Ulang Tahun, ESKA Ngajak “Mabuk Allah”

Ulang Tahun, ESKA Ngajak “Mabuk Allah”

246
0
Diskusi Teater ESKA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (5/11)

Sore itu (5/11), Teater Eska lanjutkan parallel-event ke tiga. Ini adalah salah satu dari serangkaian agenda ulang tahun Teater ESKA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dengan menghadirkan Kuswaidi Syafii, Penyair dan Pengasuh Pondok Pesantren Maulana Rumi, obrolan di pelataran Teater ESKA tersebut berlangsung hangat dan beberapa kali diselingi tawa hadirin.

Kuswaidi memaparkan fenomena kesenian. “Ketika orang-orang membatasi diri dengan definisi, dengan pemahaman tentang seni, maka orang ini masih memilah-milah, itu seni, itu bukan. Orang yang tenggelam dalam samudara kebaikan, menyaksikan segala-galanya adalah peristiwa seni. Tidak ada selain peristiwa seni.”

mabuk allah“Ketika orang telah tenggelam dalam samudra ilahi, efeknya sangat banyak. Seluruh partikel alam semesta ditekuk menjadi sebuah partikel debu. Dan hentangan waktu yang sangat panjang ditekuk menjadi satu waktu kekinian.” Ini mirip seperti pandangan hidup seorang sufi. Kuswaidi memang menyakini setiap sufi adalah seorang seniman, tapi tidak seluruh seniman adalah seorang sufi.

Mabuk Allah adalah buah dari perjalanan rohani. Orang yang telah mabuk Allah akan merasakan nikmat kebaikan. Itu sebuah prosesi menggapai Jannatul Af’al. “Ketika orang telah merasakan nikmat kebaikan, maka perintah semakin tidak bermakna. (hanya ada keabaikan)” ujar Kuswaidi. (lebih lengkap download rekaman diskusinya di sini.)

Ghoz T.E, anggota Teater ESKA, mengatakan ulang tahun teater ESKA kali ini adalah bentuk pembacaan mereka atas perjalanan komunitas ini selama 35 tahun. Telah banyak generasi demi generasi dilahirkan lewat proses berkesenian di teater kampus ini. “Dalam pembacaan tersebut, kami memang melihat bahwa keislaman dapat menjadi salah satu identitas dalam berkesenian,” ujarnya.

Acara Puncak Ulang Tahun Teater ESKA digelar pada 12-14 November 2015. Tiga hari disiapkan untuk menggelar berbagai kegiatan. Mulai dari bedah buku antologi puisi “Lonceng Kerbau”, “Bait-bait Mulatazam”, “Pesona Pantai Keabadian” sampai Pertunjukan-pertunjukan tari dan musik. Salah satu agenda utama dalam acara tersebut adalah E(K)skavasi (gelar Arsip dan Kesenian Teater ESKA). “Tak bisa dinafikan bahwa umur ESKA yang sudah tidak muda lagi ini telah melahirkan banyak karya dari masing-masing generasi. Di ulang tahun ini, kami melihat arsip adalah upaya membaca sejarah masa lalu itu,” ujar Ghoz.[]

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY