Tradisi Periwayatan Sanad Hadis, Kitab dan Doa (bag III-Habis)

Tradisi Periwayatan Sanad Hadis, Kitab dan Doa (bag III-Habis)

882
0

Tabel Perbedaan Antara Sanad Hadis, Sanad Kitab, dan Sanad Doa/Hidzib/Tarekat

NoObjek KajianSanad HadisSanad Kitab
1.Urgensi sanad.Sangat memprioritaskannya serta menetapkan kriteria yang sangat detail dalam menyeleksi apakah sanad tersebut muttashil atau tidak. Karena hal ini akan berimplikasi terhadap matan hadis tersebut, apakah dia shahih atau tidak, apakah dia bisa dijadikan hujjah atau tidak.Sanad hanya diposisikan sebagai penguat penisbatan kitab kepada muallifnya. Selain itu sanad ini biasanya dijadikan sebagai syarat kebolehan dalam mengajarkan kandungan kitab tertentu kepada orang lain. Dan sanad ini terkadang oleh sebagian golongan dijadikan sebagai bahan untuk tabarrukan semata.
2.Kriteria ketersambungan sanad.Sanad dianggap muttashil manakala setiap perawi liqa’ (bertemu) antar satu sama lain. Akan tetapi dalam hal ini terdapat perbedaan dalam standarisasi liqa’ ini, ada yang menyaratkan liqa’ hakiki (tidak secara rohani/barzakhi atau hanya ada kemungkinan bertemu semata) sebagaimana yang disyaratkan oleh Imam Bukhari dan adanya kemungkinan liqa’ dengan bukti mu’asharah (sezaman) menurut Imam Muslim.Tidak mempunyai kriteria khusus dalam menentukan ketersambungan sanad, akan tetapi sanad dianggap muttashil manakala adanya ketersambungan silsilah para periwayat dari kitab itu secara zhanni dengan tanpa menyaratkan adanya kepastian bertemu. Seandainya sanad tersebut sudah bisa dipastikan terputus, maka hal itu juga tidak akan mempengaruhi kandungan dari kitab tersebut melainkan hanya tidak kuatnya penisbatan kitab yang bersangkutan kepada penulisnya.
3.Implikasi keterputusan sanad.Tidak sah dijadikan landasan/dalil dalam beramal. Namun di sini masih ada bahasan lain yang menjadi lahan khilafiah antar ulama hadis seperti boleh tidaknya mengamalkan hadis dho’if untuk fadhoil al-a’mal. Lihat bahasan lengkapnya di kitab-kitab musthalah hadis.Ketidakpastian penisbatan kitab yang bersangkutan kepada penulisnya. Hal ini akan berakibat pendustaan terhadap seseorang, karena menisbahkan sesuatu karangan bukan kepada orang yang mengatakannya. Di sisi lain seseorang yang sanad kitabnya terputus tidak boleh mengajarkan kandungan kitab yang bersangkutan kepada orang lain. Namun menurut pendapat lain boleh dengan syarat dia menguasai isi kitab tersebut.
4.Kriteria kredibelnya seorang rawi.Apabila rawi yang bersangkutan bersifat ‘adil (muslim, baligh, dan berakal, tidak pernah berbuat dosa besar dan jarang berbuat dosa kecil, serta terjaga harga dirinya) dan dhobith (kuat hafalannya), dan dhobith di sini ada 2 yaitu ada dhobit shadr dan ada dhobith kitab.Tidak mempunyai standarisasi yang jelas.
5.Pemakaian lafadz ada’ wa thuruq tahammul (penyampaian dan penerimaan hadis).Sangat memperhatikan lafadz ada’. Karena terkadang dari sana bisa diketahui secara langsung apakah hadis tersebut muttashil atau tidak seperti penggunaan  lafadz sami’tu atau haddatsani menunjukkan sima’ (mendengar langsung dari syekh), lafadz akhbarani menunjukkan qira’ah (membaca di hadapan syekh), lafadz anbaani menunjukkan ijazah, dan lafadz qala li atau zakara li menunjukkan sima’ (mendengarkan) lewat mudzakarah.Sanad kitab juga menggunakan lafadz-lafadz ada’ (penyampaian) sebagaimana yang berlaku dalam sanad hadis. Hanya saja kriterianya tidak sedetail dan serumit sanad hadis yang memang mengutamakan ketransparanan dan kepastian. Dan lafadz-lafadz ada’ yang sering digunakan dalam sanad kitab adalah lafadz akhbarana dan a’n. Dan penulis belum menemukan contoh sanad ini yang memakai shighat lain selain dua lafadz ini.
6.Sistematika penulisan sanad.Penulisan sanad hadis selalu diawali dari shahibul al-kitab (seperti dari Imam Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan lain-lain), kemudian terus ke atas sampai kepada awal sanad seperti sahabat/tabi’in dan pada akhirnya sampai kepada Nabi SAW.Sama dengan sistematika penulisan sanad hadis, yaitu dari orang yang punya sanad hingga sampai kepada pengarang kitab.
7.Sistem peringkasan sanad.Salah satu keistimewaan sanad hadis adalah adanya variasi penulisan sanad dengan jalan meringkas sanad atau yang lazim disebut dengan istilah tahwil. Sehingga dengan adanya rumusan ini, seorang muhaddis yang mempunyai banyak guru tidak perlu boros dan “lebay” dalam menyebutkan sanad, karena hal itu bisa diringkas dengan cara membubuhkan istilah ح (dibaca tahwil) di sela-sela sanad hadis yang bersangkutan.Hal seperti ini belum ditemukan dalam sanad ini.

 

 

 

NoObjek KajianSanad Tarekat/Hidzib/Doa
1.Urgensi sanad.Sanad ini mempunyai aturan yang lebih longgar daripada sanad hadis dan kitab, seakan-akan tidak terlalu mementingkannya. Hal ini dapat ditinjau dari beberapa hal seperti tidak adanya standar khusus terhadap penilaian ketersambungan sanad serta tidak jelasnya penentuan shighat fi riwayah dari para perawinya.
2.Kriteria ketersambungan sanad.Sanad ini lebih longgar lagi. Karena ketersambungan sanad tidak menyaratkan adanya pertemuan antar perawi secara nyata/hakiki. Tapi juga melegitimasi adanya pertemuan yang bersifat rohani (pertemuan di alam barzakh antar perawi yang masih hidup dengan yang sudah meninggal). Sehingga mungkin saja sanad akan bersifat a’li walaupun jarak antara perawi sangat berjauhan dari segi waktu. Lihat kembali contoh di atas.
3.Implikasi keterputusan sanad.Ketidakpastian riwayat amalan yang diajarkan oleh masing-masing rawi, sehingga menyebabkan tarekat yang bersangkutan bisa dianggap ghair mu’tabarah sama sekali dan bahkan bisa dicap sebagai sebuah amalan bid’ah yang menyelisihi ajaran agama. Hal ini sangat berbahaya terhadap keberagamaan seseorang manusia, karena mengamalkan sesuatu yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi SAW.
4.Kriteria kredibelnya seorang rawi.Dianggap kredibel apabila perawinya berakhlak baik dan yang paling penting dia adalah orang yang a’rif (mukasyafah) dengan Allah SWT dengan kesaksian para murid atau riwayat dari masyarakat sekitar.
5.Pemakaian lafadz ada’ wa thuruq tahammul (penyampaian dan penerimaan hadis).Selanjutnya sanad tarekat juga tidak terlalu memperhatikan lafadz ada’ dan thuruq tahammul sebagaimana yang terdapat dalam sanad hadis dan sanad kitab. Hal ini terbukti dengan bolehnya pemakaian lafadz ada’ dengan kata laqqana, akhadza a’n, ila, dan lain sebagainya dalam sanad tersebut. Sehingga tidak ditemukan kaedah khusus yang menentukan kapan sebuah sanad tarekat itu dianggap terputus dan kapan sanad tersebut dianggap bersambung.
6.Sistematika penulisan sanad.Boleh dalam penulisan sanad tarekat penyebutan sanad yang dimulai dari asal sanad (perawi pertama setelah sumber utama) atau kalau dalam sanad hadis dimulai dari tabaqat sahabat misalnya sahabat atau tabi’in, padahal dalam adat yang berlaku dalam sanad hadis atau kitab, penulisan sanad itu selalu dari akhir sanad (shahib al-kitab) atau kalau dalam sanad hadis seperti Imam Bukhari, Muslim, dan seterusnya hingga sampai kepada asal sanad. Ini merupakan kekhususan sanad tarekat yang juga tidak dimiliki oleh sanad hadis ataupun sanad kitab.
7.Sistem peringkasan sanad.Hal seperti ini belum ditemukan dalam sanad ini.

 

Kesimpulan dan Penutup.

Setelah menelaah perbedaan dan persamaan antara ke-3 sanad di atas, maka jelaslah bahwa masing-masing mempunyai ciri dan kriteria tersendiri yang tidak dimiliki oleh yang lain. Tulisan ini baru mencapai bentuk perbedaan dalam artian luas dan belum menyentuh inti/pokok persoalan, yaitu apa yang menyebabkan perbedaan tersebut dan bagaimana cara untuk menyatukan pandangan ketiganya dalam satu konsep, sehingga tidak lantas perbedaan metodologi menjadikan seseorang terlalu cepat dalam mengklaim ataupun ceroboh dalam memberi pandangan terhadap sesuatu.[]

 

Daftar Pustaka

al-Fadani, Muhammad Yasin bin Muhammad I’sa, Ittihaf al-MustafÎd bi gharar al-Asânîd, Indonesia: Attahariyah, cet. III, 1982.

al-Khani, Abdu al-Majid bin Muhammad, al-Hadaiq al-Wardiyyah fi Haqaiq Ajillai al-Naqsyabandiah, Irak: Dar Taras li al-Thab’ah wa Nasyr, cet. II, 2002.

al-Khathib, Muhammad A’jjaj, Ushul al-Hadis, Beirut: Dar al-Fikr, cet. III, 1975.

al-Nawawi, Muhyiddin Abu Zakaria bin Syaraf, Syarah Shahih Muslim li al-Nawawi, Mesir: Dar al-Hadis, cet. IV, 2001.

al-Qasimi, Jalal al-dien, Qawaid al-Tahdis min Funun Mushthalah al-Hadis, Beirut: Dar al-Nafais, cet. I, 1987.

al-Suyuthi, Jalal al-Dien, Tadrib al-Rawi syarh Taqrib al-Nawawi, Mesir: Dar al-Hadis, cet. I, 2004.

al-Sya’rani, Abdu al-Wahhab, al-Anwar al-Qudsiyyah fi Ma’rifah Qawa’id al-Shufiyyah, Beirut: Maktabah I’lmiyyah, t.t.

al-Syahrazuri, Abi Amr Utsman bin Abd al-Rahman, Muqaddimah Ibn Shalah fi Ulum al-Hadis, dicetak bersamaan dengan tahqiqannya oleh Abu A’bd al-Rahmân Shalah bin Muhammad bin U’waidhoh, Beirut: Dar al-Kutub Ilmiyah, cet. II, 2006.

Salim, Hasan Basri dan Shahabuddin bin Shahabuddin, Mabadi Ulum al-Hadis, Jakarta: UIN Press, 2009.

Surah, Abu I’sa Muhammad bin I’sa bin, Sunan al-Tirmidzi, Mesir: Dar al-Hadis, cet. I, 1999.

Sya’roni, Usman, Otentisitas Hadis Menurut Ahli Hadis dan Kaum Sufi, Jakarta: Pustaka Firdaus, cet. II, 2008.

Syakir, Ahmad Muhammad, al-Baits al-Hatsis Syarh Ikhtishar U’lum al-Hadis li al-Hafidz Ibn Katsir, Beirut: Dar al-Kutub ‘Ilmiyyah, t.t.

Thahhan, Mahmud, Ushul al-Takhrij wa Dirasah al-Asanid, (Riyadh: Maktabah al-Ma’arif, cet. III, 1991.

—————————, Taisir Mushthalah al-Hadis, Indonesia: Al-Haramain, cet. VII, 1977.

Zaidan, Abdul Karim, Ulum al-Hadis, (Beirut: Muassasah Risalah al-Nâsyirun, cet. I, 2008.

Tulisan Ini pernah diterbitkan di Jurnal Ulumul Hadis, diterbitkan ulang untuk tujuan pendidikan.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY