Tilawah Jawi, Membaca al-Quran dengan langgam Jawa (#2)

Tilawah Jawi, Membaca al-Quran dengan langgam Jawa (#2)

575
1
Ilustrasi/Sumber:http://2.bp.blogspot.com/

Tilawah Arabi di Indonesia dalam Setatap Lihat 

Pada aras ini tilawah Jawi dan tilawah lokal lainnya masuk menjadi topik wicara. (Sebelumnya baca bagian #1) Sama halnya dengan tilawah Arabi, ia pun telah lama mengada sejak subuh hari dalam jagad pembacaan al-Quran masyarakat Indonesia dan bahkan Asia Tenggara. Pernah suatu ketika saya bertilawah-Jawi di hadapan seorang karib yang usianya limabelas tahun lebih tua daripada saya. Setelah saya selesai menunaikan bacaan, sontak ia bilang: persis kaya simbahku.. mbiyen simbahku ya ngono maca qurane (persis seperti simbah saya.. dulu simbah saya ya gitu membaca qurannya). Dan, hampir semua pendengar tilawah Jawi yang saya perdengarkan, juga berujar serupa.

Dalam video ceramahnya di www.youtube.com, yang diunggah oleh akun MTHSOfficial tanggal 20 Mei 2015, Ustadz Ahmad Sarwat, Lc., MA, mengatakan bahwa kakeknya juga membaca al-Quran berlanggam Jawa. Hingga saat ini belum berbilang-bilang lagi kesaksian serupa yang sampai pada saya. Di masjid dekat kontrakan saya di daerah Berbah, Sleman, Yogyakarta, ada pengisi ceramah Ramadhan tahun 2014 lalu yang mengimami salat dengan menggunakan langgam Pocung laras Slendro. Berdasarkan keterangan Kyai Prof. Dr. Machasin, di Masjid Kampus IAIN Sunan Kalijaga dahulu, dosen beliau bernama Prof. Fatchurrahman dan Romdon, MA, juga menggunakan qiraat langgam Jawa ketika mengimami salat Jumat. Sesepuh desa Papringan, Yogyakarta, yang juga dosen IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Kyai Prodjodikoro juga sejak masa mudanya telah mengimami dengan tilawah Jawi.

Banyaknya kesaksian seperti ini, merupakan pertanda bahwa tilawah Jawi benar-benar meng-ada dalam memori historis (baca: kebudayaan) orang-orang Jawa. Secara umum, sebelum tahun 1950, masyarakat nusantara membaca al-Quran memang dengan lagu khas lokalitasnya masing-masing. Bahkan ini jamak memfakta di kawasan Asia Tenggara. Anna M Gade (2010) mengistilahkannya dengan “local lagu“.[1] Meskipun memang, di nusantara, saat itu lagu-lagu Arab Makkawi atau lagu Arab yang “dari” Makkah[2] sudah masuk melalui orang- orang yang pulang berhaji. Lagu Arab yang saat ini memopuler dan dipakai dalam MTQ pun baru masuk ke Indonesia pada tahun 1960-an, yaitu ketika pemerintah Mesir mengutus beberapa qari termasyhurnya untuk membacakan al-Quran dari masjid ke masjid di beberapa daerah di Indonesia pada bulan Ramadhan.[3] Karena itu, lagu-lagu tilawah yang asalnya dari Persia dan masuk ke Indonesia melalui Mesir itu disebut lagu Arab Mishri. Sejak tahun 1960-an sampai tahun 1993, ada banyak qori Mesir yang datang ke Indonesia. Ada yang untuk berhaflah[4] dan sampai mengajar.

Di Mesir, qori generasi awal seperti Syekh Musthafa Ismail (1905-1978) baru merintis pembacaan al-Quran model tilawah kira-kira pada tahun 1930-an. Ia sendiri menamatkan pelajaran tajwid saat usianya berkisar antara 16-17 tahun. Uniknya, permulaan dan perkembangan tilawah di Mesir ini dipengaruhi oleh stimulus penyanyi-penyanyi Mesir dan Arab seperti Ummi Kultsum (1898-1975), Warda al-Jazairia (1939-2012), Feiruz (1934-sekarang), Mohammed Abdel Wahab (1902-1991). Dari merekalah para qari di negeri Firaun itu, yang kelak menjadi kiblat para qari di Indonesia, mengembangkan gaya tilawah terbaiknya. Bahkan, pada tahun 1990-an, para qari di Indonesia terang-terangan dinasehati oleh pelatih tilawah tingkat nasional agar mereka rajin mendengarkan para penyanyi Arab itu untuk mengembangkan kualitas tilawah mereka.[5] Oleh karena itu, wajarlah bila di saat banyak orang di Mesir mulai bertilawah-Arabi, tepatnya pada tahun 1977, terjadilah kehebohan. Sebagian besar ulama, cendikiawan, dan ahli musik memperdebatkan status tilawah; apakah ia termasuk melagukan al-Quran atau tidak.[6] Itupun, waktu itu, pada masa menjelang tahun 1950, tilawah Arabi tersebut belum terstuktur seperti sekarang ini, dalam arti bahwa susunan tangga suaranya belum teratur mulai dari qoror, ’alan nawa, jawab, jawabul jawab.

Di Indonesia, baru pada tahun 1977, Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) mengesahkan 7 langgam dalam melantunkan al-Quran, yang kesemuanya gaya Mesir habis, yaitu; Bayyati, Shoba, Hijaz, Nahawand, Sika, Rast, Jiharka, dan Bayyati Husaini, untuk dibaca dalam arena MTQ.[7] Tilawah Jawi dan ‘tilawah lokal’ lainnya akhirnya “tergusur” pelan-pelan. Seiring dengan massifnya perhelatan MTQ (Musabaqoh Tilawatil Quran) dan populernya tilawah Arabi –yang juga sebenarnya adalah langgam lokal di negeri padang pasir sana. Memang, semua nama-nama lagu itu merupakan nama kampung/suku/etnis dan istilah khas di daerah Persia atau Iran-Iraq sekarang.

Sebelum masa MTQ menjangkit, di Indonesia sudah ada banyak peristiwa-peristiwa perlombaan membaca al-Quran beraura lokal. Terutama di masjid-masjid di desa-desa. Perlombaan membaca al-Quran itu biasa disebut “sayembara” dan “perlombaan”. Entah untuk memeringati malam Nuzulul Quran pada bulan Ramadhan, dalam rangka peringatan Mawlid Nabi Muhammad SAW, perlombaan antar kampung, dan semisalnya. Istilah sayembara ini sangat khas. Ia terlebih dahulu dipakai sebelum istilah “musabaqoh” populer digunakan untuk menyebut perlombaan membaca al-Quran. Ini mengisyaratkan bahwa waktu itu, dunia pelantunan atau katakanlah, “pelaguan” al-Quran masih berparas lokal. Apalagi, usia sayembara membaca al-Quran ini lebih tua daripada usia MTQ. Seperti data yang dilansir oleh Anna M Gade, di Asahan, Sumatera Utara, telah ada perlombaan atau sayembara membaca al-Quran pada tahun 1946. Sebagian besar para pembaca al-Quran pada masa itu tidak disebut qori, tapi pelagu –maksudnya pelagu al-Quran.

Di samping itu, pada tahun 1920-an, ada banyak organisasi yang lahir untuk mengurusi perkara pembacaan al-Quran dan menyelenggarakan sayembara-sayembara. Pada tahun 1949, pada sayembara membaca al-Quran di Makassar yang disponsori oleh Panitia Pembangunan Masjid Raya. Juara sayembara membaca al-Quran dari seluruh Sulawesi dan dari Kalimantan diundang untuk mengikuti sayembara ini. Sekali lagi, data-data tersebut tentu saja merupakan dalil faktawi tentang lokalitas al-Quran atau rona irama lokal al-Quran di nusantara sebelum masuknya era MTQ dan zaman tilawah Arabi. Sampai di sini, barulah perbincangan tentang tilawah Jawi menemukan ibu susunya.

Orang Jawa dan al-Quran

Tilawah Jawi yang saya baca merupakan hasil dari perjalanan ilmiah dan batiniah saya yang sangat panjang. “Yang batiniah” tentu urusan saya. Di sini saya hanya membabarkan yang ilmiah –meskipun itu juga sebenarnya batiniah. Terlebih dahulu, saya kira wajib untuk menoleh postur hubungan mesra antara orang Jawa dan al-Quran yang tentu saja tidak sulit untuk melacaknya. Bagi orang Jawa, al-Quran adalah ilmu tertinggi. Tidak sembarang orang bisa menguasainya. Karena itu, al-Quran oleh lidah Jawa dieja sebagai sastra jendra hayuningrat pangruwating diyu, yaitu kitab yang akan menunjukkan jalan kebenaran dan amal saleh (sastra jendra), yang akan menjadi rahmat bagi semesta alam (hayuningrat) serta obat penawar bagi segala angkaramurka, penyakit, bala, bencana, dan semisalnya (pangruwating diyu). Berasaskan itu, posisi Nabi Muhammad SAW, di mata orang Jawa, berada dalam mihrab terdepan.

wayang_tarbijahislamijah

Ada sebuah naskah dari zaman Majapahit-Demak, bernama Wirid Lukitadjati: Lulungidaning Ilmu Kabatosan.[8] Sebutan wirid menandakan bahwa serat tersebut adalah kumpulan seperangkat teori. Maksudnya, teori mengenai makna paling dalam (lungid) ilmu- ilmu batin (kabatosan). Selain kegaiban nama pengarang, keunikan Wirid Lukitadjati ada pada 44 tembang bermetrum Sinom-nya yang berbicara mengenai rahasia (asror) huruf-huruf al- Quran. Beberapa pada (bait) malah menerangkan pasal umum mengenai ilmu tata suara (tajwid) al-Quran. Bagian terpentingnya adalah bahasan tentang rahasia (asror) huruf-huruf al-Quran itu. Mulai dari Alif sampai Ya yang dibabar dari pada ke-19 sampai selesai, pada ke-44. Inilah kutipan dan terjemah serat berejaan lama itu;

19.

Pan ingaranan kalkalah, kabeh iku den arani, bangsane ing tataswara, ganti aksara winilis, ingkang aneng ing dhiri, pinardika wardinipun, dunungnja sowang-sowang, kang dhihin aksara alip, pan puniku murwani djenenging iman

Dan yang disebut kolkolah (sebagaimanabahasan pupuh sebelumnya), semua itudisebut perkara tata suara, sekarang denganaksara yang tertulis, yang tempatnya ada didalam diri, ia punya maksud dan tujuanpenempatan, asal-mula yang tiada, maka muncullah huruf alif, dan alif itulah asalmuasal iman
20.

Lungguhe ngisoring grana, munggeng saluruhing lathi, kabeh kang anandhang iman, sayekti mangkono sami, kewan sebangsaneki, miwah buburon sawegung, tan ana kang sinungan, marma micara tan bangkit, sayektine amung ana ing manungsa

Tempatnya alif ada di bawah hidung, tetapi di atas lidah, karena semuanya yang disebut iman itu, sesunguhnya sama demikian itu, dan semua hewan itu baik yang diburu ataupun dipelihara tidak terkena kewajiban, baik itu kewajiban bicara dan bangkit, karena kewajiban itu hanya ada di dalam diri manusia
21.

Munggung tegesing manusa, kaoling para utami, murade mawarna-warna, manusia ing tegesneki, ma man tegas linuwih, nungsa jagad kajengipun, ya kluwihaning jagad, titah kang unggul pribadi, ora ana kang angungkuli manusa

Jadi manusia sendiri punya makna yang telah dikatakan oleh orang-orang utama, manusia itu tegasnya, ma, ma itu punya kelebihan/keunggulan, nungsa artinya jagad tempat hidup, dan manusia disebut juga kelebihan jagad, itulah makhluk Tuhan yang paling unggul, tidak ada yang bisa mengungguli manusia
22.

Lan manusa tinegesan, manu tinegesan mani, sa Sang Hyang Hesa satunggal, ngarani cahya pinuji, iyeku Mohammadin, apan ija Nabi Rasul, ya Rasul rahsaning Hyang, ija rahsaning sujalmi, ya Mohamad sayekti purwaning gesang

Dan manusia punya makna, manu itu tegasnya mani/sperma, sa artinya Sang Hyang Esa/Mahaesa, mani itu disebut oleh Tuhan sebagai cahya yang terpuji, itulah Muhammad, beliaulah nabi dan juga rasul, dan dialah rasul yang ditetapkan oleh Tuhan, ditetapkan untuk manusia-manusia yang baik, dan Muhammad sesungguhnya awalmula/asal-muasal kehidupan
23.

Isbate Alip punika, amengku ing lahir batin, sastra Alip pujinira, walimuhamad winarni, dene sawabe neggih, tebih ing sesakit iku, rahayu kang pinaggya, sinihan maring sesami, dene ingkang aksara Be kang winarna.

Penetapan alif itu sesungguhnya, ia diberi amanat lahir-batin, alif punya doa, walimuhammad lah doanya, banyak menyebut doa itu akan dijauhkan dari penyakit, akan selalu berjumpa dengan kehidupan dan keselamatan, akan mengasihi sesama, dan ada juga huruf Ba
24.

Lambe wiwitan wardinya, dene angedalaken uni, lungguhnya aneng mbun-mbunan, unine pamudjineki, bebarkat mohamadin, ngedohken bilahi tuhu, aksara Te winarna, ilat wekasan puniki, kulurira mring sentil iku marmanja.

Tempatnya di bibir, maka berhati-hatilah bicara, tempat Ba juga di ubun-ubun, bunyi doanya; berkat Muhammad, bisa menjauhkan marabahaya, sedangkan huruf Ta, harus diperhatikan lidahnya, tempatnya ada disentil yang ada di pangkal tenggorokan
25.

Sastra Te kalih tjetjaknya, amengku kalih prakawis, maring tetedan sepisan, mring inuman kaping kalih, lan malih lenggah neki, ing rambut pamujinipun, pujinira tawekal muhamad ing sawab neki, dadi teguh juwana rahayu mulya.

Ta itu punya dua titik, yang mengandung dua perkara, yang pertama perkara makanan, yang kedua perkara minuman, letaknya ta itu di rambut, doa huruf ta adalah tawakal Muhammad, ganjarannya teguh keyakinan, kehidupan, dan kemuliaan
26.

Aksara Se nggih punika, mungguh dennya anjarwani, tegese rahsa ganjaran,dumunung tigang prakawis, pokok kerkating dhiri, yekti saking Betalmakmur, lawan Betalmukaram, sarta Betalmukadasi, pan punika lungguhe

aneng wadana.

Huruf Tsa tentang rasa mendapatkan ganjaran, ia punya tiga perkara, menyangkut hakikat diri manusia, pertama Baitulmakmur, kedua Baitulmuharrom, ketiga Baitulmuqoddas atau semua perkara menyangkut bagian kehormatan/kemaluan
27.

Yarakim kami mohamad, kang daya pamudjineki, mangkana sawabe uga, tinebihan ing bilahi. Djim pan mangkana ugi, ing wadana dunungipun, wondene pujinira, apan rakim mohamadin, sawabipun akarya mulyaning raga.

Doanya huruf Tsa adalah yarahim kami Muhammad, ganjarannya adalah dijauhkan dari marabahaya, berikutnya adalah huruf Jim, letaknya di wajah, doanya adalah rahim Muhammad, ganjarannya adalah kemuliaan pekerjaan dan kesehatan tubuh
28.

Lawan malih Djim punika, djadjantung ing tegesneki, telenging kang karsa gesang, anggelaraken ing karsi, dene kang Cha winarni, kang urip ing tegesipun, jatine iku tunggal, pangarep urubing budi, budi

padhang padhanging ponang grahita.

Jim merupakan jantung atau inti semangat hidup, itulah yang membuat kehendak hidup, selanjutnya aksara Ha kecil, artinya hidup, sesungguhnya sama saja, yaitu yang menyebabkan hidupnya budi/akhlak mulia, dengan akhlak cemerlang itu akan teranglah seluruh jasad manusia
29.

Cha ugi neng netra kanan, dene pujinira nenggih, ya hayumu ya mohamad. Cho lungguh neng netra kering, jakobiru muhamadin, mangkono ing pujinipun, dene sawabe uga, kabrekahan awas eling, kehing godha rentjana pan nora dadya.

Ha kecil terletak di mata kanan, doanya ya hayyun ya Muhammad, huruf Kho terletak di mata kiri, yakhobiru Muhammad adalah doanya, ganjarannya diberkati dengan waspada dan selalu ingat Tuhan (dzikr), akan terhindar dari godaan, rencana jahat tidak akan bisa terlaksana
30.

Sastra Cho malih dunungnja teges pamobahing urip, jaiku badan punika, pantjadrija amengkoni, jeku krenteging osik, kang Dal tjilik tegesipun, lire pan dhadha kiwa, Dal alit ateges malih, apan lambe mangkene ing pudjinira.

Makna akhlak (sastra) Kho itu adalah pamobahing urip, yaitu badan itu sendiri, yang dialamatkan pada pancaindra, yaitu bunyi gerak batin/badan halus/jiwa, sedangkan huruf Dal itu, terletak di dada kiri, ia juga terdapat di bibir, maka doanya
31.

Daimohamad punika, apan  sawabiranenggih, ngreksa panggawening djalma, Dal gedhe dhadha kananki, tanapi lungguhneki, mungging lambe kiwa iku, pudji dahu muhamad, mangkana sawabe ugi, nuwuhaken sakathahe tjutjukulan.

Dai Muhammad, ganjarannya dapat melindungi apa-apa yang diciptakan/karya manusia, sedangkan huruf Dzal, ada di dada kanan tapi letaknya di bibir sebelah kiri, doanya Dahu Muhammad, sawabnya dapat menumbuhkan semua yang bertumbuh
32.

Re ing kulit lenggahira, pudji rachimuhamadi, sawabe mandjangkene lampah. Re ugi ing gigir kering. Dje gigir tengen nenggih, tanapi Dje lungguhipun, ing daging dunungira, mangkene pamudjineki, lajutimuhamadin ing sawabira.

Huruf Ro terletak di kulit, doanya rahim Muhammad, ganjarannya dapat memanjangkan langkah, Ro juga terletak di punggung kiri. Huruf Zay terdapat di punggung sebelah kanan, letaknya di daging, doanya adalah layuti Muhammad
33.

Keh ridjeki kinasihan, Sin tjilik pan tegesneki, ambegan talining gesang, sarta delamakan ugi, kang kanan dunungneki, mangkene ing pudjinipun, sukimuhamad ika, sawab ngantjangken lumaris, kang Sin gedhe rasa djati tegesira.

Banyak rezeki dan banyak dikasihi orang, huruf Sin artinya nafas talinya hidup, letaknya di delamakan yang sebelah kanan, doanya suki Muhammad, sawabnya dapat mengencangkan/melancarkan pulang-pergi, huruf Syim artinya rasa sejati
34.

Tanapi dlamakan kiwa, pudji sarmimuhamadi, mangkana ing sawabira, nggantjangaken ponang angin, kang Sod mripat puniki, hija pramana satuhu, sarta bokong lungguhnja, kukuh muhamad kang pudji, sawabira ngumpulken balung ngapisah.

Ia terdapat di tapak kaki sebelah kiri, doanya sarmi Muhammad, sawabnya dapat mempercepat hembusan angin, huruf Shod terletak di mata, ia adalah penglihatan, letaknya di pantat, doanya kukuh Muhammad, sawabnya dapat menjalin persaudaraan yang sudah putus lama atau menyambungkan silsilah yang terputus
35.

Lod karsane kang nala, lire angarani ati, neng bokong kiwa, pudji djisim muhamadi, weh dijen sawabneki, To tangan tengen kang dunung, hujajaki pudjina, muhamad ing sawabneki, apan saged amandjanken kang juswa.

Lalu huruf Dlod, itu disebut dengan hati, letaknya di pantat sebelah kiri, doanya jisim Muhammad, sawabnya dapat menghanyutkan sesuatu/diam-diam menghanyutkan, lalu huruf Tho terletak di tangan kanan, inilah doanya: Muhammad, sawabnya dapat memanjangkan umur
36.

Do angen-angen punika, lungguh tengah kanan nenggih, pudji tawekal muhamad, sawabnja muljaken dhiri, pan Ngain lambung kering, lungguh sikut tengen iku, pudji walimuhamad, sawabe madhangken budi, sastra Hin pan lambung kang tengen punika.

huruf Zho, terletak di tangan kanan tengah, doanya tawakal Muhammad, sawabnya dapat memuliakan diri/hidup dalam kemuliaan, sedangkan huruf ‘Ain terletak di lambung kiri, juga di sikut kanan, doanya wali Muhammad, sawabnya dapat mencerahkan budi-pekerti, huruf Ghin, terletak di lambung kanan
37.

Tanapi sikut kang kiwa, ana dene pudjineki, pan jakurnati muhamad, mangkana sawabe nenggih, nekaken rahmat singgih, ing donja akerat tutug, kang fe walikat ika, lan ing gulu lungguhneki, pudji dhikir muhamadi sawabira.

Tapi juga terletak di sikut kiri, doanya ya kurnati Muhammad, sawabnya dapat mendatangkan rahmat yang baik-baik, di dunia-akhirat, huruf Fa letaknya di tulang belikat, juga di leher, doanya zikir Muhammadi
38.

Amaweh suka amarta, Kap bau tengen puniki, lulungguhipun punika, talingan tengen anenggih, pudjinira winarni, mangkana ing ungelipun, ja karim karimuhamad, apan sawabe kang pasthi, pan anampae kasaenan karahardjan.

Suka memberi/menghidupkan sesuatu, huruf Kaf terletak di bahu kanan, letaknya adalah di telinga sebelah kanan, doanya begini bunyinya; ya karim karim Muhammad, sawabnya dapat menerima kebaikan dan kemakmuran
39.

Sastra Kop bau kang kiwa, anadene lungguhineki, talingan kering punika, muhamad pamudjineki, sawab ndatengaken singgih, Lam utek ing tegesipun, tanapi lungguhira, bau kanan bau kering, pudjinira anenggih walimuhamad

Aksara Qof¸ di bahu kiri dan di telinga sebelah kiri, doanya Muhammad saja, sawabnya dapat mendatangkan kebagusan/keelokan/kerupawanan, aksara Lam itu terletak di otak, juga terletak di bahu sebelah kanan dan sebelah kiri, doanya wali Muhammad
40.

Sawabe kalis ing godha, Min pikukuhing suksmadi, lungguhe min aneng sirah, mangkana ingkang winarni, pudjinira winilis, nenggih ing pamuwusipun, jamukiji muhamad, sawabe datan kaeksi, dene kang Nun pulung kang wening artinja.

Sawabnya terhindar dari godaan, lalu huruf Mim adalah kokohnya sukma, terletak di kepala, doanya tertulis seperti ucapannya; ya muhyi Muhammad, sawabnya tidak terlihat, lalu huruf Nun artinya keberuntungan yang jernih
41.

Pan Nun ing gadjih lenggahnja, pudji Nabi muhamadi, nenggih sawabe ika, tinekan sabarang kardi, Wawu teges kang paring, ridjeki pan lungguhipun, anerging sungsum ika, pudji walki mohamadi, sawabipun kabatinan anarima.

Nun terletak di gajih, doanya nabi Muhammad, sawabnya dapat mengabulkan semua hajat, huruf Waw artinya yang memberi rezeki, terletak di sumsum, doanya walki Muhammad, sawabnya dapat punya watak menerima apapun
42.

Kang He mungkul ing ngagesang, lungguhe ing djadja nenggih, mangkene pamudjinira, ja Allah ja mohamadi, sawab rinekseng Widhi, Lam Alip sawidji iku, ja Gusti ja kawula, pudji wali mohamadin, sawabira rineksa maring Hjang Sukma.

Huruf Ha (besar) adalah munculnya kehidupan, letaknya di dada, doanya ya Allah ya Muhammad, dapat mendatangkan ridho, huruf Lam Alif adalah lambang manunggalnya Gusti- kawula, doanya wali Muhammad, sawabnya sukmanya dilindungi Tuhan
43.

Ambjah roh dene Ja djasat, djasate manungsa ikit, Ambjah salang lungguhira, dene pamudjinireki, ja Allah muhamadin, sawabe rinekseng idhup, sastra Ja lungguhira, ing rohjat ingkang winarni, ija Allah Maha Sutji Maha Kwasa.

Huruf Hamzah itu roh sedangkan aksara Ya adalah jasat, maksudnya jasadnya manusia, sedangkan hamzah bersarang di dalam diri, doanya ya Allah Muhammad, sawabnya dapat dilindungi hidupnya, sastra Ya itu adalah di dalam roh, pujinya adalah ya Allah Maha Suci Maha Kuasa
44.

Mohamad ing sawabira, sinung tjahjaning Hjang Widhi, tur linebur dosanira, prajogi den wuningani, sastra Arab puniki, mengku ilmu kang linuhung, jwa nganti nora wikan, tuna djenenging ngaurip, sampun tamat riritjikan sastra Arab.

Muhammad, sawabnya dilindungi oleh cahaya Sang Maha Pemberi Ridho, dan dapat dilebur dosa-dosanya, oleh karena itu ketahuilah sastra Arab ini, sesungguhnya ia memiliki ilmu yang luhur/luhung, jangan sampai engkau tidak tahu wahai kawula muda, akan rugi hidupmu nantinya, maka tamatlah rincian tentang sastra Arab ini

 

Tema paling penting dari Wirid Lukitadjati adalah isinya. Bahwa setiap huruf yang ditempati oleh Nabi Muhammad SAW itu bermukim di bagian-bagian utama tubuh manusia. Ada yang di otak, ubun-ubun, kepala, tangan, bahu, telinga, leher, sikut, tapak kaki, dan di tempat-tempat yang mendukung proses kebertubuhan manusia. Artinya apa? Jelas! Orang Jawa ingin mengatakan bahwa keseluruhan tubuh manusia itu bersilsilah pada al-Quran. Dan shohibul quran, yaitu Nabi Muhammad SAW, adalah ratu yang bersinggasana di setiap lekuk-liku tubuh manusia itu. Apalagi di pupuh ke-22 dalam serat tersebut juga tertulis; ya Mohamad sayekti purwaning gesang (Muhammad itu adalah asal-mula kehidupan).

Tambahan lagi, orang Jawa memahami atau menganalogikan al-Quran sebagai wahyu yang disampaikan oleh Jibril AS Nabi Muhammad SAW sebagai bebunyian. Seperti yang tercatat dalam pagelaran pembunyian gamelan Kyai Gunturmadu dan Kyai Nogowilogo di pagongan Lor dan Kidul yang ada di sisi Timur Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta. Itu merupakan bagian dari rentetan upacara wajib Sekaten yang digelar setiap 7 hari menjelang tanggal 12 Rabiul Awal, tanggal dan bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Upacara itu merupakan narasi proses turunnya al-Quran yang dikarang oleh para wali tanah Jawa.

Gunturmadu” artinya bunyi ngongeng-ngongeng lebah yang mengganggu sunyi seorang penyendiri. Sementara “Nogowilogo” artinya bunyi gemerincing kulit Naga. Keduanya merupakan simbolisasi turunnya bebunyian suara Tuhan, yaitu al-Quran. Memang, al-Quran paling sering sampai kepada Nabi Muhammad SAW dalam rupa “bunyi”. Seperti termaktub dalam Shahih Bukhari:

Suatu ketika, al-Harits bin Hisham bertanya; wahai Rasulullah, bagaimana wahyu itu sampai padamu? Ia menjawab; kadang-kadang seperti bunyi lonceng, dan itu sesuatu paling dahsyat yang sampai pada saya, kemudian lenyap dan saya dapat mengulangi apa yang dikatakan. Kadang-kadang Malaikat hadir dalam jelmaan manusia dan berkata pada saya dan saya dapat memahami apa yang dikatakan.[9]

Catatan:

[1] Anna M. Gade, Perfection Makes Practice: Learning, Emotion, and the Recited Quran in Indonesia (USA: University of Hawai’i Press, 2004), hlm. 183.

[2] Lagu (naghm) makkawi yang paling dikenal ada 7; yaitu Banjakah, Hirab, Maya, Rakbiy, Jihaarkah, Sika, dan Dukkah. Lagu makkawi kurang adaptif dan terkesan miskin inovasi.

[3] Di antara mereka adalah Abdul Basith Abdus Shomad (1927-1988), at-Thanthawi, Mahmud Majid, Musthafa Isma’il (1905-1977), Mahmud Khalil al-Hushari (1917-1980), Muhammad Siddiq Al-Minshawi (1920-1969) dan masih banyak lagi yang berkunjung ke Indonesia dalam kisaran 20 tahun lebih.

[4] Haflah berasal dari kata ha-fa-la. Artinya; berkumpul dalam jumlah banyak. Lois Malouf, al-Munjid

fil Lughoh wal A’lam (Beirut: Daar al-Masyriq, 2005), hlm. 143. Dalam dunia tilawah di Indonesia, istilah haflah telah dipatenkan menjadi nama peristiwa berkumpulnya banyak orang untuk mendengarkan pembacaan al-Quran oleh beberapa qori. Ia dapat diibaratkan sejenis “konser al-Quran”. Setiap qori melantunkan al-Quran selama beberapa menit, bahkan lebih dari 1 jam, di depan para hadirin. Istilah lain yang terkadang dipakai adalah mahfil

[5] Oleh karena itu, bagi saya, ada sekekeh kelucuan di sini. Qari Indonesia bertilawah dengan merujuk qari Mesir. Sedangkan qari Mesir merujuk para penyanyi Mesir. Lalu, tatkala di Indonesia ada yang melantunkan al-Quran dengan lagu yang “dianggap nyanyian”, kebanyakan qari Indonesia berang. Silakan menyimak kekisruhan tentang hal ini di media sosial. Bahkan, dalam tangkapan saya, tanggapan sinis pertama kali terhadap tilawah Jawi yang saya lantunkan di Istana Negara, datang dari seorang qari Indonesia yang pernah menjuarai MTQ Internasional di Malaysia, yang saya baca di laman Facebooknya. Lalu, setelah itu, para qari dari berbagai penjuru Indonesia beramai-ramai mengecam tilawah Jawi dan melaknat pelantunnya, yaitu saya sendiri. Secara khusus saya mensave data-data ini.

[6] Kristina Nelson, The Art of Reciting the Quran (Cairo: The American University in Cairo Press, 2001), hlm. 33.

[7] Anna M. Gade, op.cit., hlm. 187.

[8] Hanya saja, nama pengarang tidak tersebut di kulit muka serat tersebut. Ketiadaan nama pengarang itu memang disengaja. Para pengarang muslim di zaman dulu menganut akhlak penghijaban diri. Selain itu, etika penulisan karya ilmiah di masa itu juga memang demikian. Raden Ngabehi Ronggowarsito pun tidak mencantumkan namanya di Serat Kalatidha. Ia hanya membubuhkan potongan urutan huruf-huruf di dalam bagian awal bait-bait Serat Kalatidha itu sebagai simbol penanda namanya yang tidak akan terbaca tanpa kejelian.

[9] Al-Bukhari, op.cit., hlm. 5.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY