Tradisi Periwayatan Sanad Hadis, Kitab dan Doa (bag II)

Tradisi Periwayatan Sanad Hadis, Kitab dan Doa (bag II)

567
0

Sanad Kitab

Apabila istilah sanad dikaitkan dengan kata kitab (buku) atau disebut juga dengan sanad kitab maka maknanya adalah silsilah penulisan serta pengajaran sebuah kitab tertentu sehingga sampai kepada pengarangnya. Salah satu contoh dari sanad kitab ini adalah sanad kitab Shahih Muslim yang dimiliki oleh Imam Nawawi (w. 676 H), sebagaimana yang beliau sebutkan dalam muqaddimah syarah Shahih Muslim. Berikut kutipannya :

أما اسنادي فيه فأخبرنا بجميع صحيح الامام مسلم بن الحجاج رحمه الله الشيخ الأمين العدل الرضى أبو إسحاق ابراهيم بن أبي حفص عمر بن مضر الواسطى رحمه الله بجامع دمشق حماها الله وصانها وسائر بلاد الاسلام وأهله قال أخبرنا الامام ذو الكنى أبو القاسم أبو بكر أبوالفتح منصور بن عبد المنعم الفراوي قال أخبرنا الامام فقيه الحرمين أبو جدى أبو عبد الله محمد بن الفضل الفراوي قال أخبرنا أبو الحسين عبد الغافر الفارسي قال أنا أحمد محمد بن عيسى الجلودي قال أنا أبو إسحاق ابراهيم بن محمد بن سفيان الفقيه انا الامام أبو الحسين مسلم بن الحجاج رحمه الله.[i]

Dari contoh sanad kitab tersebut, maka didapatlah beberapa kesimpulan, diantaranya :

  1. Sanad kitab juga mengharuskan penyebutan mua’llim atau silsilah para pengajar dari kitab tersebut mulai dari sang pemilik sanad hingga sampai kepada pengarangnya. Hal itu bisa dilihat dari contoh yang telah penulis kutipkan di atas, yaitu sanad kitab Shahih Muslim milik Imam Nawawi. Pada sanad tersebut Imam Nawawi menyebutkan secara detail runtutan atau silsilah para pengajar dari kitab tersebut mulai dari gurunya yang bernama Syekh al-Amin al-Adl al-Ridho Abu Ishak Ibrahim bin Abi Hafs Umar bin Mudhir al-Washiti hingga sampai kepada Imam Muslim sebagai penulisnya. Wallahu A’lam
  2. Sanad kitab juga menggunakan lafadz-lafadz ada’ (penyampaian) sebagaimana yang berlaku dalam sanad hadis. Hanya saja kriterianya tidak sedetail dan serumit sanad hadis yang memang mengutamakan ketransparanan dan kepastian.

Dalam contoh di atas dapat dilihat bahwa Imam Nawawi menggunakan lafadz akhbarana dalam lafadz penyampaiannya. Dan guru-gurunya juga menggunakan lafadz yang serupa. Kalau kita merujuk kepada istilah ilmu hadis yang berkenaan dengan lafadz ada’, maka hal ini menunjukkan metode qira’ah ala al-syekh (membaca langsung di hadapan guru), dalam kata lain Imam Nawawi langsung membaca kitab Shahih Muslim di hadapan gurunya yang bernama Syekh al-Amin itu.

Selain akhbarana, penulis menemukan lafadz ada’ yang lain pada contoh sanad ini. Yaitu lafadz a’n, kenyataan ini penulis jumpai dalam sanad kitab al-Qawaid al-Kubra karya Syekh I’zzu al-Dien bin Abd al-Salam (w. 660 H) milik Syekh Muhammad Yasin bin I’sa al-Fadani yang beliau tuliskan dalam kumpulan sanad beliau yang bernama Ittihaf al-MustafÎd bi gharar al-Asânîd. Berikut kutipan lengkapnya :

قال الشيخ محمد ياسين بن عيسى الفاداني أرويه (كتاب القواعد الكبرى) عن الشيخ محمد علي المالكي عن شيخه السيد بكري يسنده في الجامع الصغير إلى الجلال السيوطي عن االشهاب أحمد بن إبراهيم القليوبي عن أبي علي المهدوي عن أبي النون يونس بن إبراهيم الدبوسي عن المؤلف سلطان العلماء عز الدين بن عبد السلام.[ii]

  1. Lafadz-lafadz ada’ yang sering digunakan dalam sanad kitab adalah lafadz akhbarana dan a’n. Dan penulis belum menemukan shighat lain selain dua lafadz ini. Wallahu A’lam
  2. Keterputusan sanad dalam sanad kitab tidak berimplikasi terhadap lemahnya kandungan kitab yang dinisbatkan kepada pengarangnya, dengan syarat adanya bukti-bukti lain yang menunjukkan bahwa kitab itu memang karya dari penulis yang bersangkutan seperti adanya sanad kitab dari jalur yang lain terhadap kitab tersebut. Wallahu A’lam
  3. Implikasi dari keterputusan sanad kitab ini akan menimbulkan sebuah persoalan yaitu bolehkah bagi orang yang tidak mendapatkan sanad atau ijazah dari kitab tertentu, mengajarkan kitab tersebut kepada orang lain atau tidak.? Jawaban dari pertanyaan ini mempunyai rincian sebagai berikut.

Apabila yang bersangkutan mempunyai keahlian dalam memahami kitab tersebut sesuai dengan aturan dan kaedah-kaedah standar bahasa yang berlaku, maka boleh baginya untuk mengajarkannya kepada murid atau siapapun yang dia kehendaki, tapi kalau tidak, maka tidak boleh. Pendapat yang lain mengatakan bahwa tidak boleh secara mutlak bagi orang yang tidak mendapatkan sanad atau ijazah dari kitab tertentu untuk mengajarkan kandungannya kepada orang lain, walaupun ia ahli dalam memahami kitab tersebut, karena keberadaan sanad atau ijazah dari guru yang bersangkutan menjadi syarat utama dalam mengajarkan kitab tersebut.[iii]

Selain hal-hal yang telah penulis sebutkan di atas, ada beberapa faedah dalam mencari sanad kitab ini, hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Syekh Jalaluddin al-Qasimi dalam kitabnya Qawa’id Tahdis.[iv] Di antara manfaat tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Memelihara kitab yang bersangkutan dari keterlupaan dan kesia-siaan.
  2. Menyebarluaskan serta membumisasikan ilmu dan pengetahuan untuk seluruh kalangan, baik umum ataupun khusus, sehingga pada akhirnya para siswa semakin terdorong untuk mencarinya.
  3. Sebagai stimulan dan pendorong seseorang untuk senantiasa membaca kitab tersebut, dan ini merupakan nikmat Allah SWT yang sangat besar terhadap umat manusia.
  4. Sebagai bukti keagungan para ulama masa lalu dengan karya-karya mereka berupa kitab-kitab yang berisi ilmu pengetahuan sekaligus lahan untuk menghargai serta mengapresiasi karya tersebut.
  5. Melanggengkan segala sesuatu yang bermanfaat dari kandungan kitab-kitab tersebut serta sarana untuk menjaga keabadian rangkaian sanad yang merupakan kekhususan umat Nabi Muhammad SAW.[v]

Sanad Doa/Hidzib/Tarekat.

Setelah mengetahui dua pembahasan terdahulu, sekarang bahasan ini akan dilanjutkan dengan penjelasan mengenai sanad doa/hizib/tarekat serta apa saja keistimewaan yang dimiliki oleh sanad ini. Sebagaimana sanad hadis dan sanad kitab, ternyata doa/hizib/tarekat juga mempunyai sanad. Tentunya sanad ini mempunyai ciri khusus yang tidak dimiliki oleh dua sanad terdahulu. Namun sebelum menjelaskan itu, penulis akan mengutip beberapa contoh untuk sanad ini.

Syekh Abdu al-Wahhab al-Sya’rani (w. 973 H) dalam kitabnya yang bernama al-Anwar al-Qudsiyyah fi Ma’rifah Qawa’id al-Shufiyyah mengatakan bahwa beliau mempunyai beberapa jalur sanad dalam tarekatnya.[vi] Di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Sanad yang pertama :

الطريق الأول هو من علي بن أبي طالب لقن الحسن البصري، والحسن البصري لقن حبيبا العجمي، وحبيب العجمي لقن دود الطائي، ودود الطائي لقن معروفا الكرخي، ومعروف الكرخي لقن السري السقطي، والسري لقن أبا القاسم الجنيد، والجنيد لقن القاضي رويم، وهكذا إلى الإمام عبد الوهاب الشعراني.

  • Sanad yang kedua :

الطريق الثاني الذي أقرب سندا مما قبل يعني قال ”أنني تلقنت على شيخ مشايخ الإسلام زكريا الأنصاري، وتلقن هو علي سيدي محمد الغمري تلميذ سيدي أحمد الزاهد رفيق سيدي مدين، وهو من رسول الله“.

  • Sanad yang ketiga :

الطريق الثالث يعنى قال ”أنني أخذت عن سيدي علي الخواص، وهو أخذ عن الشيخ سيدي إبراهيم المتبولي، وهو أخذ عن رسول الله صلى الله عليه وسلم يقظة ومشافهة بالكيفية المعروفة بين القوم في عالم الروحانيات“.

  • Sanad yang keempat :

الطريق الرابع يعني قال ”أنني أخذت عن سيدي علي الخواص، وهو أخذ عن رسول الله“.[vii]

Dari beberapa contoh sanad tarekat yang telah penulis kutip, setidaknya ada beberapa poin penting yang dapat dijadikan sebagai ciri atau tanda khusus dari sanad ini. Di antaranya adalah sebagai berikut :

Sanad tarekat tidak mengutamakan ketersambungan sanad secara hakiki, namun ulama di bidang ini menerima dan menganggap sah sanad yang didapatkan lewat jalur rohani atau disebut juga dengan barzakhi (periwayatan seseorang yang hidup dengan orang atau syekh tarekat yang telah wafat melalui mimpi atau jalur lain yang tidak di alam nyata.

Dalam contoh sanad yang penulis kutipkan di atas, setidaknya ada tiga sanad dari empat sanad yang dimiliki Syekh Abdu al-Wahhab al-Sya’rani yang diriwayatkan dengan jalan rohani, yaitu sanad kedua, ketiga, dan keempat. Pada sanad kedua, Syekh Abdu al-Wahhab al-Sya’rani memiliki sanad a’li[viii] dengan dua orang perantara antara dia dengan Rasulullah SAW, yaitu gurunya Syekh Zakaria al-Anshari (w. 925 H) dan gurunya yang bernama Syekh Muhammad al-Ghummari, dan syekh al-Ghummari ini mendapatkan tarekat langsung dari Nabi Muhammad SAW. Padahal secara logika, tidak mungkin syekh al-Ghimmari yang mempunyai jarak yang sangat jauh dengan Rasulullah bisa meriwayatkan tarekat secara langsung dari Nabi, kecuali lewat jalur rohani (pertemuan di alam roh/barzakh). Dan hal ini sangat-sangat lumrah dalam tradisi shufi yang mengutamakan kebersihan rohani.

Pada sanad yang ketiga Syekh Abdu al-Wahhab al-Sya’rani juga mempunyai sanad yang a’li, kali ini dia mengambil tarekat dari Syekh A’li al-Khawwash, dan dia dari gurunya yang bernama Sayyid Ibrahim al-Mathbuli, dan Sayyid Ibrahim mengambilnya langsung dari Rasulullah SAW lewat jalur rohani. Karena tidak mungkin keduanya bertemu secara hakiki, lantaran jauhnya jarak di antara keduanya.

Begitu juga dengan sanad keempat, Syekh Abdu al-Wahhab al-Sya’rani memiliki sanad yang lebih pendek lagi, yaitu dirinya, kemudian gurunya Syekh A’li al-Khawwash, dan Nabi SAW. Dalam kata lain beliau hanya mempunyai satu orang perantara antara dirinya dengan Rasulullah SAW, padahal dia hidup pada abad ke-10 hijriah, sementara Nabi hidup pada abad pertama hijriah. Tidak logis kalau ditinjau lewat pendekatan ilmu hadis adanya sanad seperti ini. Namun disinilah letak keistimewaan sanad tarekat ini sekaligus poin yang membedakannya dengan sanad hadis dan sanad kitab.

Selanjutnya sanad tarekat juga tidak terlalu memperhatikan lafadz ada’ dan thuruq tahammul sebagaimana yang terdapat dalam sanad hadis dan sanad kitab. Hal ini terbukti dengan bolehnya pemakaian lafadz ada’ dengan kata laqqana, akhadza a’n, ila, dan lain sebagainya dalam sanad tersebut. Sehingga tidak ditemukan kaedah khusus yang menentukan kapan sebuah sanad tarekat itu dianggap terputus dan kapan sanad tersebut dianggap bersambung. Wallahu A’lam.

Boleh dalam penulisan sanad tarekat penyebutan sanad yang dimulai dari asal sanad (perawi pertama setelah sumber utama) atau kalau dalam sanad hadis dimulai dari tabaqat sahabat misalnya atau tabi’in, padahal dalam adat yang berlaku dalam sanad hadis atau kitab, penyebutan sanad itu selalu dari akhir sanad (shahib al-kitab) atau kalau dalam sanad hadis seperti Imam Bukhari, Muslim, dan seterusnya hingga sampai kepada asal sanad. Ini merupakan kekhususan sanad tarekat yang juga tidak dimiliki oleh sanad hadis ataupun sanad kitab. Wallahu A’lam

Contoh dari poin ini adalah salah satu sanad tarekat Naqsyabandi yang dikutip oleh Imam Abdu al-Majid bin Muhammad al-Khani dalam kitabnya al-Hadaiq, beliau menuliskan:

”من مدينة العلم صلى الله عليه وسلم إلى بابه الأعظم سيدنا على بن أبي طالب إلي سيد الشهداء أبي عبد الله الإمام حسين إلي سيدنا الإمام زين العابدين علي الأصفر إلي سيدنا الإمام محمد الباقر إلي سيدنا الإمام جعفر الصادق إلي أخر السند.“[ix]

Kriteria tsiqah (kredibel) dalam sanad tarekat berbeda dengan kriteria tsiqah perspekstif ulama ahli hadis. Menurut mereka seorang perawi sudah dianggap kredibel manakala ia sudah berakhlak dengan budi pekerti yang baik dan yang terpenting dia adalah seorang yang a’rif (ahlu al-kassyaf) dengan Allah SAW. Hal ini sangat berbeda dengan kriteria para ahli hadis yang menekankan ketsiqahan dari segi a’dil dan kuatnya hafalan (dhobit).[x]

 

Catatan:

[i]Muhyiddin Abu Zakaria bin Syaraf al-Nawawi, Syarah Shahih Muslim li al-Nawawi, v. 1, h. 18.

[ii]Muhammad Yasin bin Muhammad I’sa al-Fadani, Ittihaf al-MustafÎd bi gharar al-Asânîd, h. 60.

[iii]Wawancara dengan salah seorang mahasantri senior Darussunnah, Habib Muhammad Idris Mas’udi, pada hari Jum’at, 6 April 2012, Jam 06.45 WIB.

[iv]Jalal al-din al-Qasimi, Qawaid al-Tahdis min Funun Mushthalah al-Hadis, h. 224.

[v]Ibid, h. 225.

[vi]Abdu al-Wahhab al-Sya’rani, al-Anwar al-Qudsiyyah fi Ma’rifah Qawa’id al-Shufiyyah, (Beirut: Maktabah ‘Ilmiyyah, t.t), v. 1, h. 20.

[vii]Ibid, h. 21.

[viii]Kata A’li merupakan isim fail dari kata al-u’luw yang merupakan antonim dari kata al-nuzul. Secara istilah sanad a’li I bermakna sanad yang mempunyai rangkaian silsilah yang pendek/sedikit apabila dibandingkan dengan sanad lain dari hadis tersebut.

[ix]Abd al-Majid bin Muhammad al-Khani, al-Hadaiq al-Wardiyyah fi Haqaiq Ajillai al-Naqsyabandiah, (Irak: Dar Taras li al-Thab’ah wa Nasyr, cet. II, 2002),  h. 10.

[x]Wawancara dengan salah seorang dosen Darussunnah, Ust. Arrazy Hasyim, Lc. MA pada hari Minggu, 8 April 2012, Jam 18.45 WIB.

Tulisan Ini pernah diterbitkan di Jurnal Ulumul Hadis, diterbitkan ulang untuk tujuan pendidikan.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY