Tradisi Periwayatan Sanad Hadis, Kitab dan Doa (bag I)

Tradisi Periwayatan Sanad Hadis, Kitab dan Doa (bag I)

1036
0

Pendahuluan

Sanad atau isnad[i] dalam literatur Ilmu Hadis menempati posisi yang sangat urgen dan mendasar. Sehingga tidak heran kalau ulama besar sekaliber Abdullah Ibn al-Mubarak (w. 181 H) menyatakan bahwa sanad termasuk bagian dari agama Islam sendiri, seandainya tidak ada sanad, niscaya setiap orang akan leluasa mengungkapkan apa yang dikehendakinya.[ii] Hal senada juga diungkapkan oleh Imam al-Tsauri (w. 159 H), beliau menegaskan bahwa sanad adalah senjata orang-orang yang beriman.[iii] Imam Suyuthi (w. 911 H) dalam Tadrib-nya pernah menukil perkataan Muhammad bin Aslam al-Thûsi (w. 242 H) yang menyatakan bahwa dengan dekatnya sanad (kepada sumbernya) akan membawa dekatnya (seseorang) kepada Allah SWT.[iv]

Setidaknya beberapa pendapat yang penulis kutip di atas cukup menjadi bukti betapa urgennya sanad dalam sebuah hadis. Arti penting sanad tersebut di taraf selanjutnya akan berdampak terhadap otentisitas hadis itu sendiri. Apabila sanadnya bagus, dalam artian memenuhi kriteria diterimanya sebuah sanad seperti bersambung dari awal sampai akhirnya, masing-masing perawinya kredibel, serta matan hadisnya selamat dari i’llah[v] dan syadz,[vi] maka hadis tersebut akan bernilai shahih dan begitu juga sebaliknya. Apabila sanadnya jelek, maka secara otomatis kualitas hadis yang dihasilkan juga akan dhoif atau bahkan palsu sama sekali. Sehingga tepatlah apa yang pernah dilontarkan oleh Mahmud Thahhan “sekiranya tidak ada sanad, maka kita tidak akan mengetahui mana hadis yang shahih dan mana yang dusta”.[vii]

Kemudian kalau ditinjau sejarah umat-umat terdahulu seperti kaum Yahudi, Nasrani, dan lain sebagainya, niscaya tidak akan ditemukan tradisi sanad sebagaimana yang berlaku dalam agama Islam ini. Hal itu, sebagaimana diungkap oleh sebagian besar ulama hadis baik klasik maupun kontemporer, menunjukkan bahwa tradisi sanad merupakan keistimewaan yang hanya dimiliki oleh umat Nabi Muhammad SAW saja. Ibnu Hazm (w. 448 W) menuturkan “korespondensi dari seorang kredibel dari orang kredibel lainnya yang sampai kepada Nabi Muhammad SAW adalah keistimewaan yang hanya dikaruniakan Allah SWT kepada umat Islam, tidak umat-umat yang lain.[viii]

Hal serupa juga pernah disinggung oleh Abu A’li al-Jayyâni (w. 498 H) sebagaimana yang dikutip oleh Abu A’bd al-Rahmân Shalah bin Muhammad bin U’waidhoh dalam tahqiqannya terhadap kitab Muqaddimah karya Ibn Al-Shalâh (w. 642 H), ia mengatakan “Allah SWT mengistimewakan umat ini dengan tiga perkara yang tidak diberikan kepada umat-umat sebelumnya, yaitu tradisi sanad, nasab, dan i’rab”[ix]. Syekh Yasin al-Fadani (w. 1410 H) dalam muqaddimah kitabnya Ittihaf al-Mustafîd bi Gharar al-Asânîd mengatakan “segala puji bagi Allah yang telah menjadikan penelitian terhadap sanad sebagai perantara yang akan meninggikan derajat para pecinta ilmu (hadis), yang mana hal itu merupakan sebagian dari keistimewaan umat Nabi Muhammad SAW dari sekian banyak umat-umat yang ada.[x]

            Dan masih banyak ulama-ulama besar lainnya yang telah membuktikan hal tersebut, seperti Abu Hâtim al-Râzi (w. 277 H), sebagaimana dinukil oleh pentahqiq Muqaddimah Ibn Shalah, Abu A’bd al-Rahmân Shalah bin Muhammad bin U’waidhoh, Imam Jalaluddin al-Suyuthi dalam Tadrib al-Rawi-nya, Imam al-I’raqi (w. 806 H) dalam Fath al-Mughis-nya, Imam al-Sakhawi (w. 664 H) dalam kitab yang sama, serta ulama besar lain yang tidak bisa penulis sebutkan secara satu persatu dalam tulisan yang sangat terbatas ini.

Bidang Pengaplikasian Sanad.

Setelah mengetahui sanad dengan segala urgensi dan sejarah perkembangannya, bahasan ini akan dilanjutkan kepada bidang-bidang pengaplikasian sanad. Setidaknya ada Tiga bidang yang sering diiringi oleh sanad, yaitu hadis, kitab, dan doa atau yang masyhur dengan sebutan sanad hidzib/tarekat. Masing-masing dari ketiga sanad tersebut mempunyai kekhususan dan ciri-ciri umum yang berbeda antar satu sama lain. Untuk lebih jelasnya, penulis akan mencoba menguraikan masing-masingnya sesuai urutan di atas.

  1. Sanad Hadis.

Sanad menurut para ahli hadis berarti ikhbar (jalan untuk mengetahui) matan hadis. Sebagian ahli hadis yang lain menegaskan bahwa sanad adalah jalur atau silsilah yang menyampaikan seseorang kepada matan hadis atau dengan kata lain urutan beberapa nama yang meriwayatkan hadis dari satu orang kepada yang lain sehingga sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Sementara itu isnad diartikan sebagai penisbatan sebuah hadis kepada orang yang menyampaikannya. Akan tetapi mayoritas ulama hadis sering menyamakan antara istilah sanad dengan isnad untuk objek yang satu dengan makna yang sama.[xi]

Untuk mengetahui apa saja yang menjadi kekhususan sanad ini, penulis akan mengutip sebuah contoh dari sanad hadis yang nantinya akan dianalisis dari berbagai sisi guna membedakannya dengan sanad-sanad yang lain seperti sanad kitab ataupun sanad doa/tarekat. Contoh tersebut adalah sebagai berikut :

حدثنا قتيبة بن سعيد حدثنا أبو عوانة عن سماك بن حرب ح وحدثنا هناد حدثنا وكيع عن إسرائيل عن سماك عن مصعب بن سعد عن ابن عمر عن النبي صلى الله عليه و سلم قال لا تقبل صلاة بغير طهور و لا صدقة من غلول.[xii]

Terjemahannya : Imam Tirmidzi mengatakan “telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id, ia berkata “telah menceritakan kepada kami Abu A’wanah dari Simak bin Harb”, tahwil “telah bercerita kepada kami Waki’, dari Israil, dari Simak, dari Mus’ab bin Sa’ad, dari Ibn U’mar dari Nabi SAW, beliau berkata “tidak diterima shalat yang tidak didahului dengan bersuci dan sedekah dari hasil tipuan. (HR. Tirmidzi).

Dari contoh tersebut, dapat disimpulkan bahwa sanad hadis mempunyai beberapa ciri dan tanda khusus, diantaranya :

Sanad hadis sangat memperhatikan penggunaan lafadz penyampaian sanad atau yang lazim disebut dengan shighah al-ada’ dan thuruq al-tahammul.[xiii] Pemakaian lafadz-lafadz ini dianggap sebagai ciri utama dari sanad ini, karena terkadang hanya dengan melihat lafadz-lafadz tersebut, seseorang bisa mengetahui apakah sanad hadis tersebut bersambung sampai kepada Rasulullah atau di dalamnya terdapat kemungkinan adanya keterputusan sanad (inqitha’ al-sanad) dengan sebab tadlis[xiv] atau sebab-sebab yang lain. Oleh sebab itu para ahli hadis telah menetapkan ada 8 cara penyampaian hadis sekaligus lafadz penyampaiannya. Yaitu sebagai berikut :

  1. Sima’ (mendengar) yaitu seseorang guru membaca hadis baik dari hafalan ataupun dari kitabnya, sedangkan para hadirin mendengarkannya, baik majlis itu untuk imla’ ataupun tidak. Mayoritas ulama memandang bahwa metode ini merupakan metode yang paling tinggi kualitasnya.[xv]
  2. Al-Qira’ah ala al-Syekh (membaca di hadapan guru). Yaitu seseorang membaca hadis di hadapan guru, baik dari hafalannya ataupun dari kitabnya yang telah diteliti, sedangkan guru memperhatikan atau menyimaknya baik dengan hafalan atau dari kitab asalnya ataupun dari naskah yang digunakan untuk mengecek dan meneliti. Metode ini berada di bawah peringkat metode yang pertama, namun sebagian ulama yang lain memandang metode ini lebih tinggi dari sima’.[xvi]
  3. Al-Ijazah (sertifikasi atau rekomendasi). Metode ini berbeda dari dua metode sebelumnya. Kalau dua metode tersebut menekankan bahwa seorang murid atau guru langsung membacakan hadis-hadis yang bersangkutan, baik secara langsung ataupun tidak. Namun metode ini masih tetap dalam batas pemberian kewenangan seorang guru untuk meriwayatkan sebagian riwayatnya yang telah ditentukan kepada seseorang atau beberapa orang yang telah ditentukan pula tanpa membacakan hadis yang diijazahkan. Oleh sebab itu, sebagian ulama memperbolehkannya dan sebagian yang lain tidak.[xvii]
  4. Al-Munawalah. Yaitu seorang ahli hadis memberikan sebuah hadis, beberapa hadis atau sebuah kitab kepada muridnya agar sang murid meriwayatkannya darinya. Sebagian ulama memperbolehkan metode ini, sementara sebagian yang lain tidak memperbolehkannya. Munawalah ini pun ada yang disertai dengan ijazah secara langsung atau disebut juga al-munawalah al-maqrunah bi al-ijazah dan ada pula yang tidak atau disebut juga dengan al-munawalah al-mujarradah a’n a;-ijazah.[xviii]
  5. Al-mukatabah. Yaitu seorang guru menulis dengan tangannya sendiri atau meminta orang lain menulis darinya sebagian hadisnya untuk seorang murid yang ada dihadapannya atau murid yang berada di tempat lain, lalu guru itu mengirimkan tulisan tersebut kepada sang murid bersama orang yang bisa dipercaya. Mukatabah ini juga terbagi dua ada yang disertai dengan ijazah dan ada yang tidak.[xix]
  6. I’lam al-Syekh. Yaitu seorang syekh memberitahukan kepada muridnya bahwa hadis tertentu atau kitab tertentu merupakan bagian dari riwayat-riwayat miliknya yang telah didengar dan diambilnya dari seseorang atau perkataan lain yang senada tanpa menyatakan secara jelas pemberian ijazah kepada murid untuk meriwayatkan darinya. Sebagian ulama mengatakan bahwa metode semacam ini harus disertai dengan ijazah agar periwayatan tersebut bisa bernilai shahih.[xx]
  7. Al-Washiyyah. Yaitu seorang guru berwasiat sebelum bepergian jauh atau sebelum meninggal agar kitab riwayatnya diberikan kepada seseorang untuk meriwayatkannya darinya. Ulama mutaakhkhirin menghitungnya dalam jajaran metode tahammul dengan dasar riwayat dari sebagian ulama salaf yang mewasiatkan kitab-kitab mereka sebelum mereka wafat. Metode tahammul seperti ini sangat jarang terjadi dan dianggap sebagai metode tahammul yang paling lemah.[xxi]
  8. Al-Wijadah. Kata ini merupakan konjugasi dari kata wajada-yajidu, bentuk yang tidak analogis. Ulama hadis mengartikannya sebagai ilmu yang diambil atau didapat dari shahifah tanpa ada proses mendengar, mendapatkan ijazah, ataupun proses munawalah. Metode ini juga sangat jarang digunakan oleh ulama-ulama salaf dan bahkan sebagian besar mereka mencela para muhaddis yang meriwatkan hadis dari shahifah-shahifah tersebut. Hal itu dilatarbelakangi karena mayoritas mereka sangat mengutamakan periwayatan secara langsung melalui pendengaran ataupun menyodorkan kitab.[xxii]

Sementara itu pembahasan mengenai lafadz ada’ (penyampaian hadis), maka disesuaikan dengan metode tahammul (penerimaan hadis) di atas.[xxiii] Masing-masing metode mempunyai lafazd ada’ tertentu, sehingga dari lafadz tersebut nantinya akan diketahui secara praktis kualitas bersambung atau terputusnya sanad yang bersangkutan sebagaimana yang telah penulis singgung di awal pembahasan. Berikut beberapa lafadz ada’ yang sering dipakai dalam penyampaian hadis :

  • Lafadz ada’ yang melambangkan metode sima’ antara lain lafadz sami’tu atau haddatsani menunjukkan sima’ (mendengar langsung dari syekh), lafadz akhbarani menunjukkan qira’ah (membaca di hadapan syekh), lafadz anbaani menunjukkan ijazah, dan lafadz qala li atau zakara li menunjukkan sima’ (mendengarkan) lewat mudzakarah.[xxiv]
  • Lafadz ada’ yang menunjukkan qira’ah (membaca) dihadapan syekh antara lain lafadz qara’tu ala fulan atau qaraa a’laihi wa ana asma’ fa aqarra bihi. Lafadz ini adalah lafadz yang lebih hati-hati. Selain itu ada lafadz lain yang juga diperbolehkan yaitu haddatsana qiraatan a’laihi dan pemutlakan lafadz akhbarana, tidak lafadz yang lain.[xxv]
  • Lafadz ada’ yang menunjukkan metode ijazah antara lain lafadz ajaza li fulan dan boleh juga dengan ibarat sima’ dan qiraah yang dikait dengan ijazah seperti haddatsana ijazatan atau akhbarana ijazatan, serta lafadz anbaana menurut Abu al-A’bbas al-Walid bin Bakr al-Ma’mari, pengarang kitab al-Wijazah fi Tajwiz al-Ijazah.[xxvi]
  • Lafadz ada’ yang menunjukkan munawalah antara lain nawalani atau nawalani wa ajaza li jika disertai dengan ijazah dan boleh juga dengan ibarat sima’ atau qiraah yang dikait dengan lafadz munawalah seperti haddatsana munawalatan dan akhbarana munawalatan wa ijazatan.[xxvii]
  • Lafadz ada’ yang menunjukkan metode kitabah antara lain kataba ilayya fulan atau dengan ibarat sima’ atau qiraah yang dikait dengan lafadz kitabah seperti haddatsani au akhbarani kitabatan.[xxviii]
  • Lafadz ada’ yang menunjukkan metode i’lam dari syekh seperti a’lamani syaikhi bikadza.[xxix]
  • Lafadz ada’ yang menunjukkan metode washiyyah seperti ausha ilayya fulan bikadza atau haddatsani fulan washiyyatan.[xxx]
  • Lafadz ada’ yang menunjukkan metode wijadah seperti wajadtu bi khatti fulan au qara’tu bi khatti fulan kadza.[xxxi]

Sanad hadis sangat memprioritaskan ketersambungan sanad dari masing-masing perawi yang ada hingga sampai kepada sumber utama yaitu Nabi SAW. Ini juga merupakan salah satu ciri penting dari sanad ini. Namun dalam hal ini, para ulama hadis berselisih pendapat mengenai kriteria kapan sebuah sanad itu dinilai bersambung dan kapan dia dianggap terputus.

Di antara khilafiah (perbedaan) yang terjadi berkenaan dengan masalah ini adalah perbedaan kriteria shahih (yang salah satu unsurnya adalah ketersambungan sanad) antara Imam Bukhari (w. 256 H) dengan Imam Muslim (w. 261 H) ketika menyusun kitab Shahih-nya. Adapun syarat shahih perspektif Imam Bukhari ada tiga, yaitu keharusan liqa’ (bertemu secara pasti) antar perawi yang ada, harus semasa, serta terbebas dari tadlis. Sedangkan syarat shahih menurut Imam Muslim hanya dua yaitu semasa dengan bebasnya sanad dari kemungkinan tadlis.[xxxii]

Adapun sanad yang tidak memenuhi kriteria shahih seperti yang telah disebutkan, akan berimplikasi terhadap matan hadis yang bersangkutan. Karena penilaian terhadap matan sangat bergantung terhadap kualitas sanadnya. Kongklusi dari hal ini adalah tidak sahnya beristidlal dengan hadis-hadis yang sanadnya terputus seperti Hadis Mu’allaq,[xxxiii] Hadis Mursal,[xxxiv] Hadis Mu’dhol,[xxxv] Hadis Munqathi’,[xxxvi] Hadis Mudallas,[xxxvii] Mursal Khafiy,[xxxviii] dan Hadis Mu’an’an[xxxix] atau Muannan.[xl]

Sanad hadis juga mengharuskan masing-masing dari perawi yang ada dalam rangkaian sanad bersifat adil[xli] dan kuat hafalannya. Sehingga tidak sah beristidlal dengan hadis yang perawinya mempunyai kecacatan-kecacatan yang tidak bisa ditolerir dalam standar jarah wa ta’dil-nya ilmu hadis seperti Hadis Maudhu’,[xlii] Hadis Matruk,[xliii] Hadis Mungkar,[xliv] Hadis Mu’allal,[xlv] Hadis yang Mukhalafah li al-Tsiqah,[xlvi] Hadis Mudraj,[xlvii] Hadis Maqlub,[xlviii] Hadis Muttharrib,[xlix] Hadis Mushahhaf,[l] dan Hadis Syadz.[li]

Salah satu keistimewaan sanad hadis adalah adanya variasi penulisan sanad dengan jalan meringkas sanad atau yang lazim disebut dengan istilah tahwil[lii]. Sehingga dengan adanya rumusan ini, seorang muhaddis yang mempunyai banyak guru tidak perlu boros dan “lebay” dalam menyebutkan sanad, karena hal itu bisa diringkas dengan cara membubuhkan istilah ح (dibaca tahwil) di sela-sela sanad hadis yang bersangkutan.

 

Catatan:

[i]Istilah sanad berasal dari kata Sanada-Yasnudu-Sanadan yang secara etimologi berarti al-mu’tamad (sandaran, tempat bersandar, tempat berpegang, yang dipercaya, yang sah). Dikatakan demikian karena hadis itu bersandar kepadanya dan dipegangi atas kebenarannya. Sedangkan secara terminologi sanad mengandung arti silsilah beberapa orang (yang meriwayatkan hadis) yang menghubungkannya kepada matan hadis. Adapun kata isnad mengandung pengertian menyandarkan, mengasalkan, mengangkat hadis kepada orang yang mengatakannya. Pada tahap selanjutnya kata sanad dan isnad mempunyai arti yang hampir sama atau berdekatan. Lihat Mahmud Thahhan, Taisir Musthalah al-Hadis, (Indonesia: Al-Haramain, cet. VII, 1977), h. 16, yang kemudian dikutip oleh Usman Sya’roni, Otentisitas Hadis Menurut Ahli Hadis dan Kaum Sufi, (Jakarta: Pustaka Firdaus, cet. II, 2008), h. 9.

[ii]Lihat Muhyiddin Abu Zakaria bin Syaraf al-Nawawi, Syarah Shahih Muslim li al-Nawawi, (Mesir: Dar al-Hadis, cet. IV, 2001), v. 1, h. 120. Kemudian perkataan Ibn Mubarak ini dikutip hampir oleh semua kitab-kitab Musthalah Hadis seperti Muqaddimah karya Ibn Shalah, Qawaid al-Tahdis min Funun Mushthalah al-Hadis karya al-Qasimi, Tadrib al-Rawi syarh Taqrib al-Nawawi karya al-Suyuthi, Taisir Mushthalah al-Hadis karya Mahmud Thahhan, dan masih banyak yang lain.

[iii]Lihat Muhammad Jamal al-Din al-Qasimi al-Dimasyqi, Qawaid al-Tahdits min Funun Mushthalah al-Hadis, (Beirut: Dar al-Nafais, cet. I, 1987), h. 210.

[iv]Lihat Jalal al-din al-Suyûthi, Tadrib al-Râwi fi Syarh Taqrîb al-Nawawi, (Mesir, Dar al-Hadis, cet. I, 2004), h. 431.

[v]Kata ‘Illah berasal dari kata ‘alla, ya’ullu, atau ya’illu secara etimologi berarti penyakit, sebab, alasan, atau halangan. Sehingga ungkapan tidak beri’llat secara bahasa berarti tidak ada penyakit, tidak ada alasan, dan tidak ada halangan. Adapun pengertiannya secara terminology sebagaimana yang dikemukakan oleh Ibn Shalah berarti sebab yang tersembunyi yang merusak kualitas hadis. Keberadaannya menyebabkan hadis yang pada lahirnya tampak shahih menjadi tidak shahih. Lihat Abi Amr Utsman bin Abd al-Rahman al-Syahrazuri, Muqaddimah Ibn Shalah fi Ulum al-Hadis, dicetak bersamaan dengan tahqiqannya oleh Abu A’bd al-Rahmân Shalah bin Muhammad bin U’waidhoh (Beirut: Dar al-Kutub Ilmiyah, cet. II, 2006), h. 43.

[vi]Kata syadz berasal dari kata syadzza, yasyudzzu, secara bahasa berarti ganjil, yang terasing, yang menyalahi aturan, yang tidak biasa, atau yang menyimpang. Sehingga secara praktis dapat diartikan sebagai hadis yang menyimpang, hadis yang ganjil, atau hadis yang menyalahi aturan. Adapun pengertiannya secara terminologi adalah sebuah hadis yang diriwayatkan oleh seorang perawi yang kapabel namun bertentangan dengan dengan hadis yang diriwayatkan oleh orang-orang kapabel lainnya, sementara tidak ada rawi lain yang meriwayatkannya.

[vii]Mahmud Thahhan, Ushul al-Takhrij wa Dirasah al-Asanid, (Riyadh: Maktabah al-Ma’arif, cet. III, 1991), h. 139.

[viii]Lihat Abu A’bd al-Rahmân Shalah bin Muhammad bin U’waidhoh, Muqaddimah Ibn Shalah, h. 271. Lebih lanjut Ibnu Hazm memaparkan bahwa salah satu kelemahan sanad yang dimiliki oleh kaum Yahudi adalah banyaknya sanad-sanad yang mursal dan mu’dhol dalam kisah-kisah yang mereka riwayatkan, sehingga kedekatan mereka dengan Nabi Musa tidak sebanding dengan kedekatan umat Nabi Muhammad dengan beliau, karena terdapat jarak kira-kira 30 periode antara mereka dengan Nabi Musa. Sedangkan kaum Nasrani tidak mempunyai tradisi seperti ini melainkan hanya dalam persoalan talak saja. Sementara dalam persoalan lain, riwayat-riwayat mereka dipenuhi dengan kedustaan, majhul al-ain, dan lain sebagainya.

[ix]Abi Amr Utsman bin Abd al-Rahman al-Syahrazuri, Muqaddimah Ibn Shalah fi Ulum al-Hadis, h. 271.

[x]Muhammad Yasin bin Muhammad I’sa al-Fadani, Ittihaf al-MustafÎd bi gharar al-Asânîd, (Indonesia: Attahariyah, cet. III, 1982), h. 2.

[xi]Abdul Karim Zaidan, Ulum al-Hadis, (Beirut: Muassasah Risalah al-Nâsyirun, cet. I, 2008), h. 47. Lihat juga Mahmud Thahhan, Taisir Musthalah al-Hadis, h. 16, dan Jalal al-Dien al-Qasimi, Qawa’id al-Tahdis, h. 210.

[xii]Abu I’sa Muhammad bin I’sa bin Surah, Sunan al-Tirmidzi, (Mesir: Darul Hadis, cet. I, 1999), v. 1, h. 87. Hadis ini terdapat dalam Kitab Thaharah, bab tentang tidak diterimanya shalat tanpa bersuci, hadis ke-1.

[xiii]Rujukan terpenting dalam pembahasan ini adalah al-Muhaddis al-Fashil, paragraf 45-64, al-Kifayah, h. 54-66, al-Ilma’, h. 11/B, Muqaddimah ibn Shalah, h. 48-50, Ikhtisar Ulum al-Hadis, h. 120-122, Fath al-Mughits karya al-I’raqi, h. 43, dan Fath al-Mughits karya al-Sakhawiy, h. 163, Taudhih al-Afkar, h. 206, juz 2, Fath al-Ghaffar, h. 86, juz 2. Keterangan ini dikutip dari terjemahan Ushul al-Hadis karya Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, h. 217.

[xiv]Tadlis secara bahasa terambilkan dari kata dalas yang bermakna kegelapan atau percampuran kegelapan sebagaimana disebutkan dalam Qamus al-Muhith karya Fairuz Abadi. Sehingga secara praktis tadlis adalah menyembunyikan cacat/aib yang terdapat pada barang dagangan dari calon pembeli. Sementara itu secara istilah tadlis berarti menyembunyikan kecacatan yang terdapat di dalam sanad, sehingga secara lahiriahnya terlihat bagus dan tidak mempunyai cacat.

[xv]Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, Ushul al-Hadis, (Beirut: Dar al-Fikr, cet. III, 1975), h. 233-234. Lihat juga Qawa’id Tahdis karya al-Qasimi, h. 211.

[xvi]Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, Ushul al-Hadis, h. 234-235.

[xvii]Ibid, h. 235-236.

[xviii]Ibid, h. 238-239.

[xix]Ibid, h. 239-240.

[xx]Ibid, h. 241-242.

[xxi]Ibid, h. 243.

[xxii]Ibid, h. 244.

[xxiii]Ibid, h. 248.

[xxiv]Ahmad Muhammad Syakir, al-Baits al-Hatsis Syarh Ikhtishar U’lum al-Hadis li al-Hafidz Ibn Katsir, (Beirut: Dar al-Kutub ‘Ilmiyyah), h. 104.

[xxv]Mahmud Thahhan, Taisir Mushthalah al-Hadis, h. 160.

[xxvi]Ibid, h. 161.

[xxvii]Ibid, h. 162.

[xxviii]Ibid, h. 163.

[xxix]Ibid, h. 164.

[xxx]Ibid, h. 164.

[xxxi]Ibid, h. 165.

[xxxii]Hasan Basri Salim dan Shahabuddin bin Shahabuddin, Mabadi Ulum al-Hadis, (Jakarta: UIN Press, 2009), h. 22. Ada yang mengatakan bahwa perbedaan syarat inilah yang menjadi salah satu faktor mayoritas ulama hadis lebih mengunggulkan Shahih Bukhari ketimbang Shahih Muslim dari segi kualitas, walaupun dari segi yang lain terkadang Shahih Muslim lebih unggul dari Shahih Bukhari seperti adanya sebagian hadis dalam Shahih Muslim yang lebih tinggi kualitas keshahihannya daripada hadis shahih dalam Shahih Bukhari dan lain sebagainya.

[xxxiii]Hadis Mu’allaq yaitu hadis yang pada bagian awal sanadnya dibuang, baik seorang perawi atau pun lebih secara berturut-turut.

[xxxiv]Hadis Mursal yaitu hadis yang gugur pada akhir sanad setelah tabi’in.

[xxxv]Hadis Mu’dhol yaitu hadis yang sanadnya gugur dua orang rawi atau lebih secara berturut-turut.

[xxxvi]Hadis Munqathi’ yaitu hadis yang sanadnya tidak bersambung dari sisi manapun terputusnya.

[xxxvii]Hadis Mudallas yaitu menyembunyikan cacat yang ada pada sanad, lalu menampakkannya bagus.

[xxxviii]Mursal Khafiy yaitu hadis yang diriwayatkan dari orang yang pernah bertemu atau semasa dengannya, akan tetapi tidak pernah mendengarnya dengan bentuk lafadz yang mengandung pengertian sima’ (mendengar langsung) atau yang sejenisnya, seperti qala (ia telah berkata).

[xxxix]Hadis Mu’an’an yaitu hadis yang perawinya memakai lafadz tahdis a’n (fulan dari si fulan).

[xl]Hadis Muannan yaitu hadis yang lafadz tahdis perawinya menggunakan lafadz anna dengan makna “telah menceritakan kepadaku si fulan sesungguhnya fulan telah berkata”.

[xli]‘Adil dalam istilah Ilmu Hadis bermakna seorang perawi yang di dalam dirinya terkumpul sifat muslim, baligh, berakal, tidak fasiq, dan tidak pula orang yang rusak harga dirinya.

[xlii]Hadis Maudhu’ yaitu dusta yang dibuat-buat dan direkayasa, kemudian dinisbahkan kepada Rasulullah SAW.

[xliii]Hadis Matruk yaitu hadis yang di dalam sanadnya terdapat rawi yang dituduh berdusta.

[xliv]Para ulama membuat definisi Hadis Mungkar bermacam-macam, tetapi yang terkenal ada dua :

  1. Hadis yang di dalam sanadnya terdapat perawi yang kekeliruannya parah, atau banyak lupa, atau menampakkan kefasikannya. Defenisi ini disinggung oleh al-Hafidz Ibn Hajar dan Imam Baiquni dalam Mandhumat.
  2. Hadis yang dirawayatkan oleh rawi yang dhoif yang bertentangan dengan rawi tsiqah. Devenisi ini juga disebut-sebut oleh Hafidz Ibn Hajar dan dijadikannya sebagai sandaran. Terdapat tambahan dari devenisi yang pertama yaitu hadis yang diriwayatkan rawi dhoif itu bertentangan dengan rawi tsiqah.

[xlv]Hadis Muallal yaitu hadis yang jika dicermati terdapat cacat yang merusak keshahihannya, meski secara lahiriah, hadis tersebut selamat dari cacat (‘ilat).

[xlvi]Mukhalafah fi al-Tsiqah Yaitu hadis dho’if yang disebabkan lantaran riwayatnya menyelisihi riwayat dari rawi tsiqah. Dari hadis ini muncul lima macam cabang ilmu hadis yaitu Hadis Mudraj, Hadis Maqlub, Al-Mazid Fi Muttashil Al-Asanid , Hadis Mudtharrib, Dan Hadis Mushahhaf.

[xlvii]Hadis Mudraj yaitu hadis yang dirubah susunan sanadnya atau matannya dimasuki sesuatu yang bukan menjadi bagiannya tanpa ada pemisah.

[xlviii]Hadis Maqlub yaitu menukar lafadz dengan lafadz lainnya pada sanad hadis atau pada matan hadis dengan cara mendahulukan, mengakhirkan, atau yang sejenis.

[xlix]Hadis Muttharrib yaitu hadis yang diriwayatkan dari arah yang bermacam-macam yang kekuatannya sama dan tidak bisa dijama’ antar satu sama lain.

[l]Hadis Mushahhaf yaitu berubahnya kata di dalam hadis dengan kata selain yang diriwayatkan oleh rawi tsiqah, baik lafadznya maupun maknanya.

[li]Hadis Syadz yaitu hadis yang diriwayatkan rawi maqbul (bisa diterima) yang menyelisihi dengan orang yang lebih utama.

[lii]Secara bahasa kata tah̠wil berasal dari h̠awwalayuh̠awwilutah̠wîlan, yang berarti memindahkan atau memalingkan. Kata tah̠wil semakna dengan kata ghayyara, intaqala, inshorof. Namun secara umum istilah ini dipakai untuk menunjukkan perpindahan sanad ke sanad yang lain, karena terdapat dua sanad atau lebih, kemudian menjadikan keduanya pada satu matan. Di dalam menjelaskan permasalahan tah̠wil, para ulama ahli hadis (muh̠addisin) berbeda pendapat di dalam memberikan tanda (rumus) h̠a. Ada yang menyebutkan bahwa huruf h̠a ini merupakan rumus dari lafadz al-tah̠wil atau al-h̠âil. Adapula yang menyebut bahwa huruf h̠a merupakan ibarat dari perkataan al-h̠adits. Ada sebagian orang yang menyangka bahwa huruf h̠a ini adalah kho, yaitu adanya jalur sanad yang lain, namun yang masyhur dan menjadi konsensus para ulama adalah huruf h̠a. Dalam membaca huruf  h̠a sebagai rumus untuk perpindahan dari satu sanad ke sanad yang lain, para ulama ahli hadis (muh̠adisîn) berbeda dalam hal pembacaannya. Berikut akan dijelaskan secara rinci cara pembacaan huruf h̠a beserta ulama yang mempraktekkan pembacaan tersebut.

  1. Menurut Ibn Shalah “ketika kita sampai pada huruf h̠a, bacalah sebagaimana adanya, yaitu bacalah h̠a dan langsung meneruskan bacaan selanjutnya.” Begitu pula dengan Imam al-Nawawi ketika sampai pada huruf h̠a hanya membaca h̠a sebagaimana adanya dan meneruskan bacaannya.
  2. Menurut Ulama Baghdad, ketika sampai pada huruf h̠a bacalah h̠a sebagaimana adanya dan teruskan bacaan selanjutnya. Adapula sebagian Ulama Baghdad ketika sampai pada huruf h̠a membaca h̠âjiz.
  3. Sedangkan Ahli maghrib ketika sampai pada huruf h̠a membaca al-h̠adis dan sebagian Ahli Maghrib lainnya membaca h̠âjiz sebagaimana yang dikatakan oleh Ulama Baghdad.
  4. Muhammad Jamal al-Dîn al-Qasamî, di dalam kitabnya Qawâid al-Tah̠dits Min Funûn al-Mushthalah̠ al-H̠adîs ketika sampai pada huruf h̠a membaca tah̠wil (tanpa alif lam), seperti apa yang dikatakan oleh atau dari guru-guru Beliau. Pembacan huruf h̠a dengan tah̠wil (tanpa alif lam), dianggap baik olehnya.
  5. Menurut Ahli masyriq, ketika sampai pada huruf h̠a membaca al-tah̠wil (dengan alif lam).

Keterangan ini dikutip dari makalah Saudara Muhammad Bindaniji, yang berjudul Pengertian Tahwil pada Sanad dan Faedahnya.

Tulisan Ini pernah diterbitkan di Jurnal Ulumul Hadis, diterbitkan ulang untuk tujuan pendidikan.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY