Ulasan Kitab Tauhid, Kitab Fathul Majid

Ulasan Kitab Tauhid, Kitab Fathul Majid

1897
0

Pengantar Redaksi:

Kajian tauhid adalah salah satu kajian penting dalam pelajaran agama Islam. Kajian ini akan melengkapi ajaran-ajaran lain, semisal fikih, tasauf dan lain-lain. Kesemua kajian ini berkontribusi untuk membangun keutuhan pemahaman kita akan Islam. Kajian tauhid di rubrik Ceramah akan dibawakan Andrial Putra. Ia adalah alumni sekaligus pendidik di Madrasah Tarbiyah Islamiyah Canduang.

Adapun bahan kajian tauhid dalam rubrikasi ini adalah kitab Fathul Majid. Pemilihan kitab ini dikarenakan kepopuleran kitab ini sebagai salah satu kitab kajian tauhid di pondok-pondok pesantren. Andrial Putra akan mengulas kitab ini secara beransur-ansur setiap minggunya.

Mukaddimah

Kitab Fathul Majid tidak asing lagi dikalangan dunia pesatren, termasuk Tarbiyah Islamiyah. Orientasi kitab ini menitikberatkan pada kajian ketauhidan (uluhiyyah) sebagai pengejewantahan dari paham-paham ahlusunnah wal jama’ah yang bercorakkan Asy’ariyyah. Kelahiran kitab ini merupakan ukiran pena ketulusan dari seorang ulama besar Indonesia asal tanah Jawa Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi al-Bantani r.a (lebih dikenal dengan Syekh Nawawi al-Bantani). Tarbiyah Islamiyah dalam lembaga pendidikannya yang tecover dalam instansi pendidikan Madrasah Tarbiyah Islamiyah mengambil kitab ini sebagai salah satu literatur pokok kajian ketauhidan. Sebagaimana yang dikemukakan Syekh Nawawi al-Bantani r.a sendiri, kitab ini lahir sebagai syarahan (penjabaran) atas kitab Darul Farid yang dikarang oleh Syekh Ahmad an-Nahrawi r.a.

Susunan Muqaddimah yang dirilis oleh Syekh Nawawi al-Bantani paling tidak menggambarkan betapa roh ketuhanan (ketauhidan) akan menghiasi setiap pembahasan dalam kitab ini dari awal. Penyebutan seluruh sifat tuhan dalam kalimat puji, Segala puji untuk yang Maha Wujud karena Zatnya, Yang Maha Qadim, lagi Kekal, Yang Berbeda dengan makhluk, lagi Maha Kaya karena zatnya, Yang Maha esa, Maha Berkuasa, Maha Berkehendak, lagi Maha Mengetahui, Yang Memiliki kehidupan, pendengaran, penglihatan dan kalam yang qadim”, selain mencerminkan kejeniusan pengarang juga menggambarkan secara sederhana terhadap kajian yang akan dibahas secara panjang lebar dalam pokok kitab ini.

Susunan kalimat shalawat yang dipilih Syekh Nawawi al-Bantani, Salawat dan salam untuk rasul yang paling utama, orang yang jujur dalam seruan dan hukum-hukum, yang terpelihara dari seluruh larangan baik bersifat zahir maupun batin, yang menyampaikan sekalian yang wajib kita percayai, juga (salawat dan salam) teruntuk seluruh sahabat dan keluarganya”, menghimpun seluruh sifat-sifat rasul yang akan juga menjadi pokok bahasan yang tidak kalah pentingnya setelah sifat-sifat tuhan yang juga akan diuraikan secara mendalam.

Nilai-nilai ketuhanan selalu erat kaitannya dengan nilai-nilai akhlakul karimah. Itulah kiranya yang berikut hendak disampaikan Syekh Nawawi al-Bantani secara tersirat dalam rangkaian kalimat penghambaan “setelah itu maka berkata hamba yang hina, lagi terkenal dengan pendosa dan pemalas Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi semoga Allah ampuni segala keluputan keduanya” akhlakul karimah yang hendak dicontohkan Syekh Nawawi al-Bantani melalui untaian kalimat penghambaan ini bahwa kecerdasan intelektual yang dimiliki harus selalu berbanding lurus dengan kecerdasan spiritual atau apa yang lebih kita kenal dengan istilah kesolehan.

Pengakuan sebagai hamba yang hina mengindikasikan betapa aliran nilai tauhid dalam bentuk sifat Qudrat dan Qiyamuhu Binafsihi menyelimuti jiwa pengarang. Sebab kuasa Allah yang berdiri tampa butuh bantuan siapa dan apapun untuk mengatur seluruh yang ada dan yang akan ada dan bahakan yang tiada, menunjukkan keperkasaan dan kemulian sang maha pencipta sekaligus menandakan betapa rendah dan hina seluruh makhluk ciptaan yang bernaung di bawah kuasa-Nya. Kemudian kata-kata pendosa yang berikut ditulis pengarang sebagai sifat yang identik dengan dirinya bukan saja merupakan ciri khas yang bersifat individual tetapi merupakan ciri manusia secara keseluruhan yang tidak pernah terlepas dari dosa setiap harinya. Namun, kata pemalas yang berikut ditambahkan pengarang mengandung keraguan yang krusial. Tatapi ketika dikaitkan dengan sifat naluriah manusia kata ini juga mengandung motifasi baik bagi pembaca maupun bagi pengarang sendiri tentunya, untuk lebih meningkatkan kesolahan sebagai citra makhluk bertuhan.

Penghormatan sebagai makhluk beradab yang menjadi alasan prinsipil pengutusan Rasulullah Muhammad SAW dicerminkan pengarang dalam uraian tentang asal kitab dan materi pokok bahasannnya. “Ini merupakan syarah (penjabaran) yang tipis terhadap kitab Darul Farid dalam konteks ketauhidan. (Kitab ini) dikarang oleh orang yang sangat alim lagi mendalam pemahamannya, guruku dan tuanku Syekh Ahmad an-Nahrawi, semoga Allah ampuni segala kesalahannya dan Allah karuniakan kepada kita sebagian berkahnya, yang aku beri nama FATHUL MAJID FI SYARHI DARUL FARID”.

Kata-kata ini menyegarkan benak pembaca tentang warisan lama yang mesti dipertahankan adanya. Warisan dalam bentuk adab terhadap guru yang tidak mengkalkulasikan taraf kecerdasan intelektual individu. Sekaligus kata ini dan apa yang akan disebutkan pengarang berikutnya memiliki sisi kesamaan dengan yang dilakukan orang sekarang tentang pengakuan sumber sebuah karya, atau yang lebih dikenal dengan istilah Catatan Kaki, meski memiliki beberapa perbedaan. Baik penghormatan keguruan ataupun pengakuan kejujuran, sama-sama merupakan cerminan terpeliharanya aplikasi nilai-nilai ketuhanan dalam setiap susunan kalimat pengarang.

Penghormatan keguruan merupakan indikasi manusia yang menghargai ilmu pengetahuan sebagai karunia besar tuhan atau lebih terangnya mengagungkan sifat ‘Alim yang melekat pada diri tuhan dan kemudian diberikan pada makhluk sebagai anugerah yang akan dipertanggung jawabkan.[#1]

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY