hanya mengusai kaji yang telah berlalu saja. Ia mesti mengetahui mana kaji yang akan datang. Dan ia mesti mencoba menguasai kaji yang akan datang, setidaknya “mengi’robkanya”.

Mengi’robkan kaji yang akan datang mengajarkan anak Tarbiyah Islamiyah untuk belajar mengenali masa yang datang. Masa yang akan datang mesti dieja, sebagai bentuk ujian “pemahaman” atas masa lalu.

Seorang ustad atau guru kitab kuning biasanya memberikan kesempatan kepada setiap muridnya untuk mengeja, mengi’rab kaji yang akan datang. Meskipun sang guru tahu, si murid tak benar-benar mampu mengirab, ia tetap diberi kesempatan mencoba. Biasanya sang guru bertanya,

“Kenapa dibaca begitu? Mana (atau apa?) Amilnya?”

“Apa ta’rifnya?”

Dan lain sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan yang dimunculkan sebagai bentuk “ulangan” atas pemahaman kaji i’rab yang telah berlalu. Pertanyaan yang dimunculkan adalah pertanyaan masa lalu. Mengi’robkan kaji yang akan datang adalah soal sejauh apa kita menguasai masa lalu.

Tak hanya si santri saja yang ditanyai. Jika kebetulan sang ustad atau gurulah yang membaca kaji yang akan datang, si murid tak berdosa bertanya. Sang murid juga tidak bersalah menguji pemahaman “masa lalu” sang ustad. Dan sang ustad pun takkan jatuh martabatnya, jika mempunyai pemahaman “masa lalu” yang tidak selaras dengan pemahaman “masa lalu” si murid.

Jika diteruskan, ariflah bermuzhakarah.

Lewat mekanisme seperti itulah Tarbiyah Islamiyah belajar untuk menghadapi masa sekarang dan masa akan datang. Masa depan dimuzakharahkan. Dan dalam muzhakarah semuanya adalah penanya, semuanya juga berkesempatan jadi pengulas, sekaligus penyimak.

Lewat muzhakarah, kita belajar bahwa tak ada yang benar-benar berhak dan mempunyai otoritas kebenaran akan Yang Akan Datang.

Tarbijah Islamijah sebagai Kehendak Zaman Ini

Masa lalu, keberadan pada kondisi sekarang yang akan menghadapi masa depan, menunjukkan zaman yang terus bergerak. Tarbiyah Islamiyah tak diam saja. Ia ikut dalam gerakan itu. Ia berputar, naik-turun, timbul dan tenggelam. Tarbiyah Islamiyah tak bisa dimapankan pada sebuah bentuk. Pereduksian pada sebuah bentuk yang mapan adalah musuh dari setiap zaman. Tarbiyah Islamiyah, sebagai warisan masa lalu, menyadarinya. Maka setiap upaya pengerdilan pada sebuah bentuk, entahlah berbentuk organisasi, ataupun badan tertentu, tak benar-benar berhasil.

Tak ada yang benar-benar sanggup mewakili keseluruhan Tarbiyah Islamiyah.

Kesadaran itu, menunjukkan bahwa ia bukanlah bentuk resmi, jika resmi diartikan sebagai “Yang Punya Otoritas”. Tak ada suara otoritatif bagi Tarbijah Islamijah, tidak organisasi Tarbiyah Islamiyah, tidak pula pesantrennya, dan tidak pula yang lain. Kesadaran posisi itu membuatnya berada di dalam dan di luar bagian tubuh Tarbiyah Islamiyah itu sendiri. Ia di dalam sebagai pewarta, pencerita keadaan dan pikiran Tarbiyah Islamiyah. Tapi sekaligus ia juga bisa berada di luar, sebagai pengusul, pengkritik dan pengkaji pikiran Tarbiyah Islamiyah.

Tarbijah Islamijah, sebagai sebuah media, bukanlah sesuatu yang berbeda dari Tarbiyah Islamiyah. Ia adalah Tarbiyah Islamiyah. Tapi ia juga bukan Tarbiyah Islamiyah, jika kata itu diartikan sebagai keseluruhan suara Tarbiyah Islamiyah. Ia adalah salah satu suara Tarbiyah Islamiyah. Ia adalah penanya, pembahas, dan juga penyimak.

Tarbijah Islamijah adalah guru, yang menguji dan mengulas. Ia juga sekaligus Murid yang bertanya, orang dalam dan sekaligus orang luar Tarbiyah Islamiyah.

Kehadirannya adalah bentuk penghormatan pada Tarbiyah Islamiyah, yang tak bisa dijumudkan oleh badan tertentu, yang bermasa lalu, dan yang mempelajari masa sekarang dan akan datang. Penghormatan itulah yang mendasari namanya, Tarbijah Islamijah.

Ketika disebut Tarbijah Islamijah, dengan ejaan lama, diharapkan hadirnya ingatan masa lalu di benak kita. Ingatan itu tak boleh alpa untuk membaca kondisi sekarang dan akan datang. Tarbijah Islamijah adalah Tarbiyah Islamiyah yang sedang berhadapan dengan zaman sekarang dan akan datang, sebagai kaji.[]

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY